SINOPSIS Something About 1% Episode 14 Bagian 2

SINOPSIS Something About 1% Episode 14 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: DramaX


“Sayang sekali..” keluh Da Hyun.

“Memangnya kenapa?”

Da Hyun merasa sayang karena ini adalah kencan terakhir tapi tidak terlalu banyak hal yang mereka lakukan. Jae In pikir masih ada banyak hal yang harus mereka lalukan selain itu. Da Hyun mengerti, mereka memang harus melakukan sisanya sendiri – sendiri.

Kontan Jae In menatap Da Hyun dan Da Hyun membalasnya dengan senyuman getir.


“Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

“Pertama – tama aku ingin pergi ke konser Ji Soo.”

“Bukan, bukan itu maksudku. Hal yang sesungguhnya akan kau lakukan.”

“Belajar menyetir.”

Jae In makin geregetan, dia menyarankan supaya Da Hyun mencari kekasih yang bisa menyetir seperti dirinya. Da Hyun pikir banyak pria yang bisa menyetir, tapi dia tidak mempermasalahkan jika pacarnya kelak tidak bisa menyetir.

“Jadi pria macam apa yang akan kau kencani?” Jae In berubah serius.

Simple, Da Hyun ingin berpacaran dengan pria yang baik. Da Hyun berbicara sambil memikirkan apa yang telah Jae In lakukan. “Seseorang yang membantu anak yang terjatuh. Dan seseorang yang memberikan hadiah pada anak yang menangis kemudian menasehati mereka. Dan seseorang yang menurut pada orang tuanya.”

Jae In tidak sadar kalau Da Hyun sedang membicarakan dirinya “Jadi, seseorang yang berkebalikan dariku.”

“Jadi kau menyadarinya?” ledek Da Hyun.

Jae In berdiri tanpa mengatakan apapun. Da Hyun jadi khawatir, jangan – jangan dia marah.

“Tunggu aku sebentar..” ucap Jae In pergi.


Ketua Tim Kang melaporkan bahwa ini adalah hari terakhir kencan antara Da Hyun dan Jae In. Dia tidak menyangka bisa melihat CEO Lee mengambil cuti sehari saat akhir pekan.

“Dia memang harus bekerja keras selagi muda.” Kakek berniat mengambil cangkirnya, tapi tangannya gemetaran hingga teh ditangannya tumpah. Ketua Tim Kang langsung membantunya, apa dia baik – baik saja?

“Tentu saja tidak. Aku kan sudah 80 tahun. Aku memang ketakutan setiap hari bahkan tidak bisa meminum secangkir teh dengan benar.”

Ketua Tim Kang agak lega mendengar ucapan kakek namun kelegaan itu langsung lenyap karena Kakek mengalami sesak nafas.

Da Hyun terus memperhatikan ke arah pantai dengan wajah sedih. Jae In menegurnya, dia penasaran apa yang telah membuat Da Hyun sangat terganggu?

“Tidak, aku hanya berfikir kalau pasangan itu begitu serasi.”

“Kita juga serasi.” Jae In kemudian meletakkan hadian untuk Da Hyun, hadiah ulangtahun.

Da Hyun mengernyit, ulang tahun –nya di bulan Desember. Jae In juga tahu tapi sepertinya selama ini dia belum memberikan hadiah jadi anggap saja apa yang ia berikan sebagai hadiah ulang tahun.

Hadiah pemberian Jae In adalah sebuah kalung. Dia mengaku tidak pantas untuk memberikan cincin jadi dia ganti dengan kalung. Meskipun begitu, dia sudah memilihkan kalung yang paling mahal.

“Begitukah kau menilai sesuatu? Dengan seberapa mahalnya benda itu?”

“Tentu saja.”

Da Hyun seolah sudah paham dengan sifat Jae In, dia menyukai kalung pemberiannya dan berusaha memasangnya sendiri. Ia kesulitan sehingga Jae In memasangkannya untuknya.

“Itu cocok denganmu.”

“Ya, cantik.”


Keduanya bertatapan, namun dalam tatapan mereka seolah ada kegundahan. Seperti kesedihan yang berusaha dipendam masing – masing.

Kakek masih tampak kurang sehat, saat dia berdiri dari kursinya, lututnya lemas sampai dia hampir terjatuh. Nafasnya kembali tercekat dan ia langsung memelintir bandul kalung yang digunakan kemudian menghisapnya (sepertinya ada obat didalam bandul kalungnya).

Dia berjalan ke luar pintu dan tak lama kemudian terdengar suara sesuatu terjatuh.


Sebelum pulang, Jae In menawarkan pada Da Hyun supaya mereka bersama – sama hari ini. Da Hyun heran, bukankah seharusnya mereka putus hari ini juga? Dia merasa kalau Jae In jadi kelihatan seperti pria yang buruk.

“Aku katakan padamu sekarang, selama kau mengatakan sesuatu, aku akan melakukan banyak hal melebihi berpegangan tangan.”

Saat keduanya sedang berbicara, ponsel Jae In berdering. Da Hyun berkomentar akan kebiasaan itu, sampai akhir hubungan mereka, ponselnya Jae In masih saja seperti itu (berbunyi disaat kencan).

Tapi omongan Da Hyun langsung terhenti karena Jae In menerima panggilan dari Ibunya dan ini menyangkut tentang kakek Jae In.


“Apa ada yang terjadi?”

Jae In menduga kalau kakeknya sedang berulah lagi. Karena kontrak hubungan mereka berakhir jadi mungkin dia berfikir untuk melakukan sesuatu. Mungkin dia sengaja supaya mendapatkan pemeriksaan di hotel dan bermain game lagi.

Tapi tetap saja, bagaimana kalau Kakek Jae In benar – benar sakit? Da Hyun menyarankan supaya Jae In cepat menjenguknya. Jae In mengiyakan.

Jae In mengantarkan Da Hyun sampai ke depan pintu rumahnya. Dengan berat hati, Da Hyun mengucapkan terimakasih atas bantuan yang sudah Jae In berikan selama ini. Ji Soo sudah mendapatkan tempat yang bagus sekarang dan mereka juga tidak khawatir dengan pendanaan panti asuhan lagi. Da Hyun merasa beruntung.

“Hanya itu yang ingin kau katakan?”

Meskipun agak sedih, Da Hyun berjanji akan mengatasinya lagipula mereka berdua sudah berjanji untuk tidak saling jatuh cinta.

“Jadi kau tidak jatuh cinta padaku?” Jae In membuat tanda kecil menggunakan jarinya “Meskipun hanya segini?”

“Bagaimana denganmu? Kau tidak jatuh cinta padaku?”

“Aku sudah melakukan yang terbaik.”

“Aku merasa berterimakasih untuk itu.” Ucap Da Hyun semakin sedih.

Jae In seolah ingin menegaskan sekali lagi, apakah Da Hyun tidak akan menyesal? Dia yakin kalau Da Hyun tidak akan menemukan pria sepertinya lagi.
Tentu saja tidak, Da Hyun juga yakin kalau dia tidak akan bertemu dengan pria sesulit seperti Jae In lagi.

Jae In memeluk Da Hyun “Kau adalah wanita yang baik.”

“Kau bukanlah pria cukup yang baik, Jae In –ssi.”

Jae In tersenyum melepaskan pelukannya, dia menyadari hal itu makanya dia melepaskan Da Hyun saat ini. Da Hyun tidak sependapat, bukan Jae In yang melepaskan Da Hyun melainkan Da Hyun yang telah membuang Jae In.

“Jangan terlalu jahat. Kau mungkin akan ditusuk saat malam hari.” Pesan Da Hyun.

“Karena itu aku berniat untuk memperkerjakan banyak bodyguard.”

