SINOPSIS The Legend of The Blue Sea Episode 7 Bagian 2

SINOPSIS The Legend of The Blue Sea Episode 7 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: KBS2

Keesokan paginya, Ketua Heo menerima kabar kalau Manager Nam mengalami kecelakaan akibat mabuk saat mengemudi. Chi Hyun terkejut mengingat Manager Nam tampaknya bukan tipe yang akan mabuk selama berkendara.

Ibu menyela ucapan Chi Hyun, dia tak boleh hanya menilai seseorang berdasarkan penampilannya. Ia kemudian bertanya pada Ketua Heo bagaimana dengan kondisinya?

Ketua Heo rasa kondisinya cukup parah karena sampai sekarang belum sadarkan diri. Ibu pun mengajaknya untuk menjenguk Manager Nam bersama – sama.


Chi Hyun terus memperhatikan Ibunya dengan curiga. Ia terkejut saat melihat ibunya tersenyum kecil sekilas.

Di kepolisian, Detektif Hong tengah membahas Ma Dae Young yang sudah menghilang tanpa jejak setelah tiga bulan keluar penjara. Ia menduga kalau pelaku pembunuhan di Haewondong adalah Dae Young. Rekannya membenarkan, tapi mereka tak punya bukti apapun. Selain itu korban adalah seorang rentenir, jadi kemungkinan banyak yang membencinya dan merencanakan pembunuhan dengan baik.

Detektif Hong masih yakin kalau pelakunya adalah Dae Young. Kejadiannya di siang bolong tapi tak seorang pun menjadi saksi. Apalagi di TKP tidak ada sidik jari maupun jejak DNA. Pelakunya adalah seseorang yang sudah handal membunuh.

Atasannya datang menggeplak kepala Detektif Hong, seharusnya sekarang dia bertugas untuk menangkap pelaku pemalsuan identitas di Yeoyido. Orang itu sudah menghapus semua jejas CCTV –nya.

Detektif Hong tak perduli, dia akan menangkap orang itu setelah ia berhasil menangkap Ma Dae Young. Atasannya makin kesal, banyak yang salah paham karena kejadian tersebut, banyak yang membuat fansclub untuk Detektif Hong karena ketampanannya tapi mereka langsung kecewa setelah melihat profil Detektif Hong yang sebenarnya.

“Kenapa mereka kecewa? Dia dan aku kelihatan mirip!” ujar Detektif Hong.



Joon Jae cs tengah menggali informasi mengenai Ahn Jin Joo, menurut SNS –nya dia mengatakan akan menghadiri pembukaan SMP International. Jin Joo mungkin akan pergi sekitar pukul 2 setengah, supir keluarganya tengah cuti jadi dia akan mengemudi sendiri.

Tae Oh akan menghubunginya untuk mengalihkan perhatian.

Dalam perjalanan, Jin Joo menerima kabar kalau putrinya berada di peringkat pertama dalam lisan bahasa inggris. Jin Joo yang sibuk menerima telefon tak menyangka kalau dihadapannya ada mobil yang sedang berhenti mendadak.

Saat Joon Jae keluar dari mobilnya dengan gagah, Jin Joo langsung terpesona dengan penampilannya. Ia memberikan kartu namanya karena sedang sibuk, dia bisa menghubunginya jika terjadi sesuatu.

Jin Joo pun kegirangan mendapatkan kartu nama Joon Jae.

Nam Doo merencanakan pertemuan kedua antara Joon Jae dan Jin Joo berada diseminar. Joon Jae menyetujui rencana tersebut. Chung tiba – tiba datang mengejutkan mereka. Joon Jae buru – buru berbenah dan mengajak yang lainnya untuk pergi.

“Kemana?”

“Kita mau kerja.” Jelas Nam Doo.

“Berangkat kerja rupanya. Kerja apa?”


Meskipun awalnya bingung, Joon Jae mengibaratkan kalau pekerjaannya adalah merebut hati seseorang untuk menyadarkan mereka dari kesalahannya. Seseorang yang mendapatkan kekayaannya diluar batas – batas hukum. Karena orang itu mengalami hal tersebut, mereka akan berbuat tindakan dan membagikan kekayaannya. Demi negara.


“Pekerja pegawai negeri? Aku melihatnya di TV, orang-orang yang bekerja demi negara itu pegawai negeri.”

Bukan itu, tidak semua orang yang bekerja untuk negara adalah pegawai negeri.

“Jadi, Heo Joon Jae kerjaannya lebih bagus ya dibanding pegawai negeri?” Chung berbisik dengan tatapan semakin terpesona “Heo Joon Jae, aku tahu itu.”

Chung pun berjalan pergi sambil berjingkat bahagia.

Setelah kepergian Chung, Joon Jae jadi heran sendiri kenapa dia harus membuat – buat alasan? Apa seharusnya dia mengatakan saja kalau mereka adalah penipu. Nam Doo tidak begitu menyukai sebutan penipu, lebih baik mereka mencari nama yang keren. Ia pun mengajak keduanya untuk bergegas, mereka sudah terlambat.


Detektif Hong kembali ke wilayah rumah Joon Jae dan melihat ada beberapa tanda silang yang ditinggalkan seseorang disetiap pintu rumah. Detektif Hong mencurigai tanda tersebut kemudian mengikutinya.


Disaat yang bersamaan, Chung keluar dari rumah. Dae Young sudah menantinya dipojokan dan mengikutinya begitu ia keluar rumah. Detektif Hong yang tadinya mengikuti tanda tersebut tanpa sengaja melihat Dae Young, mereka pun memutuskan untuk menguntitnya.


Dae Young yang sadar diikuti akhirnya kabur. Ia bersembunyi disebuah kedai dan mengecoh para detektif hingga mereka salah mengejar orang lain. Ia pun keluar dari kedai dengan menggunakan pakaian yang sudah berubah.

Chung sibuk memilih – milih pakaian barunya dengan bahagia. Dia sepertinya mengabil ditempat orang meninggalkan pakaian bekas dan semacamnya gitu.


Tak jauh dari sana, Yoon Ha sedang dibully oleh teman – temannya. Teman Yoon Ha mengatakan kalau sampai ada seseorang yang berhutang disekolah maka menyebabkan lingkungan sekolah menjadi buruk. Ibu Yoon Ha juga janda kan? Katanya anak semacam Yoon Ha pasti punya pendidikan yang berantakan. Anak itu bilang kalau anak seperti Yoon Ha tak boleh berteman dengan mereka.

“Aku juga tidak mau berteman denganmu. Kau bisa minggir?”

Anak itu tak memperbolehkan Yoon Ha berjalan dilingkungan ini. Yoon Ha tak perduli dan melewati mereka begitu saja.

Anak itu belum puas sehingga ia mengejar Yoon Ha dan mendorongnya hingga jatuh. Yoon Ha akhirnya jadi kesal, ia pun membalas perbuatan anak nakal tadi. Anak itu semakin berang, ia berniat untuk memukul Yoon Ha.

Sayangnya sebelum memukul, Chung datang dan mengangkat anak itu ke udara. Anak itu ketakutan, ia memohon supaya diturunkan. Chung menolak kecuali anak itu berjanji untuk tidak menyakiti temannya sendiri.

Anak itu ternyata adalah Elizabeth, Putri Ahn Jin Joo. Dia menangis dihadapan ibunya sehingga Jin Joo marah dan mengajaknya pergi menemui orang yang sudah membuatnya menangis.


Di Toko, Yoon Ha mengucapkan terimakasih atas apa yang Chung lakukan padanya. Chung penasaran masalah perceraikan yang mereka bicarakan tadi, apa maksudnya?

“Perceraian itu saat orang-orang yang menikah berpisah.”

“Kenapa mereka berpisah? Mereka tidak saling mencintai, lalu kenapa mereka menikah?”

Yoon Ha rasa ayah dan ibunya saling mencintai ketika ia masih kecil. Namun perasaan mereka berubah seiring berjalannya waktu. Taukah Unni kenapa Yoon Ha rajin les? Dia takut kalau sampai ia tidak belajar dengan baik, ibunya yang sekarang menyayanginya mungkin tidak akan menyayanginya lagi.


Setelah menyelesaikan minum yogurt, Chung melihat ada Jin Joo yang memperhatikannya dari luar toko dengan tatapan menyelidik. Chung pun berjalan biasa keluar dari toko namun Jin Joo langsung terkagum – kagum akan penampilannya.

Rambutnya yang berantakan tapi terkesan mempesona. Style yang tumpang tindih aneh tapi terasa menyatu ketika dikenakan oleh wanita dihadapannya. Sepatunya juga berbeda, dalam batinnya ia bertanya – tanya, sejak kapan Dior dan Channel bekerja sama?


Jin Joo hanya membatin tanpa mengucapkan kekagumannya, ia bertanya apakah benar kalau Chung yang telah membuat anaknya menangis?

Chung berkata kalau semua ini karena Elizabeth yang sudah mengganggu Yoon Ha. Dirinya adalah teman Yoon Ha. Ia memperingatkan Elizabeth yang sudah berjanji bahwa dia tidak akan mengganggu temannya lagi.

Chung pun mengajak Yoon Ha pergi. Namun sebelum itu, Jin Joo menghentikannya untuk bertanya dimana Chung melakukan perawatan kulit? Jangan katakan kebohongan kalau kulitnya natural dan bagus sejak lahir.

Terdiam sejenak, Chung ingat kalau dia sering berendam dilaut dan mengoles wajahnya menggunakan lumpur di laut. “Bukan di Seoul. Tapi sangat jauh darisini.” Jawabnya.

Jin Joo masih menggerutu penasaran, jauhnya dimana? Dinegara mana?

Akhirnya rencana Joon Jae cs batal karena Jin Joo memutuskan untuk beristiraha dirumahnya. Nam Doo membuka akun SNS –nya dan ternyata Jin Joo lagi penasaran produk kolaborasi Channel dan Dior yang dikenakan oleh Chung. Hahaha..

Joon Jae mengeluh karena misinya kali ini gagal. Nam Doo memberikan kunci mobilnya karena dia mau pergi ke suatu tempat lebih dulu. Joon Jae bertanya kemana dia akan pergi?

“Kau tidak perlu tahu.”

Saat Joon Jae masuk ke dalam mobilnya, Ibu yang sedang melintas pun melihat Joon Jae. Ia terkejut dan berusaha mengejar mobil Joon Jae yang melaju “Apa mungkin dia.. Joon Jae-ku?”

Joon Jae penasaran kenapa Tae Oh mau menjadi penipu padahal dia punya bakat ditempat lain. Tae Oh mengaku kalau dia hanya punya satu hal yang ia kuasai saja. Ia pun balik bertanya kenapa Joon Jae bekerja seperti ini?

“Seseorang haruslah bertemu dengan orang yang tepat.” Ucapnya.

Flashback


Joon Jae remaja menghabiskan waktunya untuk mencari sang ibu. Ia bahkan menceritakan kisahnya di SNS untuk mencarinya.

Sampai suatu ketika dia bertemu dengan Nam Doo yang mengaku kenal dengan Ibu Joon Jae. Dia adalah seorang putri juragan kaya tapi orangtuanya meninggal, dia tak sengaja menandatangani kontrak dengan rentenir dan jatuh miskin.

Joon Jae yang masih polos pun mempercayai kisah penipu Nam Doo dan meminta bantuannya untuk menemukan Ibu. Nam Doo bertele – tele bicara ngalor ngidul tapi intinya dia minta bayaran untuk pekerjaan tersebut. Joon Jae pun memberikan uang yang dimilikinya.

Tentu saja Nam Doo membawa uang Joon Jae tanpa memberikan kejelasan. Joon Jae terus menanti dan menanti kemunculan Nam Doo namun sosok yang ia nanti tak kunjung datang.

Akhirnya suatu malam, Nam Doo kembali datang ke restoran yang sama dengan korban penipuan selanjutnya. Joon Jae langsung keluar menubruk Nam Doo, dia menyuruh ahjumma yang akan menjadi korban untuk tak memberikan uangnya. Dia penipu!!

Joon Jae dengan sekuat tenaga mencoba untuk menjagal Nam Doo.

Mereka berdua akhirnya makan mie bersama di kedai pinggir jalan. Joon Jae mengatakan kalau dia sudah menunggu Nam Doo disana selama setengah bulan. Nam Doo terkejut akan keteguhan hati Joon Jae, dia mengajaknya untuk bekerja sama karena ia menyukai seseorang yang agresif. Dia harus punya uang untuk menemukannya, kalau dia terus mencari seperti ini maka hanya kakinya yang akan sakit.


Tapi kapan uangnya akan cukup kalau yang mereka kerjakan hanya merampas uang anak muda sepertinya? Joon Jae menyarankan supaya mereka merampas milik orang kaya saja sehingga lebih efisien. Ia bersedia melakukan penipuan sampai uangnya cukup untuk membelikan Ibunya rumah dan menemukan ibunya.

Nam Doo tertawa puas mendengar apa yang dikatakan Joon Jae.
Flashback end,

“Tapi uangmu sudah cukup buat belikan rumah untuk ibumu.” Ucap Tae Oh.

Joon Jae membenarkan, hanya Ibunya saja yang belum bisa ia temukan. Nam Doo Hyung sudah berusaha keras untuk mencarinya tapi belum juga berhasil.

Nam Doo sedang memeriksa hasil X – ray kaki Chung, orang rumah sakit bilang kalau hasilnya tertukar. Dokter rasa dua X-ray itu berasal dari kaki orang yang sama, X-ray menunjukkan patah tulang dan yang satu sedang dalam tahap penyembuhan.

Harusnya pembengkakan menghilang dulu baru terjadi pelekatan antar tulang tapi kasus orang ini, tulangnya melekat dulu barulah pembengkakannya menghilang. Yah tapi pada dasarnya pasien akan sembuh dalam waktu 12 – 16 minggu.

“Bagaimana kalau sembuh dalam seminggu?”

“Apa itu masuk akal?” ketus Dokter tak percaya.


Nam Doo menceritakan apa yang ia temukan itu pada Shi Ah. Shi Ah ngeri mendengarnya, memangnya wanita itu monster atau apa? Meskipun dia kehilangan ingatan dan tampak bodoh, tapi pasti ada hal aneh tentangnya. Nam Doo sependapat meskipun dia belum bisa memahami hal itu.

Saat sedang ngobrol, Shi Ah menerima kabar kalau pemilik dari vas mermain yang ia temukan bernama Kim Dam Ryung.

Sontak Nam Doo ingat dengan gelang giok yang dimiliki Joon Jae, disana tertulis nama Dam Ryung. Ia memastikan dengan bertanya lebih lanjut pada Shi Ah tentang nama pria tadi.

“Ya. Dia dulunya pejabat kota di Heupgok Hyun di Provinsi Gangwon. Kenapa?”

“Tidak. Lanjutkan saja pekerjaanmu.”

Shi Ah pun bangkit pergi dan memperingatkan supaya Nam Doo terus mengawasi Joon Jae dari wanita itu.


Chung memperhatikan sungai dan bersiap untuk terjun untuk mencari ikan. Seorang penjaga langsung menahannya dan mengira kalau dia berniat bunuh diri (Cameo Jo Sung Suk).

Untuk sejenak keduanya bertatapan cukup lama, mereka berbarengan menutup mulut dengan terkejut. Mereka seolah menggunakan telepati kemudian mengangguk satu sama lain.


Jeong Hoon memberikan segelas teh untuk Chung. Chung terus menatapnya seolah ingin berkomunikasi lewat telepati. Jeong Hoon menolak, dia tidak mau menggunakan telepati soalnya dia sudah hampir lupa cara bicara disana. Lebih nyaman untuk menggunakan bahasa.

Tapi sungguh dia tak menyangka bisa bertemu dengan Putri Duyung disini. Chung juga sama, dia kira hanya dia saja yang Duyung di Seoul.

“Tidak, tapi apa yang kau lakukan tadi sebelumnya?”

Chung mengaku kalau dia kelaparan dan berniat menangkap ikan. Jeong Hoon menghela nafas, rupanya dia belum tahu yah.


Jeong Hoon menunjukkan mutiara yang ia kumpulkan. Chung jadi heran sendiri, kenapa dia mengumpulkan air mata? Jeong Hoon menjelaskan bahwa air mata mereka bernilai uang disini. Ketika ia menangis, dia bisa memasang kantung kresek dibawah matanya untuk mengumpulkan air mata. Hahaha.

Tapi air mata yang mahal adalah air mata saat ia menangis tersedu – sedu. Jadi daripada menangis kecil lebih baik menunggu sampai dia bisa menangis dengan airmata sebesar mungkin. Yang paling mahal adalah air mata yang berwarna pink, air mata bahagia. Jeong Hoon sendiri jarang sekali menangis bahagia, dia baru mengalaminya sekali.

Chung berfikiran untuk sering menangis dan memberikan airmatanya pada Joon Jae.

“Heo Joon Jae itu siapa?” tanya Jeong Hoon.

Chung menggambarkan Joon Jae sebagai pria yang bekerja untuk kepentingan negara. Dia pria yang baik dan keren. Loh... Jeong Hoon terkejut karena ia mengira Chung datang ke daratan untuk melihat cahaya. Memangnya dia sudah ke sini berapa lama?

“Satu bulan.”

“Orang yang kau sukai itu, sebelah pihak atau kedua belah pihak? Maksudku, apa kau saja yang menyukainya atau kalian saling menyukai?”

Untuk sekarang, hanya Chung yang mencintainya.


Jeong Hoon mendesis kesal, itulah kenapa dia selalu bilang pada ikan – ikan supaya memberitahukan duyung untuk tidak mengikuti pria. Kenapa ikan – ikan itu tak mengatakannya pada mereka? Mungkin mereka lupa.
“Kenapa aku tidak boleh? Kenapa aku tidak boleh mengikuti manusia ke sini?”
Karena, duyung mempunyai batas waktu. Selama duyung tinggal didaratan, hatinya lama kelamaan akan mengeras. Dan cara  satu – satunya untuk bisa terus bernafas bila orang yang ia cintai juga mencintainya.

Belum terlambat, Jeong Hoon menyarankan supaya Chung kembali ke laut. Atau setiap duyung pasti punya motif untuk datang ke daratan, lalu apa yang pria itu katakan?

“Dia mengajakku pergi ke restoran spesial. Dia juga mengajakku melihat kembang api.”


Haduh.. Chung ini gampangan sekali, masa dengan begitu saja dia sudah jatuh cinta. Tapi bagaimanapun Jeong Hoon tak bisa membiarkan Chung mati begitu saja, haruskah dia membantunya?

“Caranya?”

“Semua pria itu... merupakan jiltuui hwasin (Jealously Incarnate). Jika kau tidak tahu, ingat saja ini. Kecemburuan adalah cara tercepat untuk mencintai.”

Jeong Hoon akan membuat Chung menjadi cantik, tapi lebih dulu mereka harus mengumpulkan uang.


Mereka berdua pun mengumpulkan uang dengan menangis, keduanya nonton drama sedih dan memasang kantung kresek dibawah mata. (mereka nonton Master Sun)


Setelah berdandan cantik, Jeong Hoon mengantar Chung ke rumah. Joon Jae terkejut akan penampilan Chung apalagi dia pulang bersama seorang pria.

“Selamat malam. Aku sudah banyak dengar tentangmu. Aku Yoon Jeong Hoon. Mohon bantuannya.”

“Bantuan apa?”

Jeong Hoon memanggil Chung dengan sebutan “Sayang” sampai membuat Joon Jae semakin heran. Dia dengar kalau Sayangnya tinggal bersama Joon Jae, tapi setelah bertemu langsung dengannya, Jeong Hoon mengaku tenang sekarang.


Sebelum berpisah, Jeong Hoon memuji leher Chung kemudian memintanya untuk mengikat rambutnya karena lehernya cantik. Ia pun menyibak rambut Chung dengan penuh kasih sayang. Joon Jae tak tahan melihatnya dan menyuruh Chung untuk segera masuk rumah.

Sayangnya Chung masih berlagak kangen – kangenan dan meminta Jeong Hoon pergi duluan. Jeong Hoon menolak, ia meminta Chung masuk duluan. Keduanya eyel – eyelan hingga Joon Jae benar – benar kesal... atau lebih tepatnya cemburu.

“Dia bilang masuk! Masuk kau.” Joon Jae menyeret Chung.


Jeong Hoon sekali lagi membuka pintu dan meminta waktu sebentar. “Ckrik..” Jeong Hoon gombal “Aku barusan memotretmu. Aku pasti akan melihatnya waktu aku merindukanmu malam ini.”

Chung menirukan apa yang dilakukan Jeong Hoon, keduanya nampak seperti pasangan yang lovey dovey. Joon Jae bener – bener panas kali ini dan menyeret Chung kedalam rumah.

Ketua Heo menjenguk Manager Nam, ia tak menyangka kalau Manager Nam adalah seseorang yang akan mabuk dalam perjalanan. Istrinya juga paham betul dengan suaminya, dia berfikiran kalau kecelakaan ini bukanlah kecelakaan biasa.

Istri Ketua Heo menyuruh Istri Manager Nam untuk tidak berfikiran semacam itu, polisi sudah memutuskan kalau kecelakaan ini karena Manager Nam mabuk.

Malam harinya, seseorang berjalan menghampiri Joon Jae sambil mengendap – endap. Namun Joon Jae yang cukup peka pun tersadar dan bangun dari tidurnya, ia langsung membanting Nam Doo yang mencoba meraih tangannya.

Nam Doo akhirnya meminta supaya dia bisa melihat sekali lagi giok yang digunakan oleh Joon Jae. Ia mendengar kalau Shi Ah menemukan artefak kepemilikan Dam Ryung. Dia hanya memastikan saja, kalau sampai benar Dam Ryung yang dimaksud adalah orang yang sama maka gelang Joon Jae bisa bernilai 6 M won lebih.

Apa Nam Doo Hyung tahu kenapa dia menyimpan gelang tersebut? Karena Joon Jae berniat mengembalikannya saat Chung pergi. Dia tahu kalau orang macam Nam Doo tak akan membiarkannya begitu saja kalau dia mengembalikan gelang itu pada Chung sekarang.

Nam Doo heran, ada yang aneh dengan Joon Jae belakangan ini. Kenapa dia begitu berperikemanusiaan?

“Keluar.”

Nam Doo hanya tertawa getir. Sepertinya apa yang dia katakan bukan se –simple itu, dia seperti mencurigai sesuatu.

Joon Jae jadi ingat dengan mimpinya kemarin, seorang pria yang mirip dengan dirinya tengah mencari seseorang dengan nama Se Hwa. Pria yang mirip dengannya itu menggunakan gelang giok yang sama.

Joon Jae menghela nafas dalam, kenapa hal yang aneh terus menimpanya setelah bertemu dengan si bodoh (Chung) itu?


Keesokan harinya, Chung sudah berdandan cantik dengan rambut diikat sampai membuat Tae Oh dan Nam Doo terpesona. Tapi Joon Jae yang datang langsung menarik ikat rambutnya. Ia menyuruhnya untuk berganti pakaian.

“Kenapa? Ini 'kan pakaian yang pernah kaubelikan.”

Memangnya Chung pikir Joon Jae membelikannya untuk dipakai, Joon Jae memberlikannya supaya pakaian itu digantung dilemari.

“Apa itu masuk akal?” tanya Nam Doo.

Tentu masuk akal, Joon Jae juga menyuruhnya untuk tidak mengikat rambut dan memakai celana.

“Hei, kenapa kau yang mengatur rambut dan pakaiannya? Memangnya kau gurunya?” bela Nam Doo.

Tidak mau menerima alasan apapun, Joon Jae menyuruh mereka bertiga untuk mengikuti kata-katanya karena ini adalah rumahnya. Kalau memang tidak suka, mereka bisa pergi!


Saat sedang makan, Chung juga bersikap layaknya wanita anggun, mengelap ujung bibirnya dengan santai. Nam Doo bertanya apakah dia mau pergi? Ia akan mengatarkannya. Joon Jae langsung menyergah ucapan Nam Doo, Chung harus membersihkan rumah soalnya rumahnya berdebu.



Chung pernah melihat Tae Oh melakukannya, ia menyarankan supaya Tae Oh saja yang gantian bersih – bersih. Tae Oh juga tidak menolak dan menawarkan diri. Joon Jae tidak memperbolehkannya, harus Chung dan tidak boleh ada debu yang tersisa dirumahnya.

Chung membersihkan kaca sambil memperhatikan air kolam. Dia sungguh ingin masuk kedalamnya.

Joon Jae yang sudah di parkiran kelupaan membawa ponsel, ia pun akhirnya kembali ke rumah.

Setelah memastikan tidak ada siapapun, Chung memberanikan diri untuk masuk ke dalam kolam dan berubah menjadi Putri Duyung. Saat tengah berendam, ia ingat dengan ucapan Jeong Hoon yang membahas mengenai kepunahan Putri Duyung. Kau tahu kenapa?

Chung tak tahu alasannya. Jeong Hoon menjelaskan bahwa alasannya adalah karena manusia selalu berubah sedangkan duyung tidak. Seorang yang disukai Jeong Hoon dulunya berjanji akan mencintainya selamanya, tapi nyatanya dia langsung meninggalkan Jeong Hoon saat mengetahui identitasnya sebagai duyung.

Jeong Hoon menasehati supaya Chung jangan sampai ketahuan. Dia harus menjaga baik – baik rahasianya ini.


Chung mendengar suara langkah kaki mendekat, saat ia melihat ke ruangan rupanya Joon Jae sudah kembali ke rumah dan dia terlihat seperti akan menuju kolam renang. Chung terperangah kaget.
Epilog:

Sebelum pergi, Joon Jae menghentikan Jeong Hoon dan bertanya mengenai pekerjaannya. Jeong Hoon mengaku kalau dia adalah pegawai negeri, meskipun gajinya tidak banyak tapi pekerjaannya stabil. Bisa dikatakan pekerjaannya adalah untuk membantu orang lain.

“Maaf, kalau boleh tahu apa pekerjaanmu?” tanya Jeong Hoon.


Joon Jae tak bisa menjawab. Jeong Hoon menyuruhnya tak usah menjawab kalau memang tidak bisa, yang terpenting dia titip Chung. Joon Jae kesal, tanpa dibilang juga dia akan menjaganya.

“Kau pikir waktu dan kesempatan selalu ada untukmu bukan? Tapi nyatanya tidak.” Ucap Jeong Hoon membuat Joon Jae bingung.

Joon Jae mengatainya yang sok keren.

Malam harinya, Joon Jae malah browsing di internet untuk mencari kiat menjadi pegawai negeri.

-oOo-

3 Responses to "SINOPSIS The Legend of The Blue Sea Episode 7 Bagian 2"

  1. Wah ada yg cemburuuuu niiih,,
    Jo jungsuk ternyata putra duyung

    ReplyDelete
  2. ngakak baca kecemburuan si joon jae.. 😅😁😄

    ReplyDelete
  3. Coba jo jungsuk jadi pemeran tetap ya, lucu banget soalnya. Apalagi pas ngajarin sae wa nangis buat ngumpulin mutiara, haahahahaha

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR