SINOPSIS Hwarang Episode 7 Bagian 2

SINOPSIS Hwarang Episode 7 Bagian 2
Sumber gambar dan konten: KBS2

A Ro khawatir harus bertemu kembali dengan Tuan Mesum alias Ji Dwi. Tapi kalau dia memilih pergi dari sini, ia tidak akan bisa membayar hutang. A Ro meneguhkan hatinya supaya tetap bertahan. Tapi bagaimana kalau kakaknya tahu? Semua akan menjadi rumit.


Sun Woo tiba-tiba datang menghadang A Ro. Sontak A Ro menghindarinya, ia beralasan ingin menemui Pi Joo Ki. Sun Woo sigap menghalangi A Ro dan mengunci lehernya di lengannya. Tapi baru melihat reaksi A Ro yang kehabisan nafas sudah membuat Sun Woo tidak tega dan melepaskan tangannya. Ia seharusnya mengacak-acak rambut A Ro seperti ajaran Soo Ho, tapi nyatanya dia cuma menekan-nekan kepalanya dengan lebut. Wkwkwk.

Suasana menjadi canggung, Sun Woo cepat-cepat kabur sambil meyakinkan diri jika apa yang ia lakukan itu natural.

A Ro menatap kepergian Sun Woo dengan aneh, apa yang barusan dia lakukan? Apa dia melakukan akupressur?

Mengingat kedekatan antara Ji Dwi dan A Ro membuat beban pikiran bagi Ratu Ji So. Ia bertanya pada pelayannya apakah Ahn Ji sudah datang? Pelayan mengatakan jika Ahn Ji Gong sudah datang. Ratu Ji So tampak pucat, ia hampir terhuyung jatuh karena pusing.


Sesampainya di ruangannya, Ratu Ji So tidak bisa lagi menahan pening dikepalanya dan jatuh pingsan. Beruntung Ahn Ji Gong sigap menahan kepalanya supaya tidak jauh ke lantai. Ahn Ji pun merawatnya tapi disaat melihat Ratu Ji So tidak sadarkan diri, terbersit pikiran jahat untuk melukainya. Seseorang dihadapannya dengan mudah bisa membunuh seseorang dalam hitungan detik.

Perlahan kesadaran Ratu Ji So kembali pulih, ia berkata jika dia memanggil Ahn Ji bukan untuk mengobatinya. Ahn Ji Gong menyuruh Ratu untuk tidak berbicara dengannya. Ia pun menancapkan jarum akupuntur dipergelangan tangannya.

FLASHBACK


Ahn Ji Gong mengakupuntur Ratu Ji So supaya dia lebih tenang. Ratu Ji So mengajak Ahn Ji untuk kabur bersamanya meninggalkan Silla. Ahn Ji Gong menolak karena dirinya sudah berkeluarga. Ratu Ji So yakin jika Ahn Ji menikah dengan istrinya hanya untuk membalaskan dendam padanya.

“Nasi sudah menjadi bubur.”

“Maksudmu kau menolak permohonanku gara-gara pelayan bisu itu?”

Ahn Ji menegaskan jika pelayan yang dimaksud oleh Ratu Ji So itu adalah istrinya. Ratu Ji So mulai menangis, apakah dia benar-benar akan meninggalkannya? Dia akan tetap membiarkannya menikah dengan pamannya yang usianya sudah 60 tahun?

“Kaulah yang meninggalkanku.” Ujar Ahn Ji.

Ahn Ji berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ratu Ji So. Ratu Ji So memperingatkan kalau sampai dia melepaskan tangannya, maka ia akan menyesal.

“Kaulah yang akan menyesal.” Ucap Ahn Ji melepaskan tangan Ratu Ji So.
FLASHBACK END


“Bagaimana aku tahu kau tidak akan membunuhku?” tanya Ratu Ji So.

Tiba-tiba Ahn Ji menatap Ratu Ji So tajam kemudian menyentuh wajahnya dengan khawatir. Ratu Ji So sampai terkejut namun Ahn Ji bergegas menjauh. Dia sakit karena buruknya sirkulasi darah, dia akan segera membaik. Ahn Ji bersiap pergi.

“Dia mirip dengan ibunya. Putrimu bekerja sebagai tabib di Rumah Hwarang.” Ujar Ratu Ji So.


Ahn Ji berbalik dengan terkejut. Bagaimana rasanya dia selalu mengontrol seseorang? Ratu Ