SINOPSIS Goblin Episode 11 Bagian 2

SINOPSIS Goblin Episode 11 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: tvN

Diluar, Wang Yeo menemani Sunny berjalan dibelakangnya. Lama-lama Sunny geregetan sendiri, kenapa dia hanya menatapnya dan tidak menegurnya untuk berhenti. Wang Yeo tidak mengerti maksudnya dan bertanya apakah dia boleh menghentikannya?

“Kalau kau menghentikan aku, apa yang akan terjadi pada kita selanjutnya?” tanya Sunny.

Wang Yeo tidak bisa memberikan jawaban. Sunny hanya berdecih sebal karenanya. Wang Yeo tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi, ia pun membiarkan Sunny untuk pulang sendirian.

Shin masih bertanya-tanya apakah Sunny benar-benar adiknya atau bukan. Wang Yeo datang dengan lesu dan duduk disampingnya. Ngomong-ngomong, ada yang ingin Wang Yeo tanyakan. Siapa sebenarnya yang membuat lukisan adik Shin?

Itu adalah lukisan Wang Yeo, itu adalah lukisan adiknya di mata Raja. Lukisan itu mengandung dosanya, rasa bersalahnya dan kerinduannya. Shin yakin kalau lukisan itu adalah kebahagiaan terakhir yang Raja goreskan.

“Setelah membunuh istrinya seperti itu?”

“Ya. Setelah membunuh istrinya seperti itu.”

Eun Tak pergi ke restoran karena punya firasat buruk. Dan benar saja, rupanya Sunny disana tengah duduk dengan lemas. Wajahnya dipenuhi keringat dingin kesakitan. Eun Tak menyelampirkan jaket yang ia gunakan.

Dengan lemah Sunny berkata jika ia tidak mempercayai reinkarnasi tapi seluruh badannya terasa sakit setelah meninggalkan rumah itu. Eun Tak menawarkan supaya pergi ke rumah sakit kalau sakitnya semakin parah.

“Tidak. Kita pulang saja. Aku tak ada sakit apa-apa tapi kenapa dadaku sakit terus. Malah, ada sesuatu yang jauh di dalam tubuhku ini lebih sakit. Seperti ada seseorang yang berjalan dijantungku. Rasanya jantungku mau remuk.”


Eun Tak memapah Sunny pulang ke rumahnya. Mereka berdua berpapasan dengan Hoobae –nya Wang Yeo. Sunny memberitahukan kalau Hoobae adalah penghuni kos di rooftop. Eun Tak menyapanya dan buru-buru menutup mata Sunny. Ia pun segera memapahnya menuju kamar.

Hoobae bergumam “Wanita yang tinggal di lantai bawah kenal dengan Pengantin Goblin? Dunia memang sempit.”

Sunny tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia melihat ponsel Wang Yeo dan melihat ana nama pasangan Dokkaebi. Itu adalah Eun Tak dan pria yang mengaku sebagai kakaknya, kan? Eun Tak terdiam.

“Kau tidak mau memberitahukan identitas mereka?”

“Maaf.”

“Dia juga tidak akan mau memberitahukan identitasnya kan?”

“Maaf.”

“Aku akan berpisah dengannya kan?” tanya Sunny yang terbaring lemas di ranjangnya. Eun Tak pun kembali mengompres kepalanya yang demam.


Sepulangnya dari tempat Sunny, Shin sudah menunggu kedatangan Eun Tak. Eun Tak tersenyum senang, sedang apa dia disana?

“Menunggumu.”

“Sejak kapan?”

“Aku mengikuti setiap langkah kakimu.”

Eun Tak tersipu malu, kata-kata Shin sungguh manis.

Eun Tak mengaku kasihan dengan bos-nya. Bukan seperti dirinya yang sejak lama melihat hantu, jadi hal aneh seperti bertemu dengan Dokkaebi dan Pencabut nyawa sudah biasa. Tapi bos –nya tiba-tiba mengalami hal aneh. Kakak dari masalalunya adalah Dokkaebi dan pria yang disukainya adalah Pencabut Nyawa. Kehidupan masa lalu, apa sebenarnya itu?

“Ya, hanya sebuah kehidupan yang sudah berlalu.”

Meskipun tidak ingat, Eun Tak penasaran apakah dia pernah berada dalam kehidupan Shin sebelumnya?

Shin tidak yakin, entahlah.


Eun Tak berharap kalau Bos memang benar adiknya Shin, dia baik. Dia juga berharap punya Oppa seperti Shin. Ah.. tapi dia masih punya Tae Hee Oppa. Kontan Shin menghentikan langkah kakinya. Eun Tak dan Tae Hee masih seperti ini, jangan-jangan orang yang ditemuinya di restoran Kanada adalah Tae Hee.

Restoran langganan mereka? Eun Tak bilang dia tidak akan kesana kalau tidak bersama Shin. Shin menyindir nyinyir, lucu sekali. Dia akan datang kesana. Eun Tak jadi heran, kapan? Bagaimana dia mengetahuinya?

Shin buru-buru kabur, dia seharusnya tidak usah menjemput Eun Tak kalau begini jadinya.

Keesokan harinya adalah hari kelulusan Eun Tak. Anak-anak lain berselfi-ria sedangkan Eun Tak duduk diam sendirian. Ponsel Eun Tak berdering, Ketua Kelas menghampirinya dan memberitahukan jika itu adalah nomor ponselnya. Eun Tak tidak tahu bagaimana dia bisa punya nomornya.

Teman Eun Tak adalah ketua kelas makanya dia punya nomor anak-anak. Ia mengucapkan selamat atas kelulusannya, ia berharap mereka bisa saling bertukar kabar.

“Ya. Kau juga selamat.” Ucap Eun Tak.

Bu Guru mengucapkan selamat atas kelulusan mereka. Ia mempersilahkan para orangtua mengucapkan selamat pada anak-anak mereka. Wali murid segera masuk dalam kelas menghampiri anak mereka. Eun Tak duduk sendirian tanpa ada yang memberikan buket bunga.


Tiba-tiba, seseorang dengan heels merah masuk dalam ruang kelas. Pandangan semua orang langsung tertuju padanya. Dia adalan Nenek Shamsin. Nenek Samshin menghampiri Eun Tak kemudian memeluknya. Ia mengucapkan selamat, ibunya pasti bangga dengannya.

Eun Tak ingat kalau wanita dihadapannya adalah wanita yang pernah memberikan sayur bayam padanya. Kenapa dia memeluknya?

Nenek Samshin tidak memberikan jawaban, ia membelai rambut Eun Tak. Ia mengulang ucapannya dulu saat menenangkan Eun Tak kecil yang menangis ketakutan bertemu Malaikat Pencabut Nyawa “Karena kau cantik. Ketika aku memberkati ibumu dan dirimu, aku bahagia.”

Eun Tak langsung bisa mengingat sosoknya. Ia ingin mengucapkan sesuatu namun Nenek Samshin memberikan isyarat supaya dia tetap diam.


Nenek Samshin berpapasan dengan Bu Guru, ia menatapnya tajam “Nak, apa kau selama ini tak mampu jadi guru yang baik?”

Sontak Bu Guru merasakan penyesalan yang begitu dalam. Entah bagaimana, ia langsung menangis tanpa mengerti alasan yang jelas. Ia terus menangis dihadapan wali murid, ia meminta maaf dan permisi pergi.

Shin yang ingin menjemput Eun Tak juga berpapasan Bu Guru. Ia teringat masa lalu..

FLASHBACK [Joseon Periode Akhir, 12 Tahun Masa Pemerintahan Raja Chuljong]

Shin bersama dengan salah satu temannya berada di warung makan. Ia bertemu dengan Bu Guru dimasa lalu, ia dapat melihat masa depannya wanita pemilik warung. Ia menceritakan hal itu pada temannya, dia melihat orang-orang memegang benda hitam namun bersinar. Mereka memperlakukannya seperti anak yang baru lahir.


Shin menggambarkan benda yang ia maksud, berbentuk kotak. Ia memperagakan bagaimana cara menggunakannya dan “ckrik.. ckrik..”

Ia menyarankan pada temannya untuk berinvestasi pada benda ini.

FLASHBACK END


Sesampainya di kelas Eun Tak, Shin mengedarkan pandangannya menemukan Eun Tak. Pandangannya terhalang oleh bunga yang sedang dipegang seseorang. Hal itu membuatnya seperti dejavu.. ia pun mengulang kembali ingatannya di jaman Joseon.

Rupanya dijaman Joseon, saan Shin melihat masa depan. Ia melihat ada buket bunga yang dipegang oleh teman sekelas Eun Tak. Ia juga melihat samar ada orang dibelakangnya, dijaman Joseon ia tidak menyadarinya. Namun ia sekarang tahu kalau wanita itu adalah Eun Tak.

Shin tersenyum “Kau memang pernah datang dan pergi dalam hidupku rupanya meskipun kau tidak mengetahuinya.”


Keduanya berjalan meninggalkan sekolah, Shin memainkan tangan Eun Tak. Ia menutupi wajah Eun Tak menggunakan buket bunga, namun kemudian ia mengalihkannya dan menutupnya lagi. Eun Tak sampai heran, apa yang ia lakukan?

Shin tidak menyangka bisa melihat Eun Tak saat itu. Memang ada kejadian indah yang aneh seperti itu. Eun Tak tersenyum penuh harap, memangnya kejadian indah seperti apa?

“Pada Joseon periode akhir, 12 tahun masa pemerintahan Raja Chuljong aku bertemu dengannya. Cinta pertamaku.”


Kontan Eun Tak menolak keras mendengarnya, dia tidak ingin tahu. Shin mengomentari sikap tidak sopannya tapi yang membuat dia lebih penasaran adalah buket bunga di tangan Eun Tak. Darimana ia mendapatkannya? Apa si brandal Tae Hee?

“Tae Hee Oppa tidak datang. Kalau dia datang, aku pasti bersamanya sekarang. Aku juga punya seseorang yang peduli padaku dan membelikanku bunga ini.”


Eun Tak ingin mengabadikan momen berharga ini dan meminta Shin memotretnya. Ia menjelaskan bagaimana cara menggunakan kamera tapi Shin langsung bilang kalau dia bisa menggunakannya. Shin dengan kaku memotret Eun Tak tanpa menghitung mundur. Eun Tak sebal, seharusnya dia memberikan aba-aba sebelum memotretnya.

“Walaupun begitu, kau tetap cantik.” Ucap Shin membuat Eun Tak senyum-senyum malu.


Eun Tak iseng memotret keadaan disekitarnya. Saat kamera terarah pada Shin, Shin langsung berpose tapi Eun Tak tidak memperhatikannya. Dia langsung mengalihkan kamera untuk memotret hal lain. Shin buru-buru bersikap biasa dan ia segera berpose lagi saat lensa kamera mengarah padanya. Tapi Eun Tak bener-bener ga punya niatan memotretnya. LOL

“Hal yang baik pasti datang terlambat. Seperti Ahjussi.” ucap Eun Tak.

“Aku datang lebih awal, tapi aku tidak tahu mana kelasmu.” Polos Shin. Eun Tak cuma bisa ketawa, bukan itu maksudnya.


Shin meminta Eun Tak jangan sedih meskipun Shin datang sendirian. Deok Hwa sedang bekerja dan Pencabut Nyawa lagi uring-uringan. Tapi mereka tetap titip ucapan selamat kok untuk Eun Tak. Eun Tak menoleh ke arah lain dan melihat ada Wang Yeo dan Sunny sedang bertatapan. Lalu bagaimana dengan dua orang itu?

“Dua orang itu tidak kesini untukmu. Mereka berada di sini untuk menemui seseorang yang mereka kira akan berada di sini.”

Eun Tak bersemangat melihat mereka, dia menyuruh Shin untuk segera menggunakan pintu ajaib supaya tidak mengganggu mereka berdua. Shin dan Eun Tak ngabur duluan akhirnya.


“Kau pasti berada di sini untuk merayakan kelulusannya.” Tanya Wang Yeo.

Sunny membenarkan alasan itu. Tapi dia datang kemari untuk menemui orang lain dan orang itu sudah ada dihadapannya. Ia pikir ia bisa membuat keputusan setelah melihat wajahnya. Tapi bertemu dengannya malah membuat bahagia.


Keduanya berakhir di restoran, Sunny bertanya tentang cincinnya. Apa penyelidikannya sudah selesai? Tidak bisakah dia memberitahukan apa yang sebenarnya sedang diselidiki?

Wang Yeo mengatakan bahwa penyelidikannya belum selesai. Baiklah, Sunny memintanya untuk segera menghubunginya dan mengembalikan cincinnya. Sebelum pergi, Sunny memberikan bunga yang ia beli. Ia menitipkannya pada Wang Yeo untuk diberikan pada Eun Tak.

Wang Yeo juga memberikan bunga untuk Sunny. Bukan untuk Eun Tak, tapi untuk Sunny. Terlepas siapapun dirinya, ia berharap bisa memberikan bunga pada seseorang setidaknya sekali. Sunny tertegun, siapa sebenarnya Kim Woo Bin itu?

“Kau mungkin tidak akan percaya padaku tapi aku sendiri tidak tahu siapa aku sebenarnya.”

Sunny sekali lagi merasa kecewa, Wang Yeo dan temannya pasti sangat suka mengatakan hal yang tidak masuk akal. Dia yakin keduanya tidak bisa dipercaya.

Meskipun begitu, malam harinya Sunny menyimpan bunga pemberian Wang Yeo. Ia merenungkan sesuatu sembari menatapnya.


Eun Tak sibuk memeriksa foto-foto tadi siang. Shin meletakkan buku rekening –nya yang berisi asuransi Ibunya. Ini adalah hadiah untuknya, ia berharap supaya Eun Tak bisa mempergunakannya dengan baik. Eun Tak kira dia belum bisa menggunakannya, Bibinya belum memberikan tanda tangan sehingga belum sah secara hukum.

“Ini sudah ditangani secara hukum, dan resmi milikmu. Ini milikmu sekarang.”

Eun Tak tidak menyangka bagaimana bisa? Terimakasih.

“Ini bukan dariku, tapi dari ibumu. Aku cuma seorang utusan saja.”

Tetap saja Eun Tak ingin mengucapkan terimakasih. Tapi meskipun begitu, ia rasanya sayang untuk menggunakan hadiah yang berharga dari ibunya. Shin menyarankan supaya Eun Tak tetap menggunakannya, ia yakin kalau itulah yang diharapkan ibunya.

“Tapi, bagaimana dengan keluarga bibiku? Apa keluarga bibi baik-baik saja?” tanyanya kemudian.

Bibi Eun Tak dan kedua anaknya baru keluar dari penjara. Bibi masih heran kenapa dia tidak mengingat tentang Eun Tak ketika di introgasi. Ia menduga Eun Tak sudah mendapatkan uang asuransi dan melanjutkan kulian. Putri Bibi menyarankan supaya mereka mencari Eun Tak diuniversitas ternama karena Eun Tak kan pintar. Tapi apakah dia sudah menggunakan seluruh uangnya?

Bibi yakin Eun Tak belum menggunakan uangnya, dia kan tidak pandai menggunakan uang.

Wang Yeo datang menemui Shin untuk menunjukkan kartu nama yang kembali datang untuknya. Jiwa yang hilang kembali mendapatkan panggilan, dua minggu lagi dengan alasan jatuh dari gedung.

Shin dengan tenang mengucapkan terimakasih. Wang Yeon penasaran kenapa dia tidak memaki dewa seperti biasanya. Shin tidak ingin melakukannya terus lagipula hal semacam ini akan kembali terulang beberapa kali.

Shin mengingat ucapan Nenek Samshin jika Eun Tak akan tetap mati jika Shin tidak mau menyerahkan nyawanya. Tidak selamanya dia bisa menyelamatkan Eun Tak dan pastinya dia akan kehilangan kesempatan untuk menjadi abu. Ia akan hidup abadi lagi selama 1000 tahun. Hidup dalam lubang api, itulah yang akan menjadi kehidupannya. Jadi tariklah pedangnya dan menjadi abu, memang menyedihkan tapi itu adalah jalan terbaik.

Mengingat ucapan Nenek Samshin tidak membuatnya berubah pikiran “Aku tidak akan mencoba yang terbaik. Tapi ini memang menyedihkan.”


Shin memutuskan untuk menunjukkan kartu nama kematian pada Eun Tak. Eun Tak mengira kalau itu adalah kartu nama kematian Shin. Namun Shin menjelaskan bahwa kartu nama kematian itu adalah milik Eun Tak. Selama ini ia merahasiakannya tapi sekarang ia ingin mengatakan padanya. Jika Eun Tak tidak mencabut pedangnya maka Eun Tak –lah yang akan mati.

“Jadi jika aku tidak menarik pedangmu kematian akan terus menghampiriku sampai aku mati? Terus-terusan?”

Shin membenarkan, ia menyebutkan rentetan kejadian yang bertujuan untuk merenggut nyawanya. Mulai dari penculikan, kecelakaan di ski, kecelakaan saat Shin mendorongnya. Eun Tak tertegun dengan mata berkaca-kaca, dewa sungguh kejam padanya dan Shin.

Eun Tak tidak bisa berhenti memikirkan hal ini, ia menangis dikamarnya dengan sedih.

Ia pun menemui Shin dan membuat keputusan supaya dirinya saja yang mati. Shin dengan tenang bertanya, apakah mereka lakukan itu saja?

Tapi Eun Tak emang agak plin-plan sih.. hehe. Keesokan harinya, dia lebih menginginkan supaya mencabut pedang Shin saja. Kalau Shin tidak mati, ia tidak akan bisa mati tanpa pengantinnya.

“Apa kita lakukan itu saja?” tanya Shin.

Dan keesokan harinya lagi, Eun Tak menggebu-gebu menginginkan supaya mereka mati bersama saja. Shin meminta Eun Tak menatap matanya, Eun Tak tidak kuasa lagi menahan tangis.

Shin meyakinkan bahwa tidak ada satu diantara mereka yang akan mati. Ia akan mencegah semuanya. Shin memeluk Eun Tak memberikan ketenangan untuknya. Mereka harus mampu menghadapi semua ini, entah pintu apa yang akan terbuka tapi Shin berjanji tidak akan melepaskan tangan Eun Tak. Percayalah, mungkin dirinya lebih kuat daripada apa yang dibayangkan Eun Tak.

Eun Tak bersiap pergi kerja, Shin tidak ingin membiarkannya pergi. Namun Eun Tak memintanya untuk percaya padanya, dia tidak mau menghabiskan sisa hidupnya terkurung dalam rumah. Ia akan tetap bekerja, kuliah dan berjalan di trotoar seperti biasanya. Itu baru namanya hidup. Ahjussi akan melindunginya jadi dia juga akan berusaha keras untuk mempertahankan hidupnya.

Shin percaya padanya. Eun Tak tersenyum, ibunya sudah susah payah melahirkan dia jadi dia punya banyak alasan untuk tetap hidup. Dan salah satu faktornya adalah Tuan Dokkaebi, dialah yang membuatnya tetap hidup. Shin memperingatkan agar Eun Tak tidak memanjat ke tempat yang tinggi.

Eun Tak mengerti.

Shin menunggu dengan gelisah saat Eun Tak belum juga pulang ke rumah. Ia bergegas berteleportasi saat tangannya ber-asap. Tapi nyatanya Eun Tak memanggil dia karena lampu jalan berkedip-kedip dan takut ada bahaya.

Dikesempatan berikutnya, Eun Tak juga memanggilnya dengan alasan konyol lain. Katanya ada pria tampan didekatnya, orang bilang pria tampan adalah hal menakutkan. Selain itu cuma gegara pakaian bagus juga dia memanggil Shin, dia takut melihat pakaian bagus soalnya membahayakan saldo rekening. Hadeuh..

Shin dengan cuma diam tanpa memberikan protes.


Eun Tak kembali meniup korek api dan Shin muncul dihadapannya. Eun Tak mengaku merindukan Shin dan rasanya tidak bisa bernafas. Hidupnya dalam bahaya sekali saat ini.

“Aku juga.” Jawab Shin.

Keduanya tertawa dengan bahagia, kelopak bunga sakura pun berguguran didekat mereka dimusim dingin. Pertanda saat ini suasana hati Shin begitu bahagia.

Karena merindukan Sunny, Wang Yeo datang ke restoran dan menemukan ada botol soju serta ponsel yang tergeletak diatas meja. Ia memperhatikan cincin giok milik Sunny sambil memikirkan sesuatu. Tiba-tiba pintu restoran terbuka, Wang Yeo yang terkejut tanpa sengaja menjatuhkan cincinnya.

Ia pun bergegas mengambil topi dan memungut cincin tersebut. Sunnya datang kesana cuma untuk mengambil ponsel yang tertinggal saja.


Namun baru beberapa saat keluar dari restoran, Sunny kembali masuk dengan membawa ranting pohon sakura. “Tingginya sekitar 184cm. Hak sepatunya 2cm jadi dia pasti setinggi ini.” Gumam Sunny kemudian mengibaskan rantingnya.

Wang Yeo yang ada didekat sana pun kena sambar, topinya melayang jatuh dan wujudnya pun nampak dihadapan Sunny. Sunny terkejut, suaranya tercekat, bingung untuk mengatakan apa. Siapa identitasnya yang sebenarnya? Sunny masih belum bisa mencerna dengan akal pikiran, tapi siapa sebenarnya dia? Semuanya memang tidak masuk akal.. tapi setelah dipikir ulang semuanya menjadi mungkin. Siapa sebenarnya kau?

Wang Yeo mengakui identitasnya sebagai malaikat pencabut nyawa. Ia sebenarnya membayangkan sebuah akhir bahagia. Tapi seperti dugaannya, ini malah menjadi sebuah tragedi. Yeo menatapnya sedih “Apa sekarang kita berpisah?”

Eun Tak ingin mengirimkan pesan pada Shin jika dia sudah selesai masa orientasi disekolahnya. Ia ingin berkeliling disekitar kampus. Dua hantu muncul dibelakangnya berkomentar kalau mereka romantis sekali, tambahkan emoji lope-lope juga.

Salah satu hantu bercerita kalau dulunya dia juga begitu dengan pacarnya tapi sekarang dia terperangkap dalam dunia dingin penuh dendam. Lebih baik kalau Eun Tak menemui baj*ngan yang telah mencampakannya dan menanyakan beberapa hal yang ingin ia tanyakan.  

Entah kenapa, Eun Tak sepakat untuk menemui b*jing*an itu. Ia akan mengakhiri musim dingin si hantu dan melakukan balas dendam pada mantan suaminya.

Eun Tak menyiapkan senjata sebelum berperang. Ia menjajal korek apinya sebelum menemui mantan pacar si hantu.


Eun Tak berbicara dengan Tuan Lee di gedung (mantan suami Hantu Lee Jeong Hwa). Dia mengikuti gaya Jeong Hwa menyilangkan tangan didepan dada “Bagaimana kabarmu? Kau sepertinya bahagia bersama Hee Jin.”

Tuan Lee terkejut bagaimana gadis dihadapannya mengenal Hee Jin. Eun Tak kembali mengikuti ucapan Jeong Hwa dan berkata kalau Tuan Lee sudah membawa selingkuhannya saat hari perayaan ke 200 mereka. Ia menggunakan uang asuransi jiwanya untuk membelikan selingkuhannya tas cantik.

“Jadi karena itulah saat hari itu, di atap kau mendorongku?” ucap Eun Tak mengikuti kata-kata Jeong Hwa. Dia sampai terkejut sendiri sudah mengikuti ucapan Jeong Hwa.

Saat bersamaan di tempat Wang Yeo, terdapat kartu nama kematian Eun Tak.


Jeong Hwa melanjutkan jika ia merekam pembicaraan suaminya dan Hee Jin yang bersekongkol melakukan pembunuhan. Eun Tak bicara pada Jeong Hwa, kalau dia punya rekaman seharusnya dibawa ke kantor polisi, bukan begini caranya.

Mata Tuan Lee berubah mengerikan menatap Eun Tak. Teman hantu satu lagi juga ngeri melihatnya, bukankah niatnya mereka cuma mau bikin acara sitkom? Kenapa malah jadi thriller gini?

Eun Tak juga khawatir kalau mereka mati. Jeong Hwa tidak perduli, lagipula dirinya sudah mati. Eun Tak kecewa “Omo, Unni! Kau egois sekali.”

Tuan Lee sekarang tahu kalau Eun Tak mengetahui rahasianya. Ia menghampiri Eun Tak yang bodoh sudah mendatanginya ke gedung tinggi. Eun Tak memperingatkan bahwa dia akan meminta bantuan pacarnya. Mungkin dia akan menghukumnya. Tuan Lee tidak perduli dan mendesak Eun Tak kepinggiran.


Eun Tak buru-buru menyalakan pemantik api dan meniupnya. Tubuh Tuan Lee langsung terlempar jauh dengan luka dipunggungnya. Shin berdiri gagah disana dengan pedang ditangannya.

Shin membawa Tuan Lee ke kantor polisi dan menyuruhnya menyerahkan diri. Tuan Lee merangkak ketakutan masuk ke kantor.
Shin bergegas menghampiri Jeong Hwa namun Eun Tak menghalanginya lagipula dia sudah meminta maaf. Eun Tak bilang pada Jeong Hwa untuk segera pergi ke tempat yang lebih baik sekarang.

Jeong Hwa dan hantu satunya lagi menghilang dari hadapan Eun Tak.

“Kau masih marah? Tentu saja kau marah. Kau pasti mau marah.” Cecar Eun Tak sesampainya dirumah.

“Aku tidak marah. Aku hanya khawatir.”

Shin memeluk Eun Tak. Dalam pelukan Shin, Eun Tak merasa jika dirinya seperti sedang kena marah. Hatinya serasa dipukuli saja. Bukan hanya Eun Tak, Shin juga merasa begitu. Apa dia tahu apa yang ia lakukan selama satu jam ini?

“Berarti Ahjussi.. apa kau sudah selesai memarahiku?” tanya Eun Tak. Dia meledek kalau masuk kuliah nanti dia mau kencan buta dan pakai rok mini. Hehe. Kontan Shin mendelik tidak setuju.

Hoobae menemui Wang Yeo, dia tampak tidak bersemangat sama sekali. Hoobae mencoba melawak dikit tapi Wang Yeo langsung berkomentar pedas, tidak lucu. Hoobae memberitahukan maksud pertemuan mereka, atasan meminta Wang Yeo mengumpulkan dua jiwa hilang. Tapi ada satu yang belum Wang Yeo kirimkan, atasan meminta dia membuat alasan kenapa belum memberikan datanya.

Wang Yeo sudah mencarinya 20 tahun yang lalu dan dia belum menemukan informasi arwah itu. Sepertinya arwah itu sudah lama berkeliaran, dia sepertinya tidak takut pada pencabut nyawa. Wang Yeo merasa bodoh kehilangan jejaknya dan laporan yang belum ia kumpulkan memang tentang arwah itu.


Eun Tak sibuk bersih-bersih restoran. Hantu-hantu bergosip tentang wajah baru di tempat mereka. Dia hantu yang pernah lolos 20 tahun lalu dari pencabut nyawa.

Baru saja dibicarakan, sesosok hantu berjalan memasuki restoran Eun Tak. Suasana berubah horor dan ketika mengangkat kepalanya tepat dihadapan Eun Tak, hantu itu adalah hantu Kasim Park. “Senang bertemu denganmu. Jadi kau rupanya si Pengantin Goblin.” Ucapnya mengulurkan tangan yang sudah membusuk.

SINOPSIS EPISODE 12


-oOo-

3 Responses to "SINOPSIS Goblin Episode 11 Bagian 2"

  1. omo.. kasim park muncul??😨😨 makin bahaya aja ini.
    next kakak😂😙😙

    ReplyDelete
  2. Seru yaaa... Makasih sudah berbagai kesenangan juga. Semangat terus ya.... Ganbatte!!

    ReplyDelete
  3. Mengerikan wajah kasim park yg lebih mengerikan sekali bkn tampang hantu nya tapi mulut nya ituu..........

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^