SINOPSIS Something About 1% Episode 12 Bagian 2

SINOPSIS Something About 1% Episode 12 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: DramaX


“Apa kakek benar – benar mengenalkan wanita itu pada Jae In?”

Kakek membenarkan kalau dia memang telah mengenalkan mereka. Tapi ibu berfikir kalau Joo Hee sepertinya lebih cocok dengan Jae In. Joo Hee jelas akan banyak membantu, menikah dengan seseorang yang berbeda kedudukan akan banyak menyebabkan masalah. Jae In memang dingin tapi dia anak yang baik bagi Ibu. Dia menjaga keluarganya di Kanada dan merawat almarhum kakaknya tapi dia tak pernah memamerkan kebaikannya.

Ibu ingin melihat putranya di urus oleh seseorang, ia tak mau melihatnya terus berjuang sendirian.


Melihat makanan tidak membuat Da Hyun berniat memakannya. Dia terus memainkan spagetti dengan pikiran entah melayang kemana. Hyun Jin sadar kalau disaat seperti ini bukanlah waktu bagi mereka makan spagetti, lebih baik mereka pergi minum saja. Ayo!

Da Hyun benar – benar melampiaskan perasaan galaunya dengan meminum bergelas – gelas bir sampai Hyun Jin khawatir dia akan mabuk. Da Hyun tetap memesan dua gelas lagi, ia menggerutu sebal, kenapa dari sekian banyak orang dan harus Jae In yang ia sukai? Dia pemarah dan kadang kelakuannya membuat Da Hyun benci.

Memang begitu nyatanya, Hyun Jin menyuruhnya untuk memikirkan seseorang yang punya 99 kebaikan dan satu keburukan. Satu keburukan itu membuatnya sangat membenci pria itu. Tapi bayangkan pula seorang pria yang punya 99 keburukan dan satu kebaikan, tapi sebuah kebaikannya itulah yang mampu mempesona Da Hyun. Itulah karisma yang dimiliki Jae In dan mungkin hanya Da Hyun yang menyadarinya.

Hyun Jin yakin kalau Jae In merasakan hal yang sama, dia pasti sedang mabuk – mabuk disuatu tempat sambil memikirkan Da Hyun. Da Hyun tidak yakin, pria itu sangat sibuk dan tidak punya waktu memikirkan orang lain.

Saat sedang menenggak bir, tiba – tiba seorang wanita mabuk menyenggol Da Hyun hingga minumannya tumpah. Da Hyun menanggapinya santai dan pergi meninggalkan Hyun Jin untuk mencuci tangan.

Hyun Jin mendengar getaran ponsel dan mengira ponselnya menerima telfon. Rupanya malah ponsel Da Hyun yang bergetar, ia pun dengan iseng mengangkat panggilannya.


Diluar bar sudah ada Jae In yang menunggu mereka ketika keduanya keluar. Da Hyun langsung menghambur ke arahnya sambil sempoyongan gaje. Jae In dengan khawatir bertanya berapa banyak dia sudah minum? Sangat banyak! Tapi Da Hyun meyakinkan kalau dirinya tidak mabuk.

“Kau jelas-jelas mabuk! Lalu kenapa kau mengabaikan telponku lagi?”

Supaya Jae In marah! Da Hyun sangat marah karena Jae In jadi sebaliknya, dia ingin membuat Jae In marah supaya menjadi adil. Adil! Adil!

Ada sesuatu yang ingin Jae In bicarakan dengan Da Hyun, ia pun meminta Hyun Jin untuk pulang sendiri. Hyun Jin tak yakin meninggalkan mereka berdua, semuanya pasti akan menjadi menarik. Tapi baiklah, ia harap malam mereka panas dan bergairah. Pfft..

Jae In bilang kalau dia cuma mau mengantar Da Hyun saja. Ia akan menghubungi Hyun Jin kalau sudah mengantarnya sampai ke rumah.

Hyun Jin melambaikan tangannya pada Da Hyun. Da Hyun menyahutnya sambil sempoyongan.

“Aku iri padamu.” Ucap Hyun Jin ikut senang.

Sesampainya dirumah, Jae In memberikan sebotol air mineral tapi Da Hyun menolaknya.

“Terserahlah! Terserah! Aku tidak penasaran. Kau sangat kejam!” gumam Da Hyun.

Jae In menghela nafas, sebenarnya dia minum berapa bir sampai mabuk begini. Dengan bicara tak karuan, Da Hyun pikir dia minum empat gelas. Tapi dia yakin kalau dirinya tidak mabuk kok.

“Ya, kau baik-baik saja, baiklah..” ucap Jae In.

Da Hyun mengkhayal, alangkah lebih baik-nya kalau mereka berkencan tanpa kontrak.. bukan.. maksudnya lebih baik lagi kalau Jae In bukan dari keluarga chaebol. Jae In mengerti betul apa yang dimaksud oleh Da Hyun, tapi apakah dia mau bersamanya melewati jalan sulit tersebut? Apa dia mau bersamanya sampai akhir?

Da Hyun mengusap pipi Jae In, dia mengaku ingin benar – benar melakukan “Itu”. Tapi dia juga berfikiran kalau mereka tidak seharusnya melakukan “itu”. Da Hyun yang sudah kelelahan tertidur di kursi.


Jae In pun memindahkannya ke kasur, ia memperhatikan wajah polos Da Hyun yang tengah tertidur sambil tersenyum.


Keesokan paginya, Da Hyun terbangun akibat suara ponselnya. Ia mengangkatnya dengan setengah sadar dan Hyun Jin bertanya apa yang mereka lakukan semalam. Apa mereka berdua tidur bersama?

Apa sih yang Hyun Jin katakan? Da Hyun yang nyawanya belum sepenuhnya kembali pun akhirnya memutuskan panggilan.

Tapi baru sekejap memejamkan mata, Da Hyun langsung bangkit dengan wajah terkejut. Ia teringat akan kilasan kejadian semalam. Dia tak begitu ingat akan pembicaraannya tapi sepertinya ia membicarakan sesuatu yang penting.

Baru sadar akan kejadian semalam, bel pintu rumahnya sudah berdering dan Jae In menantinya didepan pintu. Da Hyun kelabakan membenarkan rambut singanya dan mengelap sudut bibirnya, siapa tahu habis ngiler. Dia mengecek bau mulutnya kemudian barulah ia berani membuka pintu.


Da Hyun membuka pintunya kecil – kecil “Ada apa?”

“Ganti bajumu! Ayo kita sarapan.”

“Pagi hari begini?”

“Sekarang sudah jam 7, saatnya untuk sarapan.”

Da Hyun baru mengecek jam –nya dan kembali menutup pintu. Jae In mesem sendiri, dia bahkan belum mencuci muka.


Jae In mengajaknya ke sebuah rumah makan sederhana, Da Hyun tak menyangka kalau Jae In bisa pergi ke tempat semacam ini. Tidak, Jae In mencari tempat ini lewat internet. Ia kemudian bertanya kenapa semalam Da Hyun minum banyak sekali?

Memang benar Da Hyun minum banyak, tapi toleransinya terhadap alk*hol itu tinggi. Jae In tahu kalau toleransinya tinggi tapi dia tak boleh minum sebanyak itu apalagi kalau bersama dengan pria lain.


Pesanan mereka datang, Da Hyun bertanya apakah Jae In bisa makan makanan itu? Jae In yakin kalau dia bisa memakannya, dia tak suka pilih – pilih makanan.

“Kau malah membuatnya semakin jelas.”

Da Hyun memakan supnya dengan lahap sedangkan Jae In bingung mau makan bagian mananya. Ia melihat ada jeroan dalam sup dan memilih untuk tak memakannya. Da Hyun diam tapi dia memperhatikannya, ia terlihat sedikit kecewa. Mungkin karena perbedaan diantara mereka semakin terlihat jelas.


Jae In mengantarnya ke sekolah.

“Bukankah nanti kau terlambat?” tanya Da Hyun.

“Tidak, aku masih punya waktu. Tentang yang aku katakan tadi malam, apa kau mengingatnya?”

Tidak, Da Hyun tak mengingatnya. Memang ada hal penting yang mereka bicarakan? Jae In tersenyum kemudian memperingatkan supaya Da Hyun buru – buru masuk takut dia terlambat.

Tak biasanya, Joo Hee datang ke kantor untuk menemui Pengacara Park. Tujuannya datang kesana semata karena penasaran akan perasaan Jae In yang sebenarnya. Dia yakin kalau Jae In dan Pengacara Park memiliki hubungan yang cukup dekat.

Jae In adalah pengusaha yang berbakat, tapi dia menolak tawaran kerjasama dari Joo Hee. Itu sungguh tidak masuk akal. Pengacara Park tertawa, Jae In mendapatkan banyak tawaran yang sama seperti yang Joo Hee tawarkan padanya.

Tapi bukan dengan wanita itu. Joo Hee yakin kalau Jae In tak mau memandangnya kalau bukan karena surat wasiat.

“Itu sebabnya kenapa Kim Da Hyun sangat luar biasa. Mengerahlah dengan Jae In.”

Masalah koneksi, pendidikan dan keluarga, Joo Hee percaya kalau dia mengalahkan wanita itu. Pengacara Park berfikirkan kalau Da Hyun punya sesuatu yang istimewa dan tidak diketahui mereka.

“Apa dia punya masa lalu yang bermasalah, atau pria lain yang berkencan dengannya?”

Pengacara Park tidak tahu dengan masalalu Da Hyun, tapi tidak mungkin kalau dia berkencan dengan pria lain sementara tengah berpacaran dengan Jae In. Dia tahu kan pria macam apa Jae In itu, dia tak akan membiarkan itu terjadi.

Pengacara Park menerima panggilan dari seseorang dan meninggalkan Joo Hee. Joo Hee bergumam sendiri, kalau begitu.. yang bisa ia lakukan adalah mencari pria lain dalam hidup Da Hyun.


Da Hyun mengaku tak bisa datang menemui Jae In karena dia harus mempersiapkan untuk acara besok. Kalau begitu, Jae In akan menemuinya nanti malam karena dia juga akan menyelesaikan pekerjaan sampai malam.

“Benarkah?”

Apa maksud Da Hyun dengan “benarkah?”, seharusnya dia memohon pada Jae In untuk datang. Da Hyun pun akhirnya setuju untuk bertemu setelah menyelesaikan pekerjaan masing – masing.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Da Hyun bergegas keluar dari ruang guru dan suasana sekolah sangat sepi.

Jae In sampai juga ke sekolah, dia menunggu kedatangan Da Hyun didepan sekolah.



Joo Hee menghubungi Tae Ha. Keduanya tampak tak mengenal satu sama lain. Dan saat kamera menyorot ke mobil dibelakang Joo Hee, disana tampak dua orang bodyguard dan Da Hyun yang pingsan dikursi belakang.

Karena sudah cukup lama menunggu dan Da Hyun belum juga muncul, dia menghubungi Hyun Jin tapi keduanya tak bersama – sama. Ia pun memutuskan untuk mencari Da Hyun didalam sekolah.

Malam semakin larut, Tae Ha menyuruh Joo Hee untuk langsung membicarakan pokok permasalahannya.

“Apa kau tertarik pada perusahaan SH, Tuan Tae Ha? Aku ingin membuat perjanjian denganmu tapi aku harus tahu apa yang kau pikirkan lebih dulu. Aku tidak bercanda. Kau bisa memiliki SH grup jika kau memang menginginkannya.”

Bohong kalau Tae Ha mengatakan tak menginginkannya, dia tidak sebodoh itu.

Baiklah, Joo Hee memberikan sebuah kunci kamar hotel. Ia akan membuat masalah kecil demi kebaikan Tae Ha. Tae Ha bisa mendapatkan SH Grup dan Joo Hee hanya membutuhkan Lee Jae In.

Jae In menelfon ponsel Da Hyun dan ia malah menemukan ponsel Da Hyun tergeletak di lantai. Dia pun semakin panik dibuatnya, ia menyisir ke seluruh sudut sekolah sampai akhirnya ia menghubungi Ketua Tim Kang untuk meminta bantuan. Dia memintanya untuk memeriksa CCTV jalan disekitar sekolah.


Kakek juga menerima kabar tentang masalah ini, kakek tampak marah meskipun Ketua Tim Kang sudah meyakinkan kalau mereka akan segera menemukan sesuatu.

Tak lama kemudian ponsel Jae In berdering menerima panggilan dari Tae Ha. Ia memberitahukan sesuatu. Jae In menyuruhnya untuk tak menyentuh Da Hyun atau dia akan menerima konsekuensinya.

Sesampainya di hotel, Jae In langsung memukul wajah Tae Ha. Dimana Da Hyun? Apa yang kau lakukan padanya?

Tae Ha mencoba menjelaskan tapi Jae In sama sekali tak mendengarkannya. Ia langsung menuju ke kamar dan menemukan Da Hyun tertidur pulas di ranjang. Tae Ha memberitahukan kalau Da Hyun hanya tidur saja.

“Panggilkan Dokter Kim!”

“Aku sudah bilang dia tertidur, dia dibius.”

“Telfon dia!” bentak Jae In.


Setelah Dokter Kim memeriksanya dan tak terjadi apapun, Jae In barulah bisa bernafas lega. Ia bertanya pada Tae Ha, siapa pelaku yang telah merencanakan semua ini? Tae Ha tersenyum, kenapa dia tak berfikiran kalau dirinya adalah pelakunya?

Jae In yakin kalau Tae Ha tak sebodoh itu, kalau dia pelakunya maka ia tak akan menghubunginya. Jadi siapa pelakunya?

“Joo Hee. Dia menyuruhku untuk mengambil perusahaan SH untuk diriku sendiri, Tapi sebagai gantinya, dia menginginkan dirimu.”


Jae In sempat terkejut karena Joo Hee berani bertindak se –nekat ini. Tak lama kemudian Hyun Jin menghubunginya untuk bertanya keberadaan Da Hyun. Kalau belum menemukannya, mereka telfon polisi saja.

“Tidak, aku menemukannya, tidak perlu memanggil polisi. Dia bersamaku sekarang.”

Benarkah? Kalau begitu Hyun Jin ingin berbicara dengannya supaya dia bisa tenang. Jae In memberitahukan kalau Da Hyun sedang tidur saat ini.

“Apa kalian sudah gila?” bentak Hyun Jin.

Jae In meyakinkan kalau semua baik – baik saja. Ia buru – buru mematikan sambungan telefonnya sambil bergumam sebal, pemarah sekali.

Jae In memutuskan untuk memboyong Da Hyun yang sedang tertidur, dia enggan untuk menginap di hotel. Karena tak bisa menyetir, dia menyuruh Tae Ha untuk mempersiapkan mobilnya.

Tae Ha sempat menolak, masa dia harus menjadi sopir Jae In pada jam segini?

“Cepat bergerak.” Tuntut Jae In tidak mau menerima penolakan.


Setelah memindahkan Da Hyun ke kamar dirumahnya, ia mengucapkan terimakasih atas bantuan Tae Ha. Tae Ha merasa lebih berterimakasih dengan Jae In atas apa yang ia lakukan sebagai seorang sepupu.

Kalau begitu, Jae In minta dipanggil Hyung karena usianya satu tahun lebih tua.

“Setahun? Tidak, tepatnya tujuh bulan.”

Hubungan diantara mereka sudah lebih baik, Jae In rasa akan menguntungkan bagi keduanya. Dia akan melindungi Tae Ha mulai sekarang.


“Jadi katakan padaku, Aku yakin kau menelponku karena ada yang kau inginkan..” ucap Jae In peka.

Tae Ha menyuruhnya untuk menyelesaikan masalah Managemen Mall SH. Jelas terjadi sesuatu disana dan Jae In mungkin sudah menyadarinya. Jae In memang sudah mencurigai sesuatu, jadi maksudnya disini Ayah Tae Ha telah memanipulasi harga saham? Tapi bukankah seharusnya Tae Ha membela Ayahnya?

Ayahnya sudah bermain kotor, Tae Ha tak bisa memaafkannya. Ia juga tidak bisa menang kalau melawan ayahnya sendirian jadi dia tidak bisa menjadi anak berbakti kali ini. Awalnya dia bekerja di Mall sebagai asisten parkir dan ia mencintai pekerjaan pertamanya tersebut. Hidupnya berkutat di Mall SH, jadi kalau Ayahnya berniat menyerahkan Mall SH pada orang lain maka ia tak mau kalah dalam permainan.

Baiklah. Jae In pun segera menghubungi Sekretaris Jang. Ia mengutarakan rencananya untuk kembali ke perusahaan cabang SH Grup. Ia memintanya untuk mencari segala informasi terkain Hanjoo Grup dan juga Direktur Min Hyun Joo.

Ia mengajaknya untuk bertemu dihotelnya besok.

Kakek juga sudah mengetahui masalah ini, sepertinya Presdir Hanjoo semakin tua semakin serakah. Ketua Tim Kang khawatir, akankah dia akan menyingkirkan Hanjoo Grup?

“Kenapa kau bertanya padaku, kan Jae In yang melakukan ini?”

Nah itulah maksud Ketua Tim Kang, CEO Lee tak akan membiarkan hal semacam ini berlalu begitu saja. Padahal Hanjoo adalah perusahaan yang kuat, kalau sampai gegabah...

“Omong kosong macam apa itu? Perusahaan kita baik – baik saja! Kita bukan pengemis!” tegas Kakek. Mungkin Jae In juga akan mengganti pemilik perusahaan pada rapat saham nanti.

Berkaitan dengan hal itu, Ketua Tim Kang memohon supaya dia tetap ditempatkan di Hotel SH saja. Kakek mengabaikan permintaannya, sepertinya dia kurang setuju dengan hal itu.

Jae In terus menemani Da Hyun yang tidur pulas “Maafkan aku, DaDa. Hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi. Aku berjanji.”

e)(o

3 Responses to "SINOPSIS Something About 1% Episode 12 Bagian 2"

  1. anis dah nonton dramanya bahkan sampai 5* tapi masih bulak balik pingin baca sinopsisnya ayo semangat . gomawo

    ReplyDelete
  2. aaa so sweet ♥
    mkin penasaran kelanjutannya...
    waiting and fighting ;)

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^