SINOPSIS Goblin Episode 3 Bagian 2

SINOPSIS Goblin Episode 3 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: tvN


Deok Hwa melaporkan pencarian informasi yang ia lakukan. Eun Tak banya mengalami ketidakadilan yang dilakukan oleh bibi dan sepupunya. Ia memberikan foto orang yang sering membuat hidup Eun Tak kesulitan. Sebenarnya, Eun Tak memiliki uang asuransi ibunya sebanyak 150 juta won tapi sebelum umurnya 18 tahun, dia tidak bisa berbuat apa – apa sehingga mereka menyiksanya.


Shin menatap Deok Hwa tanpa berkedip. Deok Hwa sampai heran, kenapa dia menatapnya begitu?

“Aku kaget ternyata kau ada gunanya juga.”

Deok Hwa bangga, tentu saja, kalau mereka mempunyai uang maka mereka bisa menggali latar belakang seseorang dengan mudahnya.


Shin penasaran dengan satu foto yang terus dipegang oleh Deok Hwa. Deok Hwa menyerahkannya dengan pede, itu aku, aku tampankan?

Shin lantas membanting foto tersebut tanpa jeda. Pffft.. tak lupa dia merapikan tatanan rambutnya yang berantakan akibat membanting foto.

Deok Hwa kecewa tapi dia lebih penasaran kenapa pamannya meminta dia untuk memeriksa latar belakang mereka?

“Aku akan memerika mereka hukuman.”


Dua emas batangan sudah tergeletak diatas meja. Deok Hwa sungguh tidak percaya, apa pamannya sedang sakit? Bagaimana bisa dia menghukum orang dengan memberikan emas batangan? Lalu apa yang dirinya dapatkan?

“Kau sudah bekerja keras.”

Deok Hwa merengek, dia juga sudah membuat banyak dosa. Apakah dia tidak pantas menerima hukuman seperti itu?

Shin tidak memberikan jawaban dan menutup bukunya. Seketika emas batangan itu pun berpindah ke laci dirumah Eun Tak.

Bibi sedang pusing kepala memikirkan uang asuransi Eun Tak akan menjadi milik renternir. Ia pun masuk kedalam kamar Eun Tak dan menggeledah lacinya. Ia melotot kaget menemukan dua buah emas batangan terletak dalam laci Eun Tak.

Dua anaknya datang, mereka sama terkejutnya, ia menduga kalau Eun Tak sudah menukarkan uang asuransi dengan emas. Pantas saja dia selalu bilang tidak punya rekening.

Semalaman, mereka bertiga berusaha untuk tidak tidur dan menjaga emas batangan tersebut.

Namun keesokan harinya emas batangan itu sudah menghilang. Gyeong Mi telah membawanya kabur. Bibi dan anak laki – lakinya langsung berlarian mencari Gyeong Mi sebelum dia menghabiskan semua uangnya sendirian.

Kelakuan saudara Eun Tak tidak luput dari pengawasan Shin. Ia melihat mereka sedang bergegas mencari Gyeong Min.

Deok Hwa menemaninya didalam restoran, dia sedang menghubungi kakeknya dan memberitahukan kalau dia sedang makan dengan paman. Ia membahas masalah kartu kreditnya yang masih dibekukan... tapi baru mengucap kata “kartu kredit”, kakek sudah memutuskan sambungan telefon.


Deok Hwa mulai ngoceh pada Shin tapi Shin mengabaikannya soalnya dia sibuk menonton TV. “Dia” seharusnya seumuran dengan mereka.

“Siapa?”

“Raja yang kulindungi.”

“Apa paman seorang kasim?”

“Aku cuma Oh –si.”

Deok Hwa semakin mengasihaninya.

Shin menerawang jauh keluar jendela “Padahal saat itu masa kejayaan. Aku terbutakan oleh kekuatan dan menyalahkan semua orang. Aku tidak yakin apakah itu raja, dewa atau aku sendiri.”


Sepulangnya ke rumah, Shin nonton TV bersama Wang Yeo dan Deok Hwa. Dia meminta mereka untuk memperhatikan orang (iKON) yang sedang nampil di acara musik. Siapa diantara mereka yang merukapan jelmaan orang yang membuatnya murka?

Wang Yeo menyuruhnya melupakan saja semua itu, dendam hanya akan membuat hidupnya menjadi sengsara.

“Apa kau bahagia karena kau tidak ingat apa-apa?”

Wang Yeo diam tak menjawab pertanyaan itu. Dia bisa mengetahui kalau mereka jelmaan atau bukan kalau dia menyentuhnya, dia tidak akan tahu kalau hanya melihatnya saja.

“Kau ternyata tidak berguna.”

“Tapi, kenapa kau yakin sekali kalau dia bereinkarnasi jadi pria?”


Shin jadi berfikiran kalau mungkin orang itu berenkarnasi menjadi perempuan. Dia menonton IOI dengan penuh ketertarikan, kalau begitu mungkin dia akan segera memaafkannya. Mungkin dia punya alasan untuk melakukan semua itu.

Wang Yeo akhirnya pergi meninggalkan Shin yang mulai ikut joget Pick Me. Deok Hwa masih penasaran dengan ucapan Wang Yeo yang bisa mengetahui “sesuatu” kalau menyentuhnya. Dia meminta penjelasan tapi tidak ada yang menggubris pertanyaannya.

Wang Yeo pergi ke rumah sakit dan bertemu dengan rekan sesama malaikat pencabut nyawa. Mereka memberikan hormat layaknya junior yang baik. Salah satu hoobae yang ditemui Wang Yeo di coffe shop juga ada disana.

Ia memberikan informasi bahwa ada tim khusus yang di tugaskan untuk menangani jiwa yang hilang. Ia meminta Wang Yeo untuk mengumpulkan nama jiwa yang sampai akhir tahun.

Salah satu teman Wang Yeo bekata kalau dia tidak punya. Ia bertanya pada Wang Yeo, bukankah dia punya dua target?

“Siapa bilang targetku dua jiwa yang hilang?”

“Semua orang bilang begitu.”

Wang Yeo mengangguk saja, dia akan segera mengumpulkannya.


Ada seorang pasien kritis yang masuk ke dalam rumah sakit. Wang Yeo menemukan targetnya, ia pun permisi pergi. Seniornya memberitahukan bahwa akan ada pesta penyambutan angkata ke 23, kalau tidak datang akan mendapatkan hukuman.

Wang Yeo hanya mengangkat tangannya tanpa memberikan jawaban.


Dia menghampiri seorang dokter yang sedang sibuk memberikan pertolongan. Dokter itu mengatakan kalau dia sedang sibuk.

“Choi Yeong Jae-ssi. Usia 23 tahun. Meninggal 4 Oktober 2016 pukul 17:41. Penyebab kematian: lembur bekerja.”

Dokter itu tertegun untuk beberapa saat, dia sudah meninggal?

Tak lama kemudian, sebuah ranjang yang membawa tubuhnya lewat disana. Wang Yeo memberitahukan bahwa pasien yang ditolong oleh Dokter Choi telah selamat tapi dia meninggal.

“Syukurlah.” Ucap Dokter Choi. Ada sedikit kesedihan tapi juga kelegaan karena ia berhasil menyelamatkan pasiennya.

Saat perjalanan pulang, disepanjang perjalanan Eun Tak terus melihat hal yang berkaitan dengan goblin. Rumah makan goblin. Warung mainan goblin. Tur perjalanan goblin. Eun Tak mengayuh sepedanya semakin kencang, ia tampak begitu sedih.

Disekolah, Eun Tak terus saja memikirkan tentang Shin. Ia kembali mengingat ucapannya sendiri yang mengajak Shin untuk menikah dengannya. Pengakuan cintanya dan kenangan perjalanannya bersama Shin di Kanada.

“Entahlah. Dia bisa pergi sesuka hatinya.”

Dirumahnya, Shin juga terus memikirkan Eun Tak. Hal berkesan yang teringat dalam pikirannya adalah saat dimana Eun Tak menutup matanya, memintanya jangan melihat malaikat pencabut nyawa padahal disaat tersebut, dia tahu kalau Eun Tak begitu ketakutan pada malaikat pencabut nyawa.

Eun Tak mencari buku goblin tempat dimana dia menyimpan daun maple. Apa bukunya sudah terjual?

Disaat yang sama, Deok Hwa sedang komplain pada kasir dan meminta refund untuk bukunya. Dia mau membeli buku bukannya membeli kenangan orang lain. Deok Hwa menunjukkan daun maple yang terselip didalam buku tersebut.

Melihat daun maple tersebut, Eun Tak menawarkan diri untuk membeli buku tersebut. Deok Hwa meminta bukti kalau Eun Tak si pemilik kenangan dalam buku tersebut. Ia menunjukkan daun maple itu, tebak dari mana asal daun ini!

“Que.. aku rasa kau tidak akan tahu kalau aku mengatakannya.”

“Betul.”

Eun Tak mengucapkan terimakasih, dia pikir ia akan kehilangan daun itu selamanya. Deok Hwa tahu kok, tapi bukankah umur Eun Tak sudah terlalu tua untuk membaca buku semacam itu?

“Aku hanya sedang melakukan penelitian. Kau sendiri? Kenapa kau mau membelinya?”

“Aku tahu seseorang goblin.”

Eun Tak terkejut, beneran?

“Tentu saja tidak, bodoh."

Deok Hwa meminta bayaran atas bukunya. Eun Tak pikir buku itu sudah menjadi buku bekas jadi... dia ingin meminta potongan harga. Deok Hwa menolak. Eun Tak cengengesan memohon potongan harga.

“Menyingkirlah!” ucap Deok Hwa mengambil uang ditangan Eun Tak.

Sepulangnya ke rumah, Deok Hwa dikejutkan dengan kehadiran kakek dirumah Shin. Kakek mengaku kalau dia mengantarkan pakaiannya dari tempat binatu. Tapi sepertinya ada tamu disini?

Deok Hwa langsung berkhianat dan berlagak tidak mengenali Wang Yeo “Oh benar, tamu. Tuan, kau siapa?”


Sontak Wang Yeo mendelik ke arah Deok Hwa. Bertepatan saat itu, Shin keluar dari kamarnya. Dengan berat hati, Wang Yeo menunjuknya “Aku temannya.”

Ah, Deok Hwa langsung membuat cerita. Dia yakin kalau Wang Yeo datang kesana untuk merayakan perpisahannya dengan Shin.

Wang Yeo melambai kaku “Selamat tinggal. Jaga dirimu. Jangan pernah kembali. Berbahagialah. Sampai kau mati disana.”

“Kau bisa pergi sekarang. Kita ini bukan teman. Keluar dari rumahku. Jangan pernah kembali.” Balas Shin dengan senyum kemenangan.

Deok Hwa meminta Shin tidak bersikap seperti itu pada temannya sendiri.

“Kau pikir kau itu pengecualian? Kau juga keluarlah darisini.” Tambah Shin.

Wang Yeo dan Deok Hwa duduk dipelataran seperti orang hilang. Deok Hwa terus menggerutu sebal, bagaimana bisa paman berbuat seperti itu pada saudaranya sendiri?

Sontak Wang Yeo menatapnya tajam dan lantai didekatnya membeku. Deok Hwa minggir ketakutan, dia meyakinkan kalau dirinya tidak akan berlama – lama disini kok.

“Kuharap juga begitu. Kalau tidak, kau akan ikut bersamaku. Kesuatu tempat.”

“Tempat yang bagus, 'kan? Atau bukan?”

Wang Yeo hanya balas menatapnya. Deok Hwa semakin ngeri sendiri.


Shin membuka pintu dan menyuruh Wang Yeo masuk ke rumah. Dengan penuh kemenangan dia mengatakan “1:0”. Ia juga menyuruh Deok Hwa untuk pulang kerumahnya, siap – siap kena marah!

Wang Yeo masuk dalam rumah dengan penuh kemarahan dan dendam.

Deok Hwa menuntut penjelasan, kenapa dia kena marah? Apa paman sudah menceritakan semuanya pada kakek? Seberapa banyak yang ia ceritakan? Teganya!

“Memangnya kau juga sudah minta izin padaku buat menyewa rumahku? Haa!” ucap Shin menutup pintu.

Deok Hwa kesal bukan kepalang, dia tidak akan pergi kemanapun. Dia akan tetap disini, meninggal disana dan menghantui rumah ini.


Sehabis mandi, Shin keluar sambil bernyanyi ria merayakan kemenangannya. Tapi dia langsung terjatuh ketakutan saat melihat darah bertuliskan “Good Night. Kita impas. 1:1.”

Shin berteriak ketakutan, dia meminta maaf karena sudah berbuat salah. Ini darah kuda kan? Dia meminta Wang Yeo untuk menyingkirkan kain itu.


Sunny memanggil Eun Tak, ia bertanya apakah Eun Tak menginap di restoran ayamnya? Ia pun menunjukkan sikat gigi milik Eun Tak dan beberapa note yang sudah Eun Tak corat – coret.

Eun Tak meminta maaf, dia sudah berniat mengatakannya tapi dia belum punya waktu yang tepat.

Rupanya Eun Tak sudah berulang kali menulis note untuk Sunny tapi berulang kali dia mengurungkan niatnya pula. Dia bingung kata – kata apa yang akan ia ungkapkan pada Sunny hingga akhirnya ia membuat bertumpuk – tumpuk note yang ia corat coret.


Yah, Sunny tidak bertanya lebih lanjut toh tidak akan menyelesaikan masalah. Dia akan membantu semampunya, dia juga memberikan gaji mingguan untuk Eun Tak. Kalau gajinya bulanan, mungkin Eun Tak tidak bisa melakukan apapun. Selama tinggal disini, Eun Tak bisa mandi di sauna dan makan disana.

Eun Tak mengucapkan terimakasih, ia berterimakasih karena Bos sangat keren.

Sunny menyuruhnya untuk pergi ke sauna tapi sebelum itu dia mau dibuatkan cumi lebih dulu.

Eun Tak membakar cumi sambil terus melamun, melamun memikirkan saat Shin menolongnya. Tanpa ia sadari, cuminya terbakar hingga mengeluarkan api. Reflek Eun Tak meniupnya.

Dia baru sadar kalau dia baru saja memanggil Shin “Tidak! Tidak! Aku tidak sengaja!”

Shin sedang membaca buku, ia tersenyum senang melihat api mengepul ditangannya.

Setelah berteleportasi, Shin langsung pose cool sambil membaca buku.

“Jadi kau sedang membaca buku?”

Shin masik sok keren, selalu ada buku disekitarnya. Dia menyukai musik dan juga karya seni lainnya. Eun Tak meminta maaf karena telah mengganggu waktu membaca Shin.

“Betul. Kenapa kau menggangguku?”

Eun Tak menegaskan bahwa dia tidak memanggil Shin. Dia tidak sengaja meniup api karena cumi yang ia panggang terbakar. Lagipula bukankah dia akan pergi, kenapa dia belum juga pergi?

Dengan ngotot, Shin mengatakan kalau dia sedang mengemasi buku – bukunya sekarang. Kalau begitu dia mau pergi mengemasi barang – barangnya. Eun Tak memanggilnya.. hei..

“Kau itu selalu bicara padaku waktu aku mau pergi.”

“Kau lah yang selalu mau pergi waktu aku mau bicara. Aku mau meminta sesuatu padamu.”

Shin menolak untuk memberikan uang 5 juta won (oh baek) padanya. Eun Tak terkejut, awalnya dia mengira Shin mau membuat pengakuan (go baek) padanya. Jadi sebenarnya apa yang harus ia lihat supaya dia berharga untuk ahjussi?


Shin tidak mau mengatakannya, kalau dia bilang nanti Eun Tak bohong dengan mengatakan kalau dia melihatnya. Tidak, Eun Tak tidak akan pernah bilang melihatnya meskipun dia melihatnya. Tapi mungkin Eun Tak yakin kalau Shin akan memperlakukannya dengan baik kalau dia bilang dia melihatnya.

Sekarang jawab pertanyaannya, Shin memegang dadanya, apa Eun Tak melihat sesuatu yang menyakitkan pada dirinya?

Eun Tak melirik dari atas sampai bawah, “Aku mengerti sekarang. Tapi aku mau pergi, aku sedang sibuk.”

“Hei, kau mau makan steak? Kau mau apa?” bujuk Shin.

“5 juta won.”

“Bukannya kau sibuk? Pergi sana!”

“Kalau begitu, daging saja. Ayo!” ajak Eun Tak sepakat meskipun masih menunjukkan wajah jual mahalnya.

Eun Tak makan steak dengan lahap sampai potongan terakhir. Shin memperingatkan kalau dia sudah makan sampai habis, apa dia bisa melihatnya?

“Iya... Kelihatan enak sekali. Terimakasih makanannya.”

“Aku bertanya apa kau bisa melihatnya. Kau tidak bisa melihatnya, 'kan?”

“Apa kau barusan marah padaku?” Eun Tak menunjukkan wajah super polos.

Shin merasa bersalah, dia meminta maaf karena sudah membuat Eun Tak mengira dia marah padanya. Ia menawarkan untuk membeli jus segar sekarang.

Shin mempersilahkan Eun Tak untuk memilih jus manapun. Eun Tak mengaku sudah kenyang jadi dia ingin membeli jus dengan ukuran paling besak. Hehe.

Wang Yeo tetiba nongol dan memesan jus, dia juga meminta Shin untuk membayarkannya. Namun Shin tersenyum manis pada pelayan, dia tidak akan membayarkan jus untuk pria yang itu.


“Kau kan tidak suka buah.” Ucap Wang Yeo memperhatikan jus milik Shin. Dia sepertinya tidak punya uang soalnya dia cemberut karena ga bisa dapetin jus.

“kau sendiri? Apa kau mau membunuh seseorang di sekitaran sini?”

Eun Tak langsung menanggapi dramatis, jangan – jangan yang mau mati adalah dirinya? Apa makan steak tadi juga jebakan yang mereka buat untuknya?

Wang Yeo menyangkal, bahkan sekarang dia mendukung Eun Tak. Ia menatap Eun Tak dalam – dalam sambil membatin (atau menghipnotis) “Kau bisa melihat pedangnya. Kau bisa menarik pedangnya?”


Keseriusan tatapan Wang Yeo langsung buyar saat Eun Tak bertanya kenapa dia mendukungnya? Wang Yeo heran, bagaimana bisa dia begitu? Kenapa dia tidak bisa mengendalikannya?

“Dia orang yang tak bisa ditebak.” Ucap Shin.

Wang Yeo merasa dokumen pelengkapnya masih kurang, dia harus menggali lebih banyak informasi. Tiba – tiba alarmnya berbunyi, dia pamit karena dia punya janji.


Tapi ngomong – ngomong, Eun Tak merasa kalau Ahjussi itu sangat tampan. Apa semua malaikat pencabut nyawa itu tampan sehingga orang mau mengikutinya? Apa semua Malaikat Pencabut Nyawa itu tampan?

“Begitu saja tampan kau bilang?” Shin kesel.

“Ya. Dia tampan.”

“Kalau aku?”

Eun Tak melirik malu “Ahjussi.. kau hanya sedap dipandang saja.”

Shin langsung merebut jus Eun Tak, dia tidak boleh meminumnya lagi nanti malah kembung.


Eun Tak menunjuk seseorang dibelakang Shin, ahjussi disana juga tampan. Sepertinya semua pengunjung disana memang tampan. Shin mengalihkan perhatian pada pria itu dan Eun Tak kembali mengambil jus miliknya.

Ahjussi yang ditunjuk oleh Shin tadi sedang cengengesan, ber –sms ria dengan kekasihnya.

Shin menggunakan kemampuannya untuk membuat seorang wanita jatuh hati pada ahjussi tadi. Dia sengaja menyangkutkan headset si wanita sampai ponselnya terjatuh kemudian membuat rambut wanita itu terkait ke kancing ahjussi.

Shin mengakhirinya dengan membuat seorang pria jatuh dan menyenggol di wanita. Si wanita hampir terjatuh namun Ahjussi berhasil menangkapnya. Mereka berdua merasakan sebuah keanehan.

“Apa kau sudah punya pacar?” tanya Ahjussi.

“Belum orang tuaku sangat ketat.” Jawab si wanita bohong, dia tadi masuk ke cafe sambil telfonan dengan pacarnya. Si Ahjussi juga mengaku kalau dia tidak punya pacar padahal tadi sedang SMS –an.

Eun Tak kagum melihat kemampuan Shin dan betapa romantisnya kejadian tadi. Dia berbisik semangat “Popo.. popohae..”

Wah.. Eun Tak tidak menyangka kalau Shin bisa menjadi cupid juga. Shin mengaku kalau setiap abadnya, ada orang yang bereinkarnasi dengan wajah yang sama. Dia mengenal kehidupan sebelumnya dari pria tersebut.

“Memang hidupnya dulu seperti apa? Apa dia menyelamatkan bangsa kita saat masa krisis?”

Bukan. Dulunya pria itu adalah seorang peternah yang hidup menumpang pada petani miskin.


Eun Tak tidak setuju dengan apa yang dilakukan Shin, tidak adil kalau dia melindungi orang jahat. Shin tidak melindungi mereka, dia hanya melindungi pria dan wanita yang menjadi pasangan dua orang tadi. Pasangan mereka begitu mempercayai mereka tapi mereka berbuat semacam itu. Dia harap dua orang itu saling menyakiti satu sama lain.

“Kau keren sekali. Tapi boleh aku bertanya kenapa kau bicara seperti seorang aktor dalam drama sejarah?”

Shin tertegun sesaat, dia juga tidak tahu.


Eun Tak jadi penasaran dengan kehidupannya yang sebelumnya, apakah dulunya dia pendosa hingga dirinya hidup seperti ini sekarang? Apakah ini hukumannya untuk terlahir sebagai pengantin goblin?

Shin belum bisa memastikan karena Eun Tak masih begitu muda untuk mengevaluasi kehidupannya. Dan dia juga bukan pengantin goblin.

Benar. Eun Tak tetap bahagia meskipun hidupnya sering mengalami pasang surut. Dia senang ibunya sangat menyayanginya. Ia senang sudah punya payung. Dia juga senang bertemu dengan ahjussi... Eun Tak tersenyum.. tapi buru – buru mengubah ekspresinya cemberut “Senang pada awalnya saja.”


Sepertinya Eun Tak punya dendam, Shin sekali lagi tanya apakah Eun Tak bisa melihatnya atau tidak?

Eun Tak menolak untuk menjawab “Ibuku selalu berkata begini. Kita harus memperhatikan dimana kita berada sebelum kita mengambil langkah kita harus selalu tahu kemana tujuan kita. Kau tahu maksudnya kan?”

“Tidak.”

Artinya, Eun Tak akan berpisah dengan Shin disini. Dia akan berjalan ke arah sana jadi selamat tinggal. Tapi baru beberapa saat mengambil langkah, Eun Tak berbalik menatap Shin seolah dia punya sesuatu yang ingin dikatakan.

Malam harinya, Shin mesem – mesem sendirian mengingat pujian dari Eun Tak. Kata “Kau keren sekali” membuat Shin terus tersenyum lebar.

Deok Hwa tiba – tiba datang membuat Shin terkejut. Mana paman satunya? Dia pasti sedang lembur saat ini. Deok Hwa bilang kalau sepertinya dia harus menjadi malaikat pencabut nyawa suatu hari nanti. Saat dilorong kematian, mungkin dia akan disambul oleh paman pencabut nyawa itu.

Shin memastikan kalau Deok Hwa tidak akan bisa melakukannya, hanya orang berdosa besar yang menjadi pencabut nyawa. Eh... tapi darimana Deok Hwa tahu kalau Wang Yeo adalah pencabut nyawa?


Deok Hwa jelas mengetahuinya apalagi saat Paman membuat ruangan berawan dan guntur lalu Paman Pencabut Nyawa hanya berdiri dengan tenang. Paman juga pernah bilang kalau Pencabut Nyawa bisa mengetahui masa depan dan dia pernah dengan Paman Pencabut Nyawa mengatakan kalau dia punya kemampuan mengetahui masa depan.

“Bukan itu saja. Lihat saja kulitnya yang pucat itu dan bibir merah berdarahnya itu. Terus kenapa dia selalu berpakaian warna hitam?”

Deok Hwa menoleh dan disana sudah ada Wang Yeo “Dan dia seperti artis” ucap Deok Hwa buru – buru pamit. Wang Yeo berteleportasi ke depan pintu, bagaimana Deok Hwa tahu kalau dirinya adalah pencabut nyawa?

“Mana mungkin aku tidak tahu waktu kau melakukan hal-hal seperti itu? Kau saja barusan teleport disini. Kalian itu harus berhati-hati. Kalian terlalu cuek dengan sekeliling kalian.”


Wang Yeo menunjuk Shin yang sudah bemulut besar. Shin menolak disalahkan, sifatnya saja seperti itu. Mungkin saja dia seorang pembunuh dikehidupan sebelumnya. Sontak Wang Yeo speechless, dia tampak kecewa “Kau bicara seolah kau tak berdosa sama sekali!”

Wang Yeo masuk dalam kamarnya dengan kesal. Deok Hwa yakin kalau Paman sudah menyinggung perasaannya, bagaimana ini?

“Kau tak lihat kalau aku juga tak tahu harus bagaimana?” balas Shin.

Wang Yeo mencoba bekerja tapi dia tidak bisa berkosentrasi. Shin masuk dalam kamarnya kemudian mengucapkan beberapa kalimat puitis yang maknanya dia ingin meminta maaf. Tak perduli apapun kehidupannya dimasa lalu, tidak akan menjadi masalah baginya.

“Benarkah?”

“Apapun yang kau lakukan, aku hanya tetap membencimu seperti dulu, tidak kurang tidak lebih.”

Sontak Wang Yeo tertawa mendengarnya tapi dia langsung kembali bersikap cool, ini bukan waktunya untuk tertawa.

Deok Hwa curhat pada kakeknya, dia tidak menyangka kalau dua paman tersebut bisa cukup akur. Kakek sudah tahu akan hal itu, dua orang itu memang agak bergantung satu sama lain. Yang satu bisa melupakan masa lalu dan yang satunya tidak. Kakek dan Deok Hwa adalah tempat peristirahatan mereka.

Wah ternyata kakek sudah mengetahuinya, Deok Hwa khawatir kalau sampai identitas kedua pama itu ketahuan.

Kakek menyuruh Deok Hwa mengkhawatirkan dirinya sendiri. Deok Hwa merutuk kesal menerima hukuman dari kakeknya, berjongkok seperti sedang duduk dengan tangan lurus kedepan. Dia pasti bukan cucu kakeknya, kalau dia cucunya maka kakek tidak akan berbuat seperti ini padanya. Dia akan balas dendam.

Plak. Kakek langsung menggeplak kepala cucunya menggunakan buku.

Deok Hwa datang ke bangunan yang dihadiahkan kakeknya di ulang tahunnya ke –delapan. Dia akan menggunakan uang itu untuk menghasilkan uang. Ia akan memulai melakukan penggusuran dengan restoran ayam yang tutup disana.

Sekretaris Kim memberitahukan kalau disana ada tulisan “close” artinya restoran itu masih buka. Dan yang jelas, dia berada disini bukan untuk mengikuti perintahnya. Dia berada disana karena Ketua menyuruhnya untuk mengikuti Deok Hwa.


Wah.. Deok Hwa pikir Sekretaris Kim sedang berpihak padanya. Ya sudah, kalau ada seorang wanita yang datang dan bertanya, katakan saja kalau dia bekerja disana. Sekretaris Kim menolak soalnya Deok Hwa tidak bekerja disana.

Kakek pasti senang karena Sekretarisnya sangat jujur. Tapi.. Deok Hwa menunjukkan gaya imut sambil memohon supaya dibuatkan kartu kredit baru.

Sekretaris Kim cuma memicingkan mata melihat gaya Deok Hwa.

Wang Yeo berjalan mengendap – endap saat melihat Shin. Shin masih bisa menyadari keberadaannya, mau kemana?

“Supermarket.”

Shin mengejek alasannya yang semakin payah saja. Wang Yeo menunjukkan tas belanja yang telah ia persiapkan, apa kau tidak lihat aku membawa tas belanja?

“Aku tidak tahu kalau itu tas belanja.”

Wang Yeo kesal bukan kepalang melihat Shin menaruh daging dalam belanjaannya. Kenapa dia mengikutinya? Apa dia begitu tidak mempercayainya? Shin membenarkan apalagi Wang Yeo selalu ketahuan berbohong padanya. Dia bilang ke cafe tapi nyatanya malah pergi mengincar dia (Eun Tak).

“Aku tidak akan membawa anak itu. Aku malah mendukungnya sekarang.”

“Kenapa kau mendukungnya?”

Wang Yeo mendukungnya supaya Eun Tak bisa mencabut pedangnya. Kalau dia bisa mencabutnya maka dia bisa mati, dia lebih baik mati daripada cuma pergi ke luar negeri. Meskipun dia tidak melihat pedangnya sekarang tapi ia berharap adanya keajaiban.

Shin marah dan menunjukkan kekuatannya.

“Ada orang banyak melihat, tahu.”

Shin langsung mengatur nafasnya.

Ia menyuruh Wang Yeo untuk berjanji tidak akan mengganggu Eun Tak. Jika dia coba – coba membawanya maka dia akan datang.

“Kapan kau akan pergi?” Wang Yeo jadi sedih.

“Lusa. Puas?”

Wang Yeo seperti benar – benar sedih akan kehilangan Shin.

Seusai membayar belanjaan, Shin berjalan keluar supermarket duluan. Tapi saat Wang Yeo keluar, dia tidak menemukan keberadaan Shin.


Shin berteleportasi ke rumah Eun Tak dan tak lama kemudian Eun Tak datang kesana. Eun Tak langsung menarik Shin keluar, bagaimana dia ada disana? Bagaimana kalau sampai bibi melihatnya? Apa bibinya sudah tidur? Sedang apa dia ada dirumahnya? Apa dia datang untuk menemuinya?

“Mungkin. Aku pasti memikirkanmu hanya sesaat.”

“Kenapa? Aku bukan pengantimu dan aku juga tidak cantik. Aku hanya biang masalah. Kau selalu menyelamatkanku. Kenapa kau datang menemuiku?”

“Aku merindukanmu.”

Shin memberitahukan bahwa rumahnya sudah kosong, dia bisa masuk. Tapi kenapa juga dia kembali? Eun Tak mengaku kalau dia ingin mengambil barang.

“Barang apa?”

“Ya barang.”

Barang itu adalah bunga soba yang diberikan Shin waktu itu. Karena Eun Tak tidak mau mengatakannya, Shin pun pamit pergi.

Saat Shin mempersiapkan barang – barangnya, dia membuka kotak tua yang menyimpan sebuah gulungan.


Ketika dalam perjalanan, pedagang cantik (nenek) menawarkan barang – barang dagangannya. Wang Yeo menolak untuk beli. Wanita itu menawarkan supaya Wang Yeo bisa membelikan untuk pacarnya, ada jepit rambut dan cermin.

Dan saat Wanita itu menunjukkan cermin, cahaya menyorot ke arah matanya.

Setelah terkena cahaya itu, Wang Yeo tertegun melihat cincin giok yang dijual disana. Tapi saat Wang Yeo berniat mengambil cincin tersebut, Sunny datang mengambilnya duluan. Sunny terkejut saat melihat Wang Yeo meneteskan air mata, apa dia menangis karena dia mengambil cincinnya duluan? Dia mau ini?


Wang Yeo mengangguk polos.

Sunny tidak mau memberikannya begitu saja, ini tidak gratis. Dia meminta nomor telefon Wang Yeo. Wang Yeo mengaku kalau dia tidak punya ponsel. Sunny berfikir kalau dia miskin atau kalau tidak, dia tidak mau memberikan nomor telefonnya saja. Kalau begitu, cincin itu akan menjadi milik Sunny saja.

Kalau begitu, Wang Yeo saja yang meminta nomor telefon Sunny. Sebelum itu, Sunny minta berkenalan. Ia tebar pesona dengan mengibaskan rambutnya “Sunny.”

Wang Yeo salah dengar “Sun Hee?”

Baiklah, Sunny membiarkannya untuk memanggilnya Sun Hee. Toh itu juga cuma nama alias saja.

Pedagang bertanya siapa yang mau bayar? Keduanya tidak menjawab, mereka masih terus bertatapan.

“Tak penting siapa yang bayar. Lagipula kalian berdua akan saling membayar dengan harga yang berat.” Ucap Wanita yang sudah berubah wajah menjadi nenek. (Apa mungkin bagi orang biasa, si wanita kelihatan seperti nenek – nenek?”

Dirumahnya, Shin membuka gulungan yang menunjukkan wajah Ratu muda dimasa lalu.


Shin mengingat kembali masalalunya, dia telah terlambat dan menemukan Ratu sudah meninggal. Ia berkeliling di paviliunnya dan menemukan lukisan yang menggambarkan diri Ratu.

Ia menangis memperhatikan lukisan tersebut.

Ia meninggalkan istana dan membakar paviliun tersebut. Kenangannya terakhirnya bersama sang Ratu adalah ketika ia meminta Shin untuk tetap maju melawan Raja.

Sampai saat ini, Shin masih meneteskan air mata ketika mengingat kejadian itu.

Hantu yang biasa mengganggu Eun Tak terus memintanya untuk ikut bersamanya. Eun Tak mengabaikannya dan sibuk membersihkan kaca. Hantu itu jadi kesal diabaikan, dia akan mengganggu orang disekitar Eun Tak saja.


Ia pun menghampiri Sunny, belum sempat menyentuhnya tapi Sunny sudah mengumpat duluan. Hantu itu malah takut sendiri, menakutkan sekali!

Sunny tanya apakah wajahnya buruk sekali? Biasanya pria – pria langsung menghubunginya. Eun Tak tahu maksud Sunny, si pria cincin itu.. tenanglah..

“Aku tidak bisa tenang. Dia pria paling tampan yang pernah kulihat. Tapi, kenapa dia belum meneleponku?”

“Pria tampan memang selalu sok jual mahal. Lupakan saja.”

Mana bisa Sunny melupakannya apalagi cincin yang diambil pria itu cantik.

Dirumahnya, Wang Yeo juga tengah memikirkan Sunny dan nomor telefon yang ia berikan.


Sunny meminta pena padanya. Wang Yeo menyuruh Sunny untuk mengatakannya saja, ia akan mengingatnya. Sunny menganggap Wang Yeo lucu dan menuliskan nomornya dikertas, sebelum memberikan nomor telefonnya, dia juga memberikan kecupan pada kertasnya.

Meskipun sudah mendapatkan uang, Bibi tidak hanya meninggalkan rumah itu tapi juga menjualnya. Rumah itu telah disewakan oleh pemilik barunya, dia menyuruh Eun Tak untuk mengambil saja barang yang ia butuhkan. Bibinya tidak membereskan barangnya setelah menjual rumah ini.

Eun Tak memperhatikan bunga soba kering pemberian Shin. Ia menyimpan setangkai bunganya di dalam buku kemudian menyimpan barang – barangnya di loker.

Guru menyuruh Eun Tak untuk mengeluarkan semua barang dalam tasnya. Ia langsung menuduhnya perokok setelah melihat banyak korek api didalam tasnya. Eun Tak mencoba menjelaskan bahwa dia sama sekali tidak merokok, benda itu ia gunakan untuk hal lain.


Bu Guru tetap tak percaya dan mencium tangannya. Tangannya tidak bau rokok tapi Bu Guru tetap menuduhnya, dia begitu tetili sampai ia mengatasi bau ditangannya. Anak pintar memang menakutkan, dia bersikap seolah menyedihkan.

Teman yang melaporkan Eun Tak tersenyum disudut ruangan memperhatikan Eun Tak kena hukuman.

Wang Yeo sedang membuka kaleng soju tapi Shin langsung menggunakan kekuatannya dan mengambilnya. Mereka berdua sama – sama heran karena tidak biasanya saling minum. Shin mengaku kalau alkohol, wanita dan daging adalah hal terbaik. Dia cukup kaya saat menjadi seorang panglima.

“Kau dulu panglima?”

“Kalau dulu, pasti kau tidak akan berani bicara padaku.”

“Kau saja tidak tahu aku dulu jadi apa 'kan?”

“Memang kau dulu apa? Apa kau dulu seorang Raja?"

Wang Yeo tidak mau menjawab, dan balik tanya apakah Shin sudah selesai mengemasi barangnya? Ia berharap Shin selamat sampai tujuan. Shin juga berjanji akan menghubunginya.

“Aku tidak punya ponsel.”

“Karena itulah aku mengatakan padamu.” Jawab Shin enteng. Hehe.


Wang Yeo cengo melihat kelakuan aneh Shin, dia terus membuka keluar masuk pintu tanpa alasan. Apa sekaleng bir bisa membuatnya langsung begitu? Dengan sedih Shin mengatakan bahwa dia tidak tahu dimana keberadaannya.

“Siapa?”

“Dia tidak akan memanggilku. Dia tidak akan memanggilku, jadi aku tidak bisa menemukannya. Aku bukannya sok sombong, tapi aku biasanya bisa melakukan apapun. Tapi sekarang aku tidak bisa menemukan gadis itu. Semua hartaku ini tidak ada nilainya bagiku.”

Wang Yeo menyarankan supaya Shin menelfonnya. Iya juga sih, tapi Shin tidak punya nomornya. Haha.. (nasib ahjussi ganteng, satu punya nomor ga punya hape. Satu punya hape tapi ga punya nomor ceweknya).

Eun Tak sedang meratap merindukan Ibunya ditengah kesedihan. Saat ia tengah bercerita, hujan tiba – tiba mengguyur dengan lebatnya. Hidupnya baikan hujan.


Tapi tiba – tiba air yang mengguyur tubuhnya terhalang sesuatu, saat Eun Tak mendongak rupanya ada Shin yang tengah memayungi. “Ini karena dia sedang sedih.”

Hujannya telah berhenti “Apa hujan turun kalau Ahjussi sedang sedih? Seberapa sedihnya kau kalau kau mau mendatangkan badai topan?”

“Itu bukan kehendakku. Kalau itu, kehendak planet.”

Eun Tak mengatakan kalau dia sama sekali tidak memanggil Ahjussi kali ini. Sama saja dengan Shin, dia juga sedang sibuk menyiapkan ini itu.

Ini semakin gawat, Eun Tak mungkin akan terus memikirkan Ahjussi kalau ada hujan. Shin bertanya kenapa Eun Tak ada disana? Eun Tak mengaku kalau dirinya sedang mengalami rentetan kesialannya.

Shin menyuruhnya untuk melanjutkan ceritanya.


Banyak yang bilang, dalam kehidupan ada empat tahap. Yang pertama, tahap menanam benih. Tahap kedua adalany menyiram benihnya. Yang ketiga adalah tahap memanen hasilnya dan kemudian menikmati hasilnya.

“Kau tahu itu darimana? Itu biasanya yang dikatakan oleh malaikat pencabut nyawa pada orang mati.”

Eun Tak mengetahuinya karena dia mendengar cerita dari para hantu. Dan yang membuatnya merasa sedih, kenapa dia tidak pernah melewati tahap memanen benihnya? Tidak ada kemajuan.

“Aku turut sedih.”

Eun Tak menganggap kalau Shin begitu formal, dia bisa saja membelai kepalanya atau mengelus bahunya. Tangannya begitu lelah dan ingin beristirahat. Dia menengadahkan tangannya, siapa tahu ada yang mau memberikannya sesuatu.

Karena tak bereaksi, akhirnya Eun Tak memberikan daun maple laminatingnya. Catik kan?


Shin pun mengelus rambut Eun Tak, ini sebagai salam perpisahan karena dia akan berangkat besok.


Dirumah, Wang Yeo murung mempertanyakan keberangkatan Shin. Shin dengan malas sudah mengatakannya berulang kali tapi kenapa dia terus bertanya.

“Karena itu membuatku senang.” Jawab Wang Yeo dengan wajah sedih.

Bel berbunyi, Wang Yeo mengira kalau Shin mendapatkan SMS. Shin memberitahukan kalau itu adalah suara bel, bel –nya baru berbunyi setelah 60 tahun silam. Keduanya sama terkejut, mereka ketakutan dan menyuruh Wang Yeo untuk melihat keluar dinding.

“Aku tidak bisa.”

“Malaikat pencabut nyawa macam apa kau, melihat dinding tembus pandang.”



Akhirnya Wang Yeo keluar rumah dan menemukan Eun Tak ada disana. Dia mengaku sebagai pemilik rumah itu, untuk apa datang kesana, apa dia sudah membuat janji?

Eun Tak ketakutan, mungkin dia sudah salah rumah. Ia buru – buru berbalik dan mendapati Shin sudah ada tepat dihadapannya. Shin langsung menyuruh Wang Yeo menyingkir. Wang Yeo dengan sinis berkata kalau dia juga risih melihat pertengkaran diantara pasangan, ia harap semuanya berakhir baik.


“Kenapa kau ada di sini? Kau tahu darimana tempat ini?”

Eun Tak mengaku kalau dia tahu dari para hantu. Tapi dia tidak menyangka kalau Shin serumah dengan pencabut nyawa.

“Kenapa kau di sini?”

Eun Tak ingin mengatakan sesuatu yang belum sempat dia katakan sebelumnya. Dia terus bertanya mengenai apakah dirinya melihat sesuatu, lalu bagaimana kalau dia melihatnya?

Shin meremehkannya, dia paling tidak bisa melihatnya.

“Kata siapa aku tidak bisa melihatnya? Satu, jika aku melihatnya, apa kita langsung menikah? Dua, jika aku melihatnya, maukah kau meminjamiku 5 jt won? Tiga, jika aku melihatnya, apa kau akan tetap disini?”

Eun Tak memohon supaya Shin bisa tetap tinggal di Korea. Shin menyuruh Eun Tak membuktikan ucapannya. Eun Tak menolak sebelum Shin memilih 1 diantara tiga pilihan tersebut.

“Kau itu tidak bisa melihatnya.”

Eun Tak meyakinkan bahwa dia bisa melihatnya, ia menunjuk ke pedang di dada Shin “pedang itu...”

Seketika cuaca berubah mendung dan petir menggelegar.

e)(o
Note:
Bener - bener deh bikin penasaran, siapa reinkarnasi dari Raja? 


Cincin giok hijau yang digunakan dibeli oleh Sunny, yang sekarang ada ditangan Wang Yeo sepertinya adalah cincin giok yang digunakan oleh Ratu. Dan kenapa juga nenek bilang kalau keduanya akan membayar dengan berat? Siapa juga Sunny itu...

Selain itu, nenek sepertinya juga berperan besar dalam setiap kejadian dalam drama ini. Mulai dari kejadian kematian Ibu Eun Tak, dia yang memperingatkannya supaya dia mengucapkan doa dengan sepenuh hati. Dia juga yang sudah menyelamatkan eun tak saat Wang Yeo mengejarnya.
Seolah dia memang menyelamatkan Eun Tak sejak awal.

Heol.. tapi bromance drama ini emang bikin ngakak. Setiap kali pengen skip perbincangan antara Wang Yeo dan Shin.. akhirnya malah tetep ke tulis juga.. Episode drama ini super panjang yah.. 1 setengah jam tapi emang ga terasa banget. 3 Episode awal.. daebak!!

Rating ep 1: 6% Ep.2: 7% dan episode 3: 12% waaaah...

5 Responses to "SINOPSIS Goblin Episode 3 Bagian 2"

  1. suka sama scenenya kim shin, deuk hwa, sama wang yeo๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ mereka cocok saat bersama๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ tapi aku kepo ama wang yeo, kenapa dia nangis pas ngelihat cincin gioknya trus si nenek kok bilang "mereka akan membayar dg harga berat" maksydnya apa coba๐Ÿ˜ฏ bener2 bikin penasaran. makasih kakak sinopsisnya, ditunngu kelanjutannya kakak๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

    ReplyDelete
  2. Semangaaaaaat yaaa mbak
    Aku selalu menantikan episode selanjutnya.
    Fighting .....oennie

    ReplyDelete
  3. Gak sabaaar tgu episode selanjutnyass

    ReplyDelete
  4. dugaan doank sih ya ini menurutku, si wang yeo itu reinkarnasi nya si raja muda karena si raja kan punya dosa besar tuh dan malaikat pencabut nyawa adlh seseorang yang memiliki dosa besar dan mungkin sunny itu ratu muda?

    ReplyDelete
  5. Thank you sinopnya... Saya udah nonton ep 1-2. Lanjut ep 3 baca di sini. Ampuh buat ngobatin rasa penasaran..hehe. Semangat ya buat lanjutan post berikutnya.. Oh ya kalo saya sih lebih seneng dan ngedukung banget kalau percakapannya goblin sama malaikat mautnya ga di skip, itu seru soalnya (maunya...tapi yg capek nulis kan situ ya...hehe, jadi 'Semuaa..terserah padamu.."*sambilnyanyi). Ngomong-ngomong saya juga sependapat sama komenter lainnya kalau ada kemungkinan besar mantan raja itu si Mas Wang Yeo. Selain clue dari plot cerita: cincin ratu, dosa besar, amnesia, juga ada satu hal menarik menurut saya yaitu bagde (atau apa sih namanya itu?) bentuk mahkota berantai yang suka dipakai Wang Yeo. Barangkali itu kerjaannya penata kostum yg pingin ngisengin penonton dengan ngasih clue dari awal kalau dialah rajanya (mahkota=raja), atau mungkin memang ada hubungannya sama jalan cerita (atau ternyata ga da sama sekali....). hehe..sotoy banget ya saya... Yah, apapun itu sekali lagi makasih PER-ssi!! fighting!

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR