SINOPSIS Goblin Episode 12 Bagian 2

SINOPSIS Goblin Episode 12 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: tvN

Saat membeli kentang manis, Sunny mengatakan jika ia sudah mengetahui identitas Kim Woo Bin sebagai malaikat pencabut nyawa. Eun Tak terkejut, dia tahu darimana? Sunny tidak mau menjawab, Eun Tak sendiri tahu dari mana?

Eun Tak bertemu melalui kejadian yang cukup aneh dan punya hubungan sejak kecil dengannya. Ia meminta maaf karena tidak bisa memberitahukannya. Tapi meskipun Woo Bin adalah pencabut nyawa, Eun Tak meyakinkan jika Woo Bin itu baik.


Sunny tahu sekarang kalau dia dan Woo Bin memang sangat berbeda. Setelah mengatahui identitas –nya, dia jadi yakin kalau Pria Yang Mengaku Sebagai Kakaknya juga seseorang yang hidup selama hampir 1000 tahun. Apa benar? Apa memang benar juga Eun Tak adalah istrinya?

Eun Tak membenarkan, secara teknis sih begitu. Dan meskipun Sunny sering berjalan disekitar rumahnya, dia yakin Bos –nya akan kesulitan bertemu dengan Kim Woo Bin karena dia selalu bekerja lembur. Ia menyarankan supaya Sunny menghubunginya saja.

Sunny enggan apalagi Woo Bin sendiri sudah menyarankan untuk berpisah. Lain halnya kalau Woo Bin menelfonnya duluan, maka ia akan langsung mengangkatnya. Pokoknya, Eun Tak harus membantunya.

Eun Tak mengiyakan dan ia juga ingin mengatakan sesuatu.. Sunny langsung menebak kalau Eun Tak ingin membahas jadwal kerjanya supaya tidak berbenturan dengan jadwal kuliah.

“Heo Daebak. Bos, apa kau itu sungguh manusia?” Eun Tak menyentuh Sunny dengan penasaran.

Rombongan pencabut nyawa datang ke restoran Sunny. Mereka semua terpesona dengan kecantikannya, sudah lama mereka tidak terpesona dengan kecantikan manusia. Hoobae menjelaskan kalau pemilik restorannya adalah seorang yang tinggal satu apartemen dengannya.

Sunny menghidangkan paket ayam untuk mereka. Pencabut Nyawa yang wanita mengatakan jika ia tidak memesannya. Sunny tahu, ini gratis karena menu baru di restorannya. Ia yakin kalau mereka capek bekerja. Sontak mereka tertegun mendengar kata “capek bekerja”.


Pencabut Nyawa wanita berjalan sendirian tengah malam. Hantu Kasim Park menemuinya tanpa takut. Ia mengaku jika dirinya mengenalnya. Bukankah dia penasaran siapa dirinya? Pencabut Nyawa itu mengira hantu dihadapannya cuma mengada-ada.

Kasim Park menyuruhnya untuk membuktikan sendiri dan ketahuilah siapa identitas-nya yang sebenarnya. Temuilah wanita pemilik restoran dan pegang tangannya. Orang yang melakukan dosa besar dilahirkan kembali sebagai malaikat pencabut nyawa.

“Di dalam diri wanita itu, tersembunyilah dosa besarmu. Dan juga aku memainkan peran besar dalam dosamu itu.”

Wang Yeo duduk termenung dengan banyak pikiran. Hoobae datang menghampirinya, apa yang sedang ia pikiran? Wang Yeo mengakui jika ia sedang memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak ia pikirkan. Hoobae menyuruhnya berhenti memusingkan hal itu, sekarang bukan waktu yang tepat. Managemen Pencabut nyawa mereka mendapatkan peringatan dari dan dia mengatakan “Jangan lupa kalau mereka adalah kriminal.”

Hoobae memberikan koper berisi catatan kematian bulan ini. Wang Yeo penasaran sendiri “Inikah jawaban yang diberikan, atau malah pertanyaan?”

Setelah memeriksa catatan kematian, Wang Yeo menemukan nama Kakek Yoo terdapat didalamnya. Ia memberitahukannya pada Shin jika Kakek Yoo akan meninggal dalam 3 jam lagi akibat serangan jantung. Dia harus mengucapkan selamat tinggal padanya.


Shin sudah mengatakan apa yang ingin ia katakan, ia tidak mau bertemu dengannya dan membuat Kakek Yoo kasihan padanya. Lebih baik, Wang Yeo saja yang menyampaikan pesan terimakasihnya pada Kakek Yoo.

“Sampaikan padanya kalau dia harus terlahir kembali dan dalam dalam kehidupan berikutnya, sampaikan padanya hiduplah dengan bebas dan jangan melayani orang lain lagi. Sampaikan kalau aku berterimakasih padanya.”


Eun Tak tidak sengaja mendengar pembicaraan serius mereka. Apa yang terjadi? Wang Yeo menyuruhnya untuk menyiapkan pakaiannya karena waktu kematian Kakek Yoo akan segera tiba. Dan juga, terus jaga Shin.

Selepas kepergian Wang Yeo, Eun Tak duduk di ruang tengah dan mendengar suara tangisan Shin.

Shin menangis sedih dikamarnya. Hujan pun turun dengan begitu deras.


Deok Hwa sibuk mengepel lantai, dia terus mengoceh akan sering-sering datang ke toko ini kalau menjadi presdir dan memeriksa pekerjaan mereka. Tidak lama berselang, Sekretaris Kim datang kesana. Deok Hwa langsung menyindirnya, apakah dia diperintahkan untuk mengawasi setiap gerak-geriknya?

“Kau harus ikut aku. Sekarang. Aku sudah menyiapkan pakaianmu. Kau bisa ganti baju di mobil.”

“Pakaian apa?”

Shin menulis dengan perasaan sedih, ia kembali kehilangan orang terdekat dan orang kepercayaannya yang sudah melalui waktu bersama selama bertahun-tahun. [Pria yang setiap saat hidupnya berhati baik. Disinilah dia berbaring. Yoo Shin Woo.]

Eun Tak menemui Shin yang terus termenung sedih dalam kamarnya. Ia memeluknya, menepuk pundaknya dengan penuh kasih sayang “Sepertinya beginilah rasanya hidup abadi. Ketua Yoo pasti akan menoleh ke belakang untuk memperhatikan kita. Karena itulah orang yang ditinggalkan harus hidup lebih tabah dan giat lagi. Kita mungkin saja menangis dari waktu ke waktu tapi kita juga harus banyak tersenyum. Itulah bentuk rasa hormat atas kasih sayang yang kau terima.”

Eun Tak menawarkan minuman hangat untuk Shin. Shin bilang akan menjemput Deok Hwa dan makan bersama dengan mereka.

Deok Hwa sampai di rumah Shin dengan tatapan linglung. Lututnya lemas dan ia terduduk ditangga dengan sedih. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Dia belum menjadi cucu yang berbakti pada kakek. Bagaimana ia hidup sekarang? Ia sendirian?

Shin berkata jika Deok Hwa tidak sendirian, ada pamannya disini. Deok Hwa mengeluarkan semua kesedihannya dan menangis di pundak Shin.

Wang Yeo dan Shin membawakan dua baki makanan tapi Deok Hwa tidak nafsu makan dan terus berbaring di ranjang dengan sedih. Shin menawarkan untuk membawakan emas batangan. Wang Yeo juga tanya apakah dia ingin berjalan menembus tembok. Eun Tak menyuruh Deok Hwa untuk memiliki kameranya.

Deok Hwa menolak lagipula Kakek yang telah memberikannya pada Eun Tak.

Wang Yeo menyesal karena tidak memberikan waktu pada Deok Hwa untuk mengetahui kematian kakeknya lebih dulu. Tapi dia juga memiliki aturan. Deok Hwa tidak menyalahkannya sama sekali. Dia pun permisi pergi.

Ia sedang membersihkan barang-barang antik di rumah Shin. Shin menghampirinya dan Deok Hwa memberitahukan jika Kakek telah mempersiapkan segalanya. Ia bahkan sudah menunjuk Sekretaris Kim untuk menjadi Presdir. Deok Hwa lega, dia memang belum siap untuk menjadi seorang presdir dan ia akan belajar dari bawah.

Ia juga ingin belajar bermain baduk pada Shin “Aku ingin belajar bermain baduk supaya aku bisa menjadi kakakmu, ayahmu, dan kakekmu. Sama seperti kakekku.”

“Ya.” Jawab Shin.


Presdir Kim (Alias Sekretaris Kim) memeriksa dokumen peninggalan Kakek Yoo. Ada dua surat disana. Yang pertama ditujukan untuk Deok Hwa dan itu berisi kartu kredit yang baru. Sedangkan untuk Presdir Kim sendiri, Kakek Yoo berpesan supaya ia menyerahkan semua kekayaannya jika seorang bernama Kim Shin menemuinya. “Dia akan menemuimu di saat hujan dan bunga ceri bermekaran.”


Deok Hwa dalam perjalanan menuju rumah Shin. Nenek Samshin berpapasan dengannya dan menyadari jika dewa sudah berada dalam tubuhnya lagi. Ia menyapanya dan membuat Deok Hwa keheranan “Siapa... kau mengenalku?”

“Aku kenal kau. Kau seorang anak yang sangat baik. Karena itulah kau menerangi dunia ini. Ingatlah, sifat baikmu itulah yang akan menuntunmu kepada keberuntungan.”

Deok Hwa mengernyit heran, ia menawarkan untuk minum bersama. Nenek Samshin menyarankan supaya dia minum dengan seseorang yang menawan. Deok Hwa rasa wanita dihadapannya juga cukup menawan.

“Aku tadi kan bilang, minumlah dengan seseorang.” Nenek Samshin pun melambaikan tangan pergi.

Shin mempersiapkan steak untuk Deok Hwa. Wang Yeo sampai iri dan ingin punya samchoon juga. Dia menyuruh Shin jangan menghiraukan ucapannya, akhir-akhir ini ia merasa hampa dan iri.

“Katakan saja padaku. Aku tahu kau itu ingin punya paman seperti aku. Paman yang sangat tampan.” Ucap Shin kemudian menatap Wang Yeo.


Shin terkejut karena ia bisa melihat kilasan wajah Raja Muda dalam diri Wang Yeo. Wang Yeo keheranan, apa ada noda diwajahnya? Shin bilang kalau ia tiba-tiba melihat bayangan wajah seseorang dalam diri Shin yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

“Wajah siapa? Wajah apa?”

“Wajah yang seharusnya tidak kulihat.”

Shin berjalan modar-mandir memperhatikan Deok Hwa yang sekarang rajin bekerja. Deok Hwa sampai terganggu karena Shin membuat kosentrasinya terpecah, lebih baik dia duduk dan membantunya. Shin mengaku bangga karena Deok Hwa akhirnya bisa menjadi berguna juga.

Ia kemudian mengambil salah satu dokumen di meja Deok Hwa. Itu adalah surat lamaran kerja seorang pria bernama Kim Woo Shik, Shin tertegun menatap foto pria tersebut.

Keesokan paginya, Eun Tak berangkat kuliah dengan bersemangat. Ia memakai dress karena ada pesta perayaan siswa baru. Shin melarangnya dan mengatakan jika Deok Hwa yang akan mengantarnya berangkat, dia ada pertemuan. Eun Tak mengerti.

“Kau melupakan sesuatu.” Ucap Shin.


Eun Tak tersipu malu sembari menepuk dada Shin manja. Ia memejamkan matanya sambil memonyongkan bibir. Hehehe. Shin mengampiri Eun Tak dan memasangkan kalung yang ia beli di Quebec “Kau sudah sempurna sekarang.”

Eun Tak senang menerima kalung itu dai ia mengingat pernah melihatnya di Quebec. Ia bertanya mengenai makna kata Destin di kalungnya. Shin bilang kalau Destin berasal dari bahasa Prancis yang berarti takdir dari surgawi.


Eun Tak menyukai kata itu, takdir.

“Tidak boleh ketemuan. Tidak boleh ikut kencan buta. Tidak boleh ada asmara. Tidak boleh ada Tae Hee Oppa. Tidak boleh ada orang yang berjarak 30m dari kalung itu. Itulah takdir yang kusuka.” Shin mempersilahkan Eun Tak pergi.

Eun Tak berdecih, padahal dia masuk kuliah untuk melakukan hal itu. Ia pun pamit dengan tersenyum riang.


Sesampainya di kantor, ponsel Shin bergetar menerima pesan video dari Eun Tak. Eun Tak menggunakan sticker goblin dalam video –nya “Aku sudah sampai di kampus. ku mengirimmu ini biar kau tidak bersedih. Semoga pertemuanmu berjalan lancar.”

Shin tersenyum, Eun Tak memakai kalung itu dan memastikan tidak ada pria dibelakangnya. Cantiknya.


Pertemuan yang dimaksud adalah pertemuan dengan Kim Woo Shik. Shin duduk dihadapan Woo Shik yang tengah menanti panggilan wawancara. Shin terus menatapnya sampai-sampai Woo Shik jadi salah tingkah.

Woo Shik rupanya adalah reinkarnasi dari pengawal setia Shin yang menancapkan pedang didadanya atas permintaan Shin. Shin menatapnya berkaca-kaca “Kita pasti merindukan satu sama lain. Karena aku masih hidup seperti ini. Kau pasti sangat kesepian. Maafkan aku.”

Setelah beberapa hari berselang, Woo Shin menerima kabar jika dia diterima bekerja. Istri dan anaknya pun sangat senang.

Presdir Kim menemuinya dan memberikan rumah serta mobil dengan alasan Woo Shik sudah melakukan wawancara dengan sangat baik. Woo Shik terkagum-kagum menerima fasilitas kantor yang ia dapatkan. Presdir Kim juga memberikan amplop berisi nama anak kedua Woo Shik yang akan segera lahir. Dia akan menerangi dunia ini dari generasi ke generasi selanjutnya.

“Tapi.. siapa anda?”

“Aku Presedir Chunwoo Group, Kim Do Young.”

Woo Shik terkejut, tapi kenapa dia memberikan semua ini padanya? Presdir mengatakan jika Woo Shik dulunya telah menyelamatkan bangsa ini.


Shin memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Woo Shik mengedarkan pandangannya dengan mata berkaca-kaca, ia menatap ke arah puncak gedung tempat Shin berdiri. Ia menatap lurus kesana tapi entah bisa melihat Shin atau tidak.

Shin marah-marah menghubungi Eun Tak yang belum juga pulang. Eun Tak yakin kalau Shin akan terkejut jika tahu dia ada dimana. Ia segera berlari menuju ke suatu tempat dan meniup korek api. Shin langsung datang tepat dibelakangnya.

Rupanya Eun Tak berada di photobox dan berhubung Shin tinggi jadinya dia sampai harus menunduk. Ia bergegas menarik Shin dan berfoto bersama. Eun Tak mengomentari Shin yang bisa tersenyum dalam foto padahal baru ngomel-ngomel.


“Kapan kita keluar dari sini?”

“Entahlah. Lima menit lagi mungkin?”

Shin ogah-ogahan. Eun Tak percaya dalam 5 menit itu mungkin ada kejadian romantis di ruang sempit ini. Shin yakin kalau hal semacam itu tidak akan terjadi. Eun Tak memberikan amplop berisi uang 5000 won untuk membayar kentang manis yang sudah mereka makan beberapa hari yang lalu pada bos-nya. Jadikan alasan itu untuk menemuinya.

Eun Tak bersiap berangkat kerja, apa Shin mau ikut? Shin menolak karena bos-nya Eun Tak menakutkan. Shin ingin duduk disana lebih lama, ia bertanya bagaimana dengan kuliah Eun Tak hari ini?

Ah.. hari ini Eun Tak membahas masalah Tae Hee Oppa. Shin langsung menyela ucapannya dengan kesal. Eun Tak cemberut, dia itu mau bilang kalau Tae Hee Oppa akan main baseball di Amerika. Dia mendengar kalau Goblin itu bisa menemukan bakat terpendam seseorang. Dia ingin memujinya kalau Goblin keren.

Shin berlagak rendah hati, dia memang sedang tidak ingin menyombongkan diri saja. Eun Tak malas mendengarkan ucapan Shin dan permisi pergi. Ia mengecup bibir Shin sebelum berpisah.
Shin tertegun beberapa saat sebelum akhirnya berpesan supaya Eun Tak menghubunginya jika ada apa-apa. Shin cengengesan sendiri, sepertinya ia ingin datang ke tempat ini setiap hari.

Anak yang kemarin dibuli menjadi dekat dengan Eun Tak. Dia bermain mengeluarkan tenaga dalamnya dan Eun Tak pura-pura kesakitan. Eun Tak mengusap kepala anak itu dengan sayang. Tapi suasana tiba-tiba jadi tegang karena kehadiran Kasim Park. Eun Tak meminta anak itu untuk segera pulang, nenek –nya pasti menunggunya.


Kasim Park memperkenalkan diri pada Eun Tak, namanya Park Joong Won. Eun Tak tidak perduli dan tidak mau tahu. Namun Kasim Park memancingnya menyebut nama Shin, apa dia tahu kalau Shin yang telah membunuhnya? Hidup Kim Shin akan panjang sebanyak nyawa yang telah ia bunuh.

“Apa yang kau inginkan?”

Kasim Park tersenyum mengerikan, dia hanya ingin menceritakan sebuah kisah menarik tentang pedang yang tertancap di dada Shin. Pedang yang tertusuk dalam dadanya Kim Shin, Wang Yeo-lah yang menusuk pedang itu. Awal dan akhir nasib tragis ini adalah Wang Yeo. Apa dia tahu dimana Wang Yeo sekarang?

“Mana aku tahu itu?”

Wang Yeo tinggal di rumah Kim Shin, ucap Kasim Park. Eun Tak tidak percaya.. namun setelah berfikir beberapa saat, wajahnya menjadi menegang. Kasim Park yakin kalau tebakannya memang benar. Malaikat pencabut nyawa yang tak bernama adalah Wang Yeo.

Kasim Park menikmati ketakutan diwajah Eun Tak, “Sekarang,tergantung padamu apakah Shin akan membunuhku atau melepaskanku, karena kematian Shin ada ditanganmu. Lihatla, kau yang mengontrol kematian.”

Eun Tak menegaskan kalau Kasim Park salah. Malaikat yang tunggal bersamanya punya nama dan namanya Kim Woo Bin. Eun Tak masuk dalam restoran, ia terduduk lemas setelah meninggalkannya.

Kasim Park tertawa, ia menginginkan kebinasaan mereka.


Hal ini menjadi beban pikiran untuk Eun Tak. Dua orang yang sekarang tinggal bersama dengan bahagia tapi ternyata keduanya musuh dimasa lalu. Ini membuat Eun Tak jadi frustasi.

Wang Yeo menemui Eun Tak, dia sedang frustasi dan tidak punya teman untuk diajak bicara. Eun Tak bisa menebak jika Wang Yeo ingin membahas mengenai Sunny. Wang Yeo bilang jika orang yang punya dosa besar akan menjadi pencabut nyawa. Dia tidak tahu dosa besar apa yang ia miliki tapi sepertinya dia punya hubuangan antara Shin dan Sun di masa lalu.


Di masa lalu, ada tiga orang yang melakukan dosa besar. Shin yang membunuh musuhnya. Raja yang membunuh Shin dan Sun. Dan Kasim Park yang mengendalikan Raja untuk membunuh Shin dan Sun.

Shin masih hidup dan Sun menjelma menjadi Sunny. Tinggal tersisa dua kemungkinan, entah dirinya Park Joong Won atau Wang Yeo. Tapi bukankah kedua orang itu tidak ada bedanya, mereka sama-sama musuh Shin. Siapapun itu.. dia tidak akan bisa bersatu dengan Sunny.

Eun Tak mengingat ucapan Kasim Park tapi dia tidak mengatakan apapun pada Wang Yeo.

Saat Sunny menutup restorannya, Malaikat Pencabut nyawa datang menemuinya. Sunny memberitahukan jika restorannya sudah tutup. Malaikat pencabut nyawa pun berniat pergi namun sebelum itu ia menglurkan tangannya mengajak bersalaman.

Sunny sempat ragu menyentuhnya.

Tepat saat bersentuhan, Pencabut Nyawa itu bisa melihat dirinya dalam ingatan masa lalu Kim Sun. Dia adalah dayang yang membawakan tonik untuk Ratu dan sepertinya itu racun. Dirinya adalah dayang jahat yang bersekongkol dengan Kasim Park.


Sesampainya dirumah, ponsel Sunny berdering. Ia bergegas mengangkatnya saat tahu Wang Yei yang menghubunginya. Wang Yeo pun mengajaknya untuk bertemu. Sunny bergegas menemuinya yang sudah berdiri didepan rumah. Dia berlagak jual mahal, dia cuma ingin mengambil cincinnya saja.

Wang Yeo terlihat lesu.

“Kenapa tampangmu seperti itu? Bukannya kau datang karena kau merindukanku?”

Wang Yeo merasa dirinya selalu mengeluarkan jawaban yang salah. Dan ia pikir jawaban yang tepat.. dirinya bukanlah seseorang yang tinggal di dunia ini dan dia tidak memiliki nama. Ia berterimakasih pada Sunny yang mau menemui orang sepertinya.

“jangan seperti itu.”

Ciuman dari seorang pencabut nyawa bisa membuat seseorang melihat kehidupan masa lalunya. Meskipun takut, Wang Yeo berharap supaya Sunny hanya mengingat kenangan indahnya saja. Dia berharap jika sebagian kenangan indahnya adalah bersama kakaknya. Kim Shin.

Wang Yeo pun mencium bibir Sunny.


Seketika itu pula, Sunny mengingat kejadian dimasa lalu. Kisah cinta Kim Sun bersama dengan Wang Yeo namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Wang Yeo menemui Kim Sun saat Shin dikabarkan kembali ke istana. Kim Sun tidak menggunakan perhiasan apapun di rambutnya. Wang Yeo marah, memangnya dia sedang berkabung atau apa?

Ia memanggil dayang dan mamasangkan cincin giok dijari Kim Sun dengan paksa. Dia menetapkan akan membunuh kakak Kim Sun dengan tuduhan pemberontakan. Jadi dia menyuruh Kim Sun memakai cincinnya sebagai seorang ratu dan menyambut kakaknya sebagai seorang pemberontak.


Kim Sun diam menatap Wang Yeo dengan sedih dan penuh kekecewaan. Wang Yeo bertanya dengan nada sedih juga “Kau memihak pada siapa? Barang sedetik pun, apa kau pernah memihakku? Barang sedetik pun apa kau pernah tulus padaku? Barang sedetik pun, apa kau pernah mencintaiku? Jangan memihak padanya.”

Wang Yeo sekali lagi menuntut Kim Sun untuk memilih menjadi wanitanya atau adik pemberontak. Kim Sun semakin kecewa saja, wanita yang mencintai raja adalah seorang adik dari pemberontak.


Sunny syok melihat masa lalunya. Wang Yeo bertanya apakah Sunny melihat Kim Shin dan dirinya dalam masa lalunya? Sunny mengangguk sambil menangis. Wang Yeo meminta Sunny menatap matanya, ia berharap jika kenangan pilu itu akan Sunny lupakan dan kenangan indah bisa bertahan dalam pikirannya.

“Dan.. lupakan aku.. aku harap.. setidaknya kau punya akhir yang bahagia.” Ucap Wang Yeo menyentuh pipi Sunny dengan penuh kepedihan.

Sunny memegang dadanya yang terasa nyeri setelah kepergian Wang Yeo. Kepedihan ini sungguh terasa menusuk-nusuk hatinya.


Keesokan harinya, Sunny baru saja membuka restorannya saat dia melihat Shin datang. Seperti biasanya, dia menyapa Shin dengan sinis. Kali ini Shin datang dengan membawa apa lagi? Biskuit atau kaos kaki?

Shin mengulurkan hutang 5 ribu won-nya, dia datang hanya untuk membayar hutangnya. Sunny menolaknya, anggap saja itu traktiran darinya.

"Tapi Oraboni, apa Yang Mulia benar-benar berkata kalau aku jelek?"

Shin tentu saja terkejut mendengarnya. Sunny meneruskan protesnya, seharusnya Shin membalas surat-suratnya biarpun dia tengah berada di medan perang. "Bagaimana bisa seorang kakak tidak mengirimi adiknya surat balasan?"


Shin begitu terkejut hingga dia sulit mengutarakan apa yang ingin dia tanyakan. Sunny meminta maaf karena butuh waktu cukup lama mengenali Shin dan karena dia tidak menepati janjinya untuk hidup bahagia.

Sunny memeluk Shin dengan berlinang air mata dan berterima kasih atas semua barang yang Shin berikan padanya. Shin pun menangis saat dia membalas pelukan Sun.

Mereka berpelukan selama beberapa saat dengan penuh haru dan Sun meminta Shin untuk sering datang mengunjungi adiknya yang jelek ini.

Wang Yeo tengah memandangi kartu nama kematian Eun Tak saat Deok Hwa mengetuk pintunya dan mengajaknya main baduk.


Di tengah permainan, Wang Yeo merasa dadanya sakit kembali. Dia mengaku sudah merasakannya sejak malam itu, saat Shin menulis nama Wang Yeo.

Deok Hwa yakin sakit dadanya Wang Yeo tak mungkin karena Shin karena malam itu Shin berada di kuil untuk mengirimkan lentera untuk nama dua orang: Kim Sun dan Wang... siapalah... Deok Hwa tidak bisa membacanya karena memakai huruf Cina. Wang Yeo tertegun mendengarnya.

Teman hantunya Eun Tak menyapa Eun Tak di tengah jalan, tapi Eun Tak terus berjalan lurus seperti tak melihatnya. Hantu kesal, mengira Eun Tak pura-pura tak bisa melihatnya lagi.

Dia mencoba menakuti Eun Tak seperti dulu. Tapi Eun Tak terus berjalan lurus menembusnya begitu saja. Hantu mencoba lagi dengan menjatuhkan buku-bukunya Eun Tak, tapi reaksi Eun Tak tak berubah. Hantu keheranan menyadari Eun Tak bukan pura-pura, Eun Tak memang tidak bisa melihatnya.

Shin datang menjemput Eun Tak saat itu, tapi Eun Tak tidak seceria biasanya. Shin menarik perhatiannya dengan berkata "Aku juga"

Baru saat itulah Eun Tak sadar dari lamunannya dan kebingungan dengan maksud Shin.

"Aku juga senang menjemputmu"

Ah, Eun Tak juga aenang Shin menjemputnya tapi dia penasaran, apa ada suatu hal baik yang terjadi pada Shin? Shin protes karena Eun Tak baru tanya sekarang.

"Adikku, Sun... akhirnya dia mengingatku"


Eun Tak ikut senang mendengarnya. Tapi bagaimana caranya Sunny mengingat kehidupan masa lalunya? Shin juga baru ingat kalau dia lupa menanyakannya.

Hal ini membuat Eun Tak berpikir dan akhirnya menyuruh Shin untuk menepi dulu. Begitu mereka sudah aman di tepi jalan, Eun Tak meminta Shin untuk mendebgarkan apa yang akan dia katakan tanpa marah-marah.

Shin jadi penasaran, apa yang mau Eun Tak katakan? Eun Tak mengaku kalau dia bertemu dengan arwah. Sepertinya itu adalah roh Kasim Park Jong Woon. Sekali lagi dia meminta Shin untuk tidak marah sebelum mengaku bahwa dia mengetahui Kasim Park karena mendengarkan percakapan Shin dan Wang Yeo waktu itu.

Awalnya dia kira itu cuma roh jahat, tapi sekarang dia tak yakin apa yang sebenarnya diinginkan hantu itu. Eun Tak merasa hal-hal aneh yang terjadi di sekitarnya adalah karena hantu Kasim Park itu. dia menduga Sunny bisa mengingat kehidupan masa lalunya juga mungkin karena hantu Kasim Park itu.

Shin lega Eun Tak memberitahukan masalah ini padanya dan emnyuruh Eun Tak untuk diam di rumah, rumah goblin adalah tempat yang paling aman.

Setelah mengantarkan Eun Tak pulang, Shin berdiri di atas atap gedung, mengedarkan pandangannya ke seluruh kota hingga akhirnya dia mendengar suara kehadiran hantu di kejauhan.


Hantu Kasim Park sedang mengikuti seorang pria yang sedang mabuk berat, mungkin untuk dirasuki. Tapi sebuah tangan lain tiba-tiba mencekiknya.

Shin menyudutkannya ke tembok gang dengan cekikan kuat sambil membawa pedangnya. Hantu Kasim Park tak menyangka akan bertemu Shin padahal dselama 900 tahun dia selalu berhasil menghindari Shin.

"Jangan khawatir, akan akan segera menyingkirkanmu secepat mungkin. Tapi kau harus memberitahuku, kenapa kau tiba-tiba muncul setelah bersembunyi selama 900 tahun?"


Hantu Kasim Park mengejek Shin karena selama 900 tahun, Shin tidak tahu kalau selama itu musuhnya selalu mengikutinya. Kesal dengan lidah kurang ajar Kasim Park, Shin menyatakan akan memotong lidah Kasim Park lebih dulu.

Shin menebaskan pedangnya, tapi Kasim Park tetap baik-baik saja, pedang itu tidak mempan padanya. hantu Kasim Park langsung tertawa licik dan berkata kalau Shin tidak akan bisa melukainya dengan pedang itu.

Dia lalu menghilang dan muncul kembali di ujung gang dengan senyum remeh. Hanya karena hidup sebagai goblin, apa Shin pikir itu menjadikannya Yang Maha Kuasa?

"Aku akan tetap membunuhmu apapun yang terjadi, jadi jangan khawatir." ucap Shin sambil mendekati Kasim Park.

Tapi Kasim Park langsung merasuki tubuh si pemabuk dan menjadikannya tameng. Shin langsung membeku dan menurunkan pedangnya.

Saat Kasim Park keluar dari tubuh si pemabuk, Kasim Park berkata bahwa selama 20 tahun Shin menghabiskan waktu dengan sia-sia, kekuatan Yeo malah semakin bertambah. Apa Shin tahu identitas asli Malaikat Maut yang tinggal bersamanya itu?

"Dia adalah orang yang memberimu pedang itu dan menusukkannya kedalam jantungmu. Orang itu adalah Wang Yeo."

Shin tak percaya, tapi Kasim Park semakin meyakinnya dengan berkata bahwa adik Shin jatuh cinta lagi pada Wang Yeo di kehidupan sekarang.

"Aku kasihan padamu, kau tidak akan bisa membalaskan dendammu," ucap Kasim Park dengan seringai liciknya.

Shin mulai teringat kembali dengan segala keanehan Wang Yeo. Saat dia dengar Wang Yeo menangis karena melihat lukisan Sun, saat Wang Yeo mengaku tak ingat apapun tapi entah kenapa dia merasa sangat sedih dan patah hati melihat lukisan Sun, dan saat dia melihat kilasan wajah Raja dalam wajah Wang Yeo.

Sekarang Shin ingat dengan cincin giok yang pernah Wang Yeo perlihatkan padanya itu. Itu adalah cincin yang dipakai Sun di hari kematiannya. Puas melihat amarah di wajah Shin, Hantu Kasim Park pun pergi.


Shin langsung pergi mencari Wang Yeo ke ruang tehnya dan kamarnya, tapi Wang Yeo tak ada dimana-mana. Wang Yeo sendiri ternyata berada di kuil tempat Shin menyemayamkan nama-nama almarhum Kim Sun dan Wang Yeo.

Sunny hendak menutup toko saat Shin tiba-tiba muncul dari belakangnya dan bertanya apakah Malaikat Maut ada dalam kehidupan masa lalu Sunny?

Sunny tampak gugup saat dia berusaha menghindari pertanyaan itu, tapi Shin terus bertanya apakah Malaikat Maut adalah Wang Yeo? Saat Sunny diam saja, Shin pun menyadari kebenarannya.

"Bahkan di kehidupan ini, kau masih melindungi si bodoh itu," ucap Shin getir.


Wang Yeo termenung di ujung tangga kuil sembari berpikir, apakah dia benar-benar Wang Yeo? "Perasaan tanpa ingatan, apakah itu adalah hukuman yang kuberikan pada diriku sendiri agar aku tak lupa akan diriku sendiri?"

Shin datang saat itu dan mulai nenaiki tangga sama seperti saat dia menaiki tangga istana Goryeo dulu. Wang Yeo berpikir bahwa dirinya adalah kenangan paling buruk bagi Sun dan Shin.

"Kau mendengar suaraku, kan?" tanya Shin mengumumkan kedatangannya, "aku juga bisa mendengar suaramu. Aku mendengarnya dengan sangat jelas."

Shin terus naik dan naik. Berbeda dengan saat di Goryeo dimana Shin gagal mencapai Raja, sekarang dia berdiri tepat di hadapan Wang Yeo dan langsung mencekiknya sambil berkata, "Prajurit Kim Shin... datang menghadap, Yang Mulia."

Goryeo,

Wang Yeo tampak begitu kusut sambil memeluk jubah kebesaran Sun yang bersimbah darah. "Baju kerajaan ini sekarang tak ada pemiliknya. Mungkin inilah yang kau cari. Jadi ambillah." ucap Wang Yeo lalu melempar baju itu ke api dan berjalan pergi.


Dengan kesedihan yang begitu mendalam dia menambahkan "Ini adalah titah raja."


16 Responses to "SINOPSIS Goblin Episode 12 Bagian 2"

  1. Rasanya pengen nangis kisah cinta tragis sun dan wang yeo di goreyo eh terulng lgi di masa depan,apa eun tak akan mati This is the best drama i ever watch after jang ok jung

    ReplyDelete
  2. Ini takdir kedua yang menyedihkan selain tentang kematian eun tak dan Kim shin adalah fakta mereka berdua bermusuhan. Semakin mendekati akhir, plis jangan sad ending :-(

    ReplyDelete
  3. keren,,semangat berkarya kaka ๐Ÿ˜€

    ReplyDelete
  4. makin kesini, ceritanya makin menyedihkan๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ berharap kalo haooy ending pleasee.
    thanks kakak sinopsisnya. fighting kakak๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

    ReplyDelete
  5. Gk sabar tunggu episode selanjutnya ๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข

    ReplyDelete
  6. Yaampun,dramanya keren banget , aku ga kepikiran lo.emang penulisnya oke banget . Ini kalo happy ending malah kaya bakal maksain gitu , akan lebih baik kalo ini drama sad ending

    ReplyDelete
  7. Wah mulai deres nih air mata๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ
    Makin penasaran gimna ending nya
    Semoga bukan sad ending
    Makasih unnie...tetep semangat ya nulisnya๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž

    ReplyDelete
  8. Wah mulai deres nih air mata๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ
    Makin penasaran gimna ending nya
    Semoga bukan sad ending
    Makasih unnie...tetep semangat ya nulisnya๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž

    ReplyDelete
  9. Keren... Wah harus sabar nunggu lanjutanya.. Semangat kakak buat sinopsisnya.... Trimkash..๐Ÿ‘ผ๐Ÿ˜‡๐Ÿ‘๐Ÿ™Œ๐Ÿ˜๐Ÿ™†

    ReplyDelete
  10. Gomapta udh ditulisin sipnosisnya jd berasa ngulang dramanya. Kayanya ada yg kurang klo blm baca sipnosisnya walau ud nonton dramanya

    ReplyDelete
  11. Sedih...mudah2an happy ending jgn sad ending

    ReplyDelete
  12. Ini episode yang bikin sedih semoga happy ending... ditunggu synopsis episode selanjutnya

    ReplyDelete
  13. Hororr liat hantu kasim park๐Ÿ˜ฃ..ditungggu episode selanjutnya

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^