Sekali lagi Jae In memeluknya. Da Hyun dengan suara pelan meminta Jae In supaya tidak bertemu dengan wanita yang baik. Kalau Jae In melakukannya, Da Hyun akan kasihan pada wanita itu.

“Pastikan kau bertemu dengan pria baik. Dengan begitu, aku tidak akan merasa begitu bersalah padamu.” Balas Jae In.


Jae In bergegas menuju ke rumah sakit setelah menerima panggilan. Ia menanyakan kondisinya pada Dokter, apa masih kritis? Dokter mengatakan bahwa kondisinya baik – baik saja karena Kakek sudah meminum obat sebelum pingsan. Dia beruntung, kali ini dan sebelumnya juga.

“Sebelumnya?” Jae In tak mengerti.

Dokter terkejut karena keluarganya tidak tahu, dia sudah membuatkan resep obat untuk darahnya dan juga Kakek sudah sering melakukan MRI.

Jae In menyuruh Ketua Tim Kang untuk merahasiakan semuanya, kalau sampai satu kata saja bocor ke media maka besok mereka akan kesulitan menanganinya. Ketua Tim Kang mengerti, lalu bagaimana dengan keluarga Ketua yang berada di Amerika?

Tidak, jangan katakan pada Bibi juga. Jae In akan mengatasinya termasuk jangan membocorkan hal ini pada manajemen baru maupun pewaris. Sebelum pergi, Jae In dengan sungguh – sungguh meminta kerja sama dari Ketua Tim Kang. Tidak banyak orang yang bisa ia percayai.

Ketua Tim Kang terlihat senang menerima kepercayaan dari Jae In “Ya, Tuan.”


Ibu berdiskusi dengan Jae In, dia telah menyiapkan ahli hukum untuk berjaga – jaga. Kakek juga sudah mengubah surat wasiatnya minggu lalu kan? Jae In membenarkan termasuk perubahan persyaratan tentang Da Hyun, dengan begitu dirinya sekarang sudah memenuhi syarat menjadi pewaris untuk saat ini.

“Lalu apakah kalian sudah mengakhiri semuanya?”

“Ya.”

“Apa dia mengatakan sesuatu?”

“Seperti apa?”

“Lupakan saja..” ucap Ibu kemudian.

Jae In memutuskan untuk kembali ke perusahaan. Ya, Ibu menyuruh Jae In untuk tidak terlalu mengkhawatirkan kakek. Dia yang akan merawatnya lagipula kalau Jae In terlalu sering ke rumah sakit, pasti akan ada yang mencurigainya.

Dan Ibu juga senang karena Jae In akan kembali ke perusahaan.

Da Hyun sudah mencoret hari terakhir dari kontrak mereka. Tandanya kontrak kencan diantara mereka sudah benar – benar berakhir.


Jae In lembur bekerja di perusahaan. Meskipun banyak hal yang harus ia kerjakan, tampaknya dia tidak bisa terlalu berkosentrasi malam ini. Pikirannya melayang entah kemana sehingga ia akhirnya memutuskan membuka ponsel dan memperhatikan senyum Da Hyun di foto mereka berdua.

Ibu Da Hyun menelfonnya dan sudah tahu kalau kontrak diantara mereka berdua sudah berakhir. Da Hyun bilang kalau Jae In akan bekerja di kantor induk jadi mungkin mereka tidak akan bertemu lagi. Ibu malah lega, mungkin putrinya akan merasa sulit kalau terus berurusan dengan keluarga seperti mereka.

Tanpa menunggu waktu, Ibu membicarakan tentang putra dari teman ayahnya. Dia seorang ahli herbal....

“Nanti, ibu. Aku harus menunggu sadar lebih dulu.” Da Hyun tak bisa menahan air matanya lagi “Dan aku juga sibuk bekerja di sekolah.”

Da Hyun mengakhiri panggilan dengan Ibunya, ia pun menumpahkan air matanya yang semenjak tadi tertahan.


Dan setelah berakhirnya kontrak mereka, Jae In memang kembali bekerja di perusahaan induk. Melakukan meeting, bertemu dengan kolega, pesta resmi dan melembur pekerjaan. Super sibuk sepanjang hari.

Pengacara Park mendesah dihadapan Jae In, meskipun Jae In temannya tapi dia keterlaluan. Dia pikir Jae In tidak akan pernah melepaskan Da Hyun dan ia percaya kalau mereka berdua bisa menikah.

“Kau tahu berapa bodyguard yang mengikutiku sekarang? Da Hyun juga harus hidup seperti itu juga.”

Memikirkan kejadian penculikan yang dilakukan Joo Hee, Jae In tidak yakin kalau kejadian semacam itu tidak akan terulang lagi. Dia harus menghadiri acara resmi dimana dia harus menjaga sikap dan perilakunya. Melakukan pertemuan dimana Da Hyun harus menemani Jae In, mungkin ada puluhan acara semacam itu sepanjang tahun.

Da Hyun sangat menyukai pekerjaannya tapi orang – orang akan penasaran. Wartawan akan mencecarnya kalau dia tidak melakukan apapun. Dia tidak akan tahan melakukan semua itu.

“Tapi tetap saja, kalau kau disampingnya..”

Jae In tersenyum miris, dia bahkan tidak bisa menjanjikan itu. Kalau kakeknya seperti itu terus atau dia meninggal, sudah untung kalau Jae In bisa berangkat jam 7 dan pulang jam 9. Lalu Da Hyun akan sendirian sepanjang hari, dan jika Da Hyun menjadi Istri Lee Jae In dari SH Grup maka dia harus menghadiri acara seorang diri.

“Dan sekarang kau ingin aku meminta Da Hyun menghadapi semua itu? Aku tidak mungkin memintanya menikah denganku.” Pungkas Jae In tanpa bisa disanggah oleh Pengacara Park lagi.

Setelah malam semakin larut, Jae In berfikiran untuk menghubungi Da Hyun namun ia menahan perasaan rindunya dan mengurungkan niatnya.

Keesokan harinya, Da Hyun pun masih belum bisa melupakan Jae In. Dia masih mengenang kebersamaan mereka dan memandangi foto bersamanya. Da Hyun bersiap pergi mengajar, ia meninggalkan ponselnya.

Tapi Da Hyun seolah menanti panggilan seseorang dan memutuskan untuk membawa ponselnya saat mengajar.

Da Hyun sedang mengajar berkebun, dia sesekali membuka ponselnya untuk mengecek panggilan atau ada pesan masuk, tapi tidak ada apapun disana. Da Hyun jelas kecewa.

Fyi, Da Hyun menggunakan fotonya dengan Jae In sebagai wallpaper dan screenlock. Pertanda gagal move on..

Guru yang mengajar bersama Da Hyun melihat wajah Da Hyun merah, dia menyuruhnya beritirahat. Biar dia yang menyelesaikan mengajar. Da Hyun keras kepala meskipun tampaknya dia kurang sehat, ia terus mengejakan pekerjaannya.

Dalam perjalanan pulang, Da Hyun melihat siaran tentang SH Grup di TV.

“Dia memang chaebol. Dia seperti seseorang yang sangat berbeda.” Komentar Da Hyun melihat betapa rapi dan seriusnya Jae In di TV.

Da Hyun yang semakin pucat mulai merasakan pening, dia jatuh pingsan tepat saat sampai ke rumah.

Hyun Jin berusaha menghubungi Da Hyun tapi panggilannya tidak diangkat. Dia jadi semakin khawatir karena pesan kakao –nya juga tidak dibaca. Ia pun memutuskan untuk pergi kerumahnya.

Dia pun panik menemukan Da Hyun tergeletak di lantai. Hyun Jin buru – buru memindahkannya ke ranjang dan mengompres Da Hyun yang demam.

Tak lama kemudian Sun Woo datang memeriksa demamnya, demamnya cukup tinggi. Dia menyalahkan Hyun Jin yang tidak menghubungi 911, dia kan dokter gigi.

Hyun Jin sinis, lagipula Sun Woo sudah menghadapi pasien bukan hanya untuk melihat mulutnya saja kan? Toh keluarga mereka sudah habis banyak uang untuk biaya pendidikannya.

Mereka berdua pun merawat Da Hyun dirumahnya saja. Sun Woo yakin kalau Da Hyun mengalami masa sulit saat ini.

“Si*alan. Haruskah aku membunuh Lee Jae In?” kesal Hyun Jin.

“Tidak. Kalau bukan hanya Da Hyun yang masuk dalam hubungan ini. Aku yakin kalau pria itu juga merasakan sakit yang sama.”


Benar, Jae In juga sedang merasa sedih atas perpisahannya dengan Da Hyun. Ia menangis disamping kakeknya yang belum sadarkan diri.

“Kakek, apa kau tidak akan mengatakan sesuatu? Bukankah kau seharusnya berteriak padaku karena aku kehilangan dia, dan kau mengataiku bodoh? Tolong katakan padaku kalau aku melakukan hal yang benar. Tolong katakan kalau semua akan baik – baik saja meskipun sekarang terasa sulit. Kakek... aku akan melakukan yang terbaik. Aku akan melakukan yang terbaik dan menahannya.”


Sampai keesokan paginya, Da Hyun belum juga sadar. Hyun Jin terus ngedumel marah, dia benar – benar akan membunuh pria itu.

“Siapa yang akan kau bunuh?” tanya Da Hyun dengan lemah.

Hyun Jin terkejut karena Da Hyun rupanya sudah sadar. Da Hyun sudah membuatnya khawatir, bahkan dia sudah berniat menghubungi 911. Da Hyun mengaku kalau dia sudah baik – baik saja.

(Meskipun sebenarnya, hatinya belum baik – baik saja)

Di kantor, Jae In menerima telfon dari bibinya. “Ya Bibi. Soo Jung melakukan apa?”

Soo Jung sedang sibuk audisi di sebuah agensi. Dia menunjukkan kemampuan menarinya dan juri tampak cukup suka dengan penampilannya itu.

Jae In pergi ke tempat audisi dan melihat Ji Soo sedang menari diruang dance. Ia juga melihat ada poster audisi terpampang didekat pintu.


Jae In menyeret Soo Jung keluar gedung audisi. Dia terus merengek kenapa Jae In melakukan ini padanya?

“Aku juga mau bertanya pertanyaan yang sama. Kau pikir ini Toronto? Apa kau berfikir kalau ibumu akan khawatir?”

“Itulah kenapa aku berbohong, aku tidak mau kalau ibu khawatir.”

Dalam perjalanan, Jae In menyuruh Soo Jung menghubungi Ibunya dan mengatakan kalau dia akan segera kembali. Soo Jung tidak mau, dia tidak ingin kembali.

Jae In membawa Soo Jung ke hotel tapi Soo Jung merengek, dia mau tinggal dengan Jae In saja. Jae In tidak ada niatan untuk membiarkannya tinggal dirumahnya, dia akan membiarkan Soo Jung bermain sebentar tapi dia harus cepat pulang ke rumah.

“Oppa, aku kau membenciku karena aku saudara tirimu?”

“Melihatmu masih mengatakan hal kekanakan, sepertinya kau masih harus terus tumbuh.” Ujar Jae In merangkul adiknya.


Bertepatan saat itu, Hyun Jin lewat dan langsung tersenyum sinis melihat kedekatan keduanya. Disaat Da Hyun sekarat tapi lihat bagaimana Jae In sekarang, pastinya menyenangkan karena bisa move on secepat ini.

“Tunggu, apa Da Hyun sakit?”

“Bukan urusanmu.”

Hyun Jin berjalan pergi.

“Siapa dia, Oppa?” tanya Soo Jung.

Hyun Jin makin kesel karena salah paham (Oppa bisa diartikan sebagai kakak laki – laki, tapi bisa dimaknai “sayang” kalau mereka pasangan).

“Aku tidak akan menginjakkan kaki di hotel si*lan ini.” Desis Hyun Jin murka.

Malam harinya, Jae In menyempatkan untuk pergi ke apartemen Da Hyun. Tapi dia tidak naik ke rumahnya, dia hanya memperhatikan dari bawah “Ayolah, jangan sakit.”

Da Hyun keluar kamarnya untuk menghirup udara segar, dia melongok ke bawah tapi bertepatan saat itu, Jae In sudah pergi dari sana dan Da Hyun tidak mengetahui kedatangannya.


Kakek akhirnya sadar juga.

“Berhenti membuat kami khawatir. Kami pikir sesuatu yang buruk akan terjadi padamu.” Ujar Jae In.

Kakek ingin segera keluar rumah sakit lagipula dia tidak akan mati. Jae In melarangnya, dia belum bisa pergi karena dia belum sembuh total.

Jae In kembali lagi ke kantor dan rapat tengah malam. Dia mengakhiri rapat tersebut, kemudian meminta anak buahnya untuk membahas masalah ini keesokan paginya. Dia pun segera meninggalkan ruang rapat untuk mengerjakan hal lain.

Semua anak buahnya mengeluh, Jae In lebih kaku dari pada Presdir. Dia ingin mereka melakukan rapat lagi esok pagi? Jadi sekarang mereka terpaksa harus lembur untuk menyiapkan materinya. Tentu saja mereka mengeluh.

Keesokan paginya, Ketua Tim Kang masuk ke ruang kerja Jae In. Ia terkejut karena Jae In belum berganti pakaian, itu tandanya dia tidak pulang semalaman. Ketua Tim Kang tentu mengkhawatirkan kondisinya tapi Jae In meyakinkan bahwa untuk saat ini dia baik – baik saja.

Ibu Jae In datang ke kantor untuk membawakan baju ganti, tadi dia kerumah Jae In dan melihat kulkasnya kosong. Sontak pikiran Jae In teringat akan Da Hyun yang mengomentari hal sama, kulkasnya yang begitu kosong.

Jae In mengendalikan emosinya sendiri, toh dia tidak akan sempat makan dirumah.

Ibu jadi khawatir mendengar ucapan Jae In, dia sama sekali tidak ada yang merawat. Ia pun membahas mengenai putri dari pemilik perusahaan gangnam, banyak yang bilang anaknya baik.

Jae In meminta Ibunya tidak asal percaya, Perusahaan Gangnam sedang tersandung masalah karena diperkarakan oleh investor Thailand. Ibu tertawa menanggapi ucapan Jae In, dia memang benar – benar putranya.

Jae In termenung untuk beberapa saat memperhatikan kursi di pojok restoran, dulu dia pernah duduk bersama Da Hyun disana. Ia pun menghela nafas panjang mengingat kenangan tersebut.

Jae In mendatangi SD tempat Da Hyun mengajar, memperhatikan sekeliling sekolah yang sepi. Ia melihat taman dekat SD dimana dia dulu duduk bersama Da Hyun disana.

Setelah Jae In pergi, Da Hyun keluar dari gedung sekolahan. Ia duduk memperhatikan taman yang sama “Aku berharap kalau kita bertengkar saja. Lalu dia akan mengatakan bahwa dia salah kemudian meminta maaf. Tapi tidak ada salah satu diantara kita bisa melakukan itu.”

e)(o

4 Responses to "SINOPSIS Something About 1% Episode 14 Bagian 2"

  1. Gomawo... Ditunggu kelanjutan. A...🙌

    ReplyDelete
  2. trimakasih sinopsisnya. lanjut mbak hehe.

    ReplyDelete
  3. Serius jae in bikin baper hhhhh..figthing ditunggu lanjutannya

    ReplyDelete
  4. Final episode, puji.... Thank you...
    Fighting.... Semangat 😇😇😇

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR