SINOPSIS Hwarang Episode 6 Bagian 2

SINOPSIS Hwarang Episode 6 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: KBS2


A Ro terkejut melihat puluhan anggota Hwarang yang meringis kesakitan di halaman. Ia jadi pesimis melakukannya lagipula dia juga bukan tabib. Ia hanya belajar dengan memperhatikan ayahnya saja.

Itulah kenapa Joo Ki memerintahkan A Ro, kasus ini sangat sensitif dan tidak boleh menyebar apalagi ini baru awal pelatihan Hwarang tapi sudah terjadi perkelahian hebat. Ia mengedipkan matanya membujuk, hutang A Ro akan dia potong setengahnya.

Pasien terus berdatangan, tapi A Ro belum juga bertemu dengan Sun Woo. Ia celingukan mencari keberadaannya.

Anak-anak bergosip akan hukuman yang diterima oleh Sun Woo, mungkin dia bisa ditendang. Apalagi profesi ayahnya hanya seorang dokter, tidak sebanding dengan Ban Ryu. Salah satu dari mereka berkata kalau bangsawan tidak akan salah dan petani akan selalu salah. Temannya menimpali, bukankah sistem kebangsawanan tidak berlaku disini?

“kau tidak bisa menyingkirkan sistem kebangsawanan dengan mudah.” Timpal yang lain.

Han Sung memperhatikan mereka dari kejauhan sambil memeluk tiang. Yeo Wool berada disampingnya, ia yakin kejadian ini akan menjadi keributan untuk sementara. Ngomong-ngomong, Han Sung berada dipihak siapa? Si Setengah Bangsawan atau Ban Ryu?

“Yang jelas bukan Ban Ryu.” Jawab Han Sung.

Yeo Wool hanya tersenyum dan memberitahukan bahwa lengan Han Sung berdarah. Han Sung baru sadar, ia mewek memperhatikan lukanya sendiri.


Soo Ho menemui Ban Ryu, dia menuduhnya sebagai biang dari keributan di meja makan dan aula. Ban Ryu tidak mau disalahkan, bukankah dia melihat sendiri kalau Sun Woo yang memukulnya lebih dulu.

“Kau seharusnya tidak mengungkit tentang adiknya.”

Ban Ryu masa bodoh, itu adalah cara terampuh untuk memancingnya. Soo Ho yakin ada sesuatu yang terjadi dengan Ban Ryu. Awalnya dia menolak untuk menjadi Hwarang, tapi kenapa dia akhirnya kemari?

Ban Ryu ingat bagaimana Park Young Shil menyiksa ayahnya dihadapannya saat dia menolak untuk menjadi anggota Hwarang. Ia memegang kepalanya dengan marah “Katakan padaku kalau kau ingin berkelahi. Aku tidak mau mendengarkan celotehanmu.”

A Ro berniat menjahit luka di lengan Han Sung. Han Sung sengaja membuat-buat suaranya menjadi lebih wibawa, dia mempersilahkan A Ro melakukannya. A Ro tahu kalau sebenarnya Han Sung khawatir, berapa umurnya? Dia tampak masih muda.

Han Sung menyangkal kalau dia lebih tua daripada A Ro. A Ro meminta Han Sung untuk mengunyah makanan kering supaya dia bisa menahan rasa sakit. Han Sung menolak dan pura-pura kuat.

“Aku memintamu untuk mengunyah o-ra-bo-ni.” Ucap A Ro.

Kontan Han Sung memakannya dengan sukarela. Dia tahu kalau A Ro adalah Putri Ahn Ji, dia berkata kalau A Ro anak setengah-bangsawan yang paling terkenal di rumah Hwarang. A Ro celingukan dan banyak anggota Hwarang memperhatikannya.


Ui Hwa membawa Sun Woo ke gudang. Sun Woo bertanya apakah jika ia tidak melawan, menjadi pemalu dan tidak melakukan apa-apa, ia akan tetap berada disini? Apa itu Hwarang yang mereka inginkan?

“Apa kau menyesal?” tanya Ui Hwa.

Tidak. Sun Woo hanya berfikir dan ia percaya jika tidak ada dinding yang bisa menghalanginya. Ia berkata akan berkata benar jika benar atau salah jika salah. Entak yang sakit, yang lemah ataupun cantik, ia akan melindunginya entah apapun yang terjadi.

Ui Hwa tertawa mendengarkan ucapan Sun Woo dan mengurungnya di gudang jerami.


Ji Dwi menemui A Ro dengan terburu-buru, rupanya benar jika ia berada disana. A Ro terkejut bisa bertemu dengannya, apa dia melihat Oraboni-nya? Ji Dwi heran karena A Ro terus saja menyebut Oraboni-oraboni, memangnya pasiennya belum cukup.

A Ro tidak memperdulikan ucapan Ji Dwi, memangnya siapa yang telah menyebabkan kekacauan ini? Dimana Oraboninya? Ji Dwi tidak menjawab dan menyeretnya menuju ke suatu tempat.

Sun Woo duduk merenung memikirkan ucapan A Ro yang menyuruhnya untuk tidak terluka lagi. Ia mendesah “Tapi aku terluka lagi.”

“Berhenti. Apa yang kau lakukan?” kesal A Ro.

Ji Dwi memegangi lehernya dan berpura-pura sakit. Dia tidak bisa tidur karena kena pukul. Ia meminta waktu untuk A Ro menemaninya tidur selama 30 menit saja. Lagipula mereka sudah sempat tidur bersama. A Ro tentu saja menolak tapi Ji Dwi mengurangi tawarannya menjadi 15 menit. Ia pun bersender di punggung A Ro.

“Aku tidak tahu apakah kau benar-benar tabib, tapi kau adalah obatku. Kau adalah tonik tidur yang sangat efektif.”

A Ro mengeluh karena ini bukan waktunya berada disini, ia harus mencari kakaknya. Tapi baru beberapa saat senderan, A Ro sudah bisa mendengar suara dengkuran Ji Dwi.


Ratu Ji So datang ke Rumah Hwarang. Soo Ho tanpa sengaja berpapasan dengan Ratu dan pengawalnya. Ia kembali terpesona dengan sosok Ratu meskipun wajahnya tertutup topi. Pengawal Ratu bertanya dimana ruangan instruktur berada?

Soo Ho menawarkan diri untuk mengantarkan mereka. Selepas kepergian Ratu, Soo Ho masih membeku beberapa saat. Sepertinya jantungnya berdegup kencang “Tidak. Aku dalam masalah.”


Ratu Ji So tidak suka dengan cara ajar yang dilakukan oleh Ui Hwa. Ui Hwa tertawa menanggapinya, selama tidak ada pembunuhan atau korban yang menjadi bisu, bukan menjadi masalah untuknya. Jadi katakan saja, sebenarnya apa alasan Ratu datang kesana? Karena Hwarang pilihannya atau Hwarang pilihan Ratu?

“Siapa Hwarang pilihanmu?” tanya Ratu.

Ui Hwa berbohong mengakui Ji Dwi sebagai keponakan jauhnya. Ratu Ji Soo cuma tersenyum kecil mengetahui kebohongannya.

“Aku ingin bertanya sesuatu pada anda. Kenapa anda menjadi Putra Tuan Ahn Ji sebagai anggota Hwarang?”

Ratu Ji So dengan enteng mengatakan jika dia adalah anaknya. Ia pernah menjadi tunangan Tuan Ahn Ji, jadi putra Tuan Ahn Ji adalah Putranya. Ui Hwa tersenyum menawarkan supaya Ratu bisa bertemu dengan putranya.


Ratu memarahi Sun Woo karena dia menjadi Hwarang pilihannya namun malah berakhir dalam penjara. Sun Woo tetap tenang, dia juga sebelumnya bertanya-tanya kenapa Ratu menginginkannya menjadi anggota Hwarang. Padahal kalau ia membunuhnya, itu adalah hal yang mudah. Tapi sepertinya membunuh saja tidak cukup bagi Ratu, ia ingin mengirimkan hewan lemah sepertinya untuk dicabik-cabik disini. Sun Woo sadar kalau dia adalah mangsa yang sempurna.

Ratu Ji So memperingatkan bahwa Sun Woo adalah tahanan disini. Kalau dia tidak bisa membayar kejahatannya maka adik dan ayahnya yang akan membayarnya.

Sudah cukup lama Ji Dwi tidur di pangkuan A Ro. A Ro pun menggerakkan kakinya sehingga Ji Dwi bangun.


Ji Dwi tadinya ingin mengomeli A Ro tapi ia melihat ke arah pondokan yang agak jauh dan disana ada Ratu Ji So yang memperhatikan mereka. Ji Dwi mengaku sudah tertangkap pada A Ro dan memberitahukan bahwa kakak A Ro ada di gudang. Kakaknya yang menjadi awal dan akhir dari keributan ini.

Sontak A Ro panik, kenapa dia baru mengatakannya? Ia pun buru-buru pergi darisana.


A Ro membawa kompresan untuk merawat luka Sun Woo. Sun Woo panik kemudian memastikan tidak ada yang mengikuti A Ro. Ia pun mendobrak pintunya dan membawanya masuk ke gudang. Sun Woo menatapnya tanpa mengatakan apapun. A Ro jadi canggung, ia meyakinkan jika ia masuk menjadi tabib. Dia tidak menyelinap jadi tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Apa dia baik-baik saja?

Tidak baik-baik saja, ini semua karena A Ro masuk ke rumah Hwarang. Sun Woo berniat mengantarkan A Ro keluar. A Ro menolak “Kalau begitu jangan sampai kau terluka. Hanya luka itu yang aku lihat sekarang. Aku tidak tahu bagaimana masa lalumu tapi kau tidak boleh terluka lagi karena kau memilikiku. Kalau kau terluka, aku akan merawat semuanya.”

Sun Woo tertegun mendengarkan ucapan tulus A Ro. Ia menurut untuk mendapatkan perawatan dari A Ro. Meskipun kelihatannya kuat, Sun Woo tetap meringis kesakitan saat obat menyentuh lukanya. A Ro mengatainya cengeng, lagipula ini adalah obat terkenal. Nama obatnya tidak akan sakit kalau kau bersikap baik. Sun Woo tertawa mendengar ucapan A Ro.

“Aku senang melihatmu tertawa.”

“Kapan? Bagaimana aku tertawa?” ucap Sun Woo stay cool.

“Kau.. sangat jarang tertawa, tapi dengan senyum yang sangat cerah.”

Sun Woo sempat tertegun kembali sebelum akhirnya menggerutu sebal, dia tidak suka kalau brandal disana melihatnya. A Ro rasa sudah terlambat karena dia sudah bertemu dengan semua brandal itu.

Joo Ki mengantarkan A Ro pulang, dia sudah bertemu dengan Oraboninya tapi dia tidak tampak senang atau sedih. A Ro juga tidak tahu. Joo Ki bertanya, apakah benar kalau si topi petani itu adalah Oraboni –nya?

“Apa?” tanya A Ro.


Sun Woo memperhatikan obat oles yang ditinggalkan oleh A Ro. Ia kembali mengingat ucapan A Ro ketika mengobati lukanya. A Ro bilang kalau dia tidak bertemu dengan Sun Woo selama 10 tahun tapi beberapa hari tanpa Sun Woo malah terasa lebih lama. Mungkin kalau kakaknya tidak muncul, ia tidak akan memperdulikannya. Tapi sekarang, ia terus mengkhawatirkannya.

“Mungkin ini yang disebut keluarga.” Pungkas A Ro.


Ratu kembali memanggil Ui Hwa, dia ingin Ui Hwa untuk mengubah cara ajarnya. Dia memerintahkannya untuk membangun Hwarang bukan membunuhnya. Hwarang tidak akan bertahan lama jika ia terus menendangnya hanya karena alasan kecil. Tanpa Hwarang, bagaimana ia memecahkan masalah pemerintahkan dan masa depan yang baru?

Ui Hwa membahas tentang kewenangan yang sudah Ratu Ji So berikan padanya. Apa dia sudah berubah pikiran?

Tidak, Ratu Ji So hanya tidak mau kehilangan semua Hwarangnya. Ia akan menarik kembali kewenangan Ui Hwa jika ia rasa standar yang Ui Hwa punya tidak benar.
Ui Hwa keluar dengan senyum remeh seperti biasa. Ia berpapasan dengan Park Young Shil yang berbasa-basi dengannya. Tuan Park menawarkan untuk minum anggur dirumahnya, atau haruskan ia datang ke rumah Hwarang? Putranya yang bernama Ban Ryu juga ada disana. Dia disebut sebagai Saudara Raja.

“Saudara Raja?” batin Ui Hwa.

Tuan Park menawarkan untuk menentukan hari pertemuan. Ui Hwa tertawa, bagaimana kalau besok?... ditambah tiga puluh tahun lagi dari sekarang. Ia pun berjalan meninggalkan Tuan Park dan Tuan Park memandangnya tidak suka.


Ui Hwa menemui Sun Woo, ia memutuskan untuk membiarkan Sun Woo tetap berada disana. Tapi dia akan mencabik-cabiknya sehingga ia bisa mengeluarkannya perlahan. Kalau dia mendapatkan tiga peringatan maka ia harus keluar dari Hwarang. Mungkin akan menjadi pengalaman menyakitkan karena ia harus belajar seberapa bodoh dan menyedihkan dirinya. Pergi dengan sukarela mungkin akan menjadi pilihan paling bijak. Mau pergi atau tetap tinggal?

Sun Woo tegas “Aku hanya punya satu pilihan. Aku akan tetap tinggal.”


Kembali diadakan pertemuan di aula, Ui Hwa membuka gulungan besar bertuliskan air. Ia bertanya apa makna dari kata itu? Apakah lemah atau kuat? Kalau kuat, seberapa kuat? Kalau lemah, seberapa lemah?

Soo Ho berpendapat jika air kuat karena dia bisa mengalahkan api. Ban Ryu sebaliknya, ia berpendapat kalau air lemah karena selalu menghindar jika bertemu halangan. Ji Dwi fikir air adalah sesuatu yang baik. Ia merangkul semua makhluk dan menyelamatkan biji yang mati. Selalu rendah hati dan mengalir menuju ke tempat yang lebih rendah, itu karena air tidak pernah berusaha menjadi kuat.

Sun Woo diam memperhatikan mereka. Ui Hwa tidak membuang kesempatan dan mempertanyakan pendapatnya. Sun Woo sempat tergagap tapi ia berkata kalau air itu lelah. Air selalu memberi sampai akhirnya tanah mengering karena tidak ada yang diberikan lagi. Air lelah.

Ui Hwa tersenyum kemudian membuka gulungan lain bertulikan “Raja”. Tugas pertama mereka adalah mendiskusikan raja sebagai air. Selain itu, “Tao Te Ching” menjadi latar belakangnya. Tae Te Ching adalah ajaran yang membas mengenai nilai – nilai kealamian.

Sontak mereka semua memegangi kepada dengan frustasi sedangkan Sun Woo cuma bisa kedip-kedip mata kebingungan.

A Ro terkejut mendengar kabar kalau Hwarang di beri tugas Tae Te Ching. Ini sama saja memaksa orang lumpuh untuk berjalan. Ia mengkhawatirkan Sun Woo karena Sun Woo mengira didunia ini cuma ada 200 karakter huruf saja.

“Apa yang kau inginkan dari kami?” bentak A Ro pada Joo Ki.

Ahn Ji sedang sibuk memilih bahan kering di pasar. Seseorang dengan topi petani menghampirinya, bagaimana kalau epidemik-nya menyebar? Mereka yang memiliki banyak obat-obatan akan mendapatkan banyak uang.

“Apa kau mengenalku?”

Pria bertopi mengangkat topinya, ia adalah Woo Reuk.


Woo Reuk menuntut penjelasan kenapa Ahn Ji tidak membiarkan Sun Woo untuk hidup dengan tenang? Dia telah menyerahkan segalanya demi hidup tenang tapi Ahn Ji malah menjadikannya sebagai Hwarang. Ahn Ji berkata jika itu adalah takdir Sun Woo dan takdirnya.

Woo Reuk geram, takdir? Dia tahu kalau Ahn Ji menggunakan anak itu untuk membalaskan dendam putranya. Tapi anak itu tidak seharusnya keluar ke dunia. Asal Ahn Ji tahu, dia telah mengunci takdir tertutupnya. Ahn Ji bingung, memangnya siapa anak itu? Tidak mau menjawabnya, Woo Reuk pun pergi dari sana.

Sun Woo membandingkan huruf-huruf dibuku dan di dadu. Padahal halaman adalah bagian yang putih dan hitam adalah tulisannya. Cuma begini, tapi kenapa sangat sulit? Desah Sun Woo tidak bisa memahami apapun.

A Ro masih berada di rumah Hwarang mengobati juru masak. Joo Ki senang jika A Ro ada disana tapi sampai kapan dia berada disana? A Ro mendesah, dia akan segera memberitahukannya.

Sun Woo berjalan menuju ke perpustakaan. Anak-anak memperhatikannya dengan sembunyi-sembunyi. Sun Woo sampai heran dibuatnya.


Sesampainya ke perpustakaan, ia membuka pintu dan A Ro berada tepat dihadapannya. A Ro buru-buru menutup pintu. Ia kebingungan harus mengatakan apa pada Oraboni-nya. Tapi meskipun pintu sudah dikunci, masih ada pintu yang terbuka dari sisi lain.

Sun Woo menghampirinya, “Apa aku berhalusinasi?”

“Kau berhalusinasi. Aku hantu.”

“Aku rasa hantu tidak sebodoh ini.” Sindirnya “Kenapa kau disini? Apa belum semua laki-laki kau temui?”

A Ro tahu kalau Sun Woo mengkhawatirkannya tapi apa bedanya jika di berada diluar dan disini. Diluar, dia bisa diculik oleh siapa saja dijalan. Tapi kalau disini, ia punya Sun Woo yang bisa menjaganya. Sun Woo memalingkan wajah sambil melipat tangan didepan dada, tetap tidak boleh.

A Ro ikut melipat tangannya “Kau hanya tahun 200 karakter. Lalu apa yang akan kau lakukan dengan Tao Te Ching?”


Malam harinya, A Ro mengajari Sun Woo menulis karakter. A Ro menyuruhnya untuk menyalin tulisan dan Sun Woo sekali lagi mempertegas jika A Ro harus pergi kalau ini sudah berakhir. A Ro sampai kesal bicara, sudah berapa kali dia katakan padanya.

Sun Woo meletakkan tangan A Ro, meminta dibimbing. Mungkin pertama kali menulis akan susah jadi lebih cepat seperti ini. Meski agak canggung, A Ro dengan telaten mengajarinya dan Sun Woo beberapa kali curi-curi pandang pada A Ro.

Malam berikutnya, Sun Woo kembali bangun tengah malam setelah memastikan semua anggota lain tidur. Tapi ternyata Ji Dwi belum tidur dan memperhatikan kepergiannya.


A Ro memuji Sun Woo yang baik dalam segala hal. Dia berlatih menulis dan menunggang kuda dengan cepat. Sebenarnya apa yang ia tidak bisa, anak muda? Sun Woo memintanya jangan kurang aja. A Ro bercanda dengan berlagak seperti guru yang marah.

Karena asik bergurau, A Ro tanpa sengaja menyenggol tangan Sun Woo dan mencoret tulisannya. Sun Woo tidak terima dan ingin mencoret wajah A Ro. A Ro menepis tangannya sehingga wajah Sun Woo terjoret. Sun Woo makin tidak terima, ia membalas A Ro dengan mencoret wajahnya sana-sini.

Ada hati yang panas nih, tanpa mereka sadari, Ji Dwi terus memperhatikan kemesraan “kakak-adik” itu.

Ji Dwi merenung di aula memperhatikan kata “Raja”


Pertemuannya dengan Ratu Ji So terngiang dikepalanya. Ia memberikan pilihan, menjadi Ratu atau Ibu? Ia akan ikut dengan pilihannya.

Ratu Ji So marah dengan ucapan Ji Dwi, apakah dia ingin menyerah untuk menjadi Raja? Jika dia tetap diam mengenai siapa identitanya maka tidak seorang pun akan tahu. Jangan membuatnya semakin kecewa. Jangan memojokkannya hingga dia tidak bisa menangani Ji Dwi dan akhirnya membuangnya.

A Ro sibuk memilih buku. Ji Dwi tiba-tiba datang dan menjagal tangannya. Ia langsung membuka lengan baju A Ro, tanda bintang buatannya masih ada. Kapan dia akan membayar hutangnya?

“Sudah aku katakan padamu.. aku akan membayarnya dari waktu ke waktu.”

“Ada cara lain untuk membayarnya.”

Hahaha.. caranya dengan A Ro mengajarinya menulis. Suasana menjadi canggung, Sun Woo menatapnya sebal. Kenapa dia ada disana? Ji Dwi ingin menjelaskan tapi A Ro menghentikannya. Ia mengajak mereka untuk mulai menulis.

Tapi acara belajar menjadi kacau, soalnya Sun Woo sengaja mencoret tangan Ji Dwi. Ji Dwi membalas dengan menyikut lengannya. Mereka saling balas terus selama waktu belajar.

Sun Woo benar-benar serius belajar. Ui Hwa pun melihat keseriusannya. Dia cuma menegur “Hei!”

A Ro berjalan mendekati Oraboni-nya yang duduk di perpustakaan. Ia menepuk punggungnya dan meletakkan jarinya di pundaknya. Oraboni A Ro menoleh.. tapi ternyata dia bukan Sun Woo melainkan Ji Dwi.

A Ro meminta maaf karena dia kira Ji Dwi adalah kakaknya. Ji Dwi kesal karena A Ro selalu saja membahas oraboni. A Ro sebal, memangnya kenapa? Dia memang oraboninya, kalau bukan oraboni jadi dia harus memanggilnya apa?

Mereka berdua akhirnya belajar, A Ro menggambar sesuatu dengan telaten. Ia mengaku sering menemui orang yang tidak bisa menulis tapi barukali ini bertemu dengan orang yang tidak bisa membaca. Apa dia tidak bohong?

Ji Dwi mengaku tidak tahu apa-apa jadi A Ro harus mengajarkan semuanya. A Ro meletakkan gambar kupu-kupu dihadapan Ji Dwi. Karakter yang ia tulis artinya kupu-kupu, kalau dia melihat ke gambar dari pada kata-katanya, maka dia akan melihat kata-kata dalam gambar.

Ji Dwi melakukan apa yang dikatakan A Ro. Benar saja, ia berimajinasi jika kupu-kupu terbang dihadapannya. Dengan serius ia meminta pada A Ro untuk menuliskan sesuatu.

Sun Woo dalam perjalanan ke perpustakaan.

A Ro menggambarkan Raja sebagai anak burung yang terjatuh dari sarangnya. Menatap ke atas pohon memperhatikan induknya. Induknya hanya berdiam di sarang tanpa menyelamatkannya.


“Aku tidak tahu apa yang orang lain pikirkan, tapi aku kasihan pada Raja tanpa wajah. Ratu tidak berencana turun takhta, jadi dia harus menjadi kuat dengan kemampuannya sendiri untuk bisa terbang. Menjadi Raja bukanlah menjadi keinginannya dan tidak bisa keluar melihat dunia. Dia adalah burung kecil yang terjatuh dari sarangnya.

“Ada orang yang tidak seharusnya lahir. Kalau dia tidak lahir, dia tidak akan didorong jatuh dari sarangnya.”



A Ro tidak sependapan, dia mengasihaninya tapi kenapa Ji Dwi begitu. Ji Dwi marah dan memojokkan A Ro ke dinding. Air mata mengalir diwajahnya, memangnya dia siapa sampai berani mengasihani Raja?

A Ro bingung, dia tidak tahu apa yang salah tapi jika Ji Dwi begitu maka Oraboni tidak akan memaafkannya. Ji Dwi menyuruhnya berhenti bicara Oraboni.

“Oraboni ku akan..."
Ji Dwi emosi dan mengunci mulut A Ro yang bicara Oraboni terus. Ia menciumnya!!

Sun Woo sudah berada di depan pintu perpustakaan dan berniat membukanya.
-oOo-
Note:

Aku bingung deh sama hubungan antara Ahn Ji dan Ratu.. Awalnya aku pikir tuh si Ratu ibunya Mak Moon. Tapi setelah dipikir ulang, masa iya Raja menikah sama wanita yang pernah nikah. Di Episode ini dikatakan kalau mereka cuma tunangan.

Terus yang bikin penasaran adalah identitas Sun Woo. apa dia pernah amnesia atau gimana sih, mungkin dia punya trauma atau sesuatu? (inget dia sering sakit kepala) Apa dia keturunan ningrat atau kenapa? 

Tinggalin aja dulu yang bikin penasaran. Minggu besok ada scene yang paling aku tunggu!
Antara adik Soo Hoo, Soo Yeon sama Ban Ryu. hahaha.. Aku udah dapet bocoran dari acara interview gitu. Si Soo Yeon itu lagi ada dipasar gitu lah, nah tiba - tiba Soo Yeon dateng terus megang pant*t-nya Ban Ryu (mungkin dikiranya Ban Ryu itu Soo Ho). Kontan Si Soo Yeon jejeritan , Soo Ho -nya dateng marah-marah. Dia niat pengen mukul si Ban Ryu.. ehhh.. belum sempat mukul malah udah di pukul adeknya duluan.

Emang sih karakter Ban Ryu ini salah satu yang aku suka. Karakter evil kadang emang bikin gemes sih. Tapi yang jelas dia ga bakal evil terus. Aku yakin dia terlalu memandang status bangsawan sebagai hal yang harus di hormati karena itu didikan dari Park Young SHil. Apalagi bagaimana Park Young Shil memperlakukan Ayahnya dengan kasar hanya karena kedudukan dan tingkat kebangsawanannya lebih rendah. Karakternya akan tumbuh sepanjang berjalannya waktu.



Oiya, aku saranin buat nonton 1 night 2 days (ep 476-477) yaaaahh... Park Seo Joon lucu banget disana! Apes mulu sedangkan Min Ho -nya selalu beruntung.

EPISODE 7





10 Responses to "SINOPSIS Hwarang Episode 6 Bagian 2"

  1. Kelihatanya ada secret of birth nya di drama ini

    ReplyDelete
  2. Tq bak puji,, ud c4 bnget updatex. Suka bnget neh filmx,ap lg ekspresix si sun wo pas senyum2...😄 gambarx jg bxak,,smg tmbh semangat ya...

    ReplyDelete
  3. Setuju mba..
    Aku juga udah nonton 1N2D yg episode itu emang rame .. hehe
    Semangat ya mba bikin sinopsisnya selalu di tunggu.. :)

    ReplyDelete
  4. Makin seru makin penasaran sm smua jalan ceritanya,antara raja atau sun woo yg bakal jadi sm a ro,trus sun woo itu sebenernya siapa?aku sempet mikir apa sebenernya yg raja itu sun woo?,atau sun woo anaknya dr ui wa?,bikin kereget msh bnyk misteri.untuk mba puji thx sinopsisnya tetep semangat y :)

    ReplyDelete
  5. Aku juga curiga, jangan2 anak ratu tuh Sun Woo. Kan waktu episode 1 ada flashback yg ratu minta tolong An Ji tuk nolong ratu dan anaknya.

    ReplyDelete
  6. Nampaknya Sun Woo yang anak ratu, tapi.. ah entahlah masih banyak misterinya drama ini. gomawoyo sinopsisnya, FIGHTING mba :-)

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Sun woo psti pux gelar yg lbih tggi,
    Walau ratu dah pernah tunangan dlu,
    Tpi bisa ap dgn titah raja....

    Pasti a ro san sun woo,
    Aku mlah berasa sun woo, raja???
    Hahahahahah

    ReplyDelete
  9. ayo dong min sinopsis eps 7 nya udh ga sabar nih

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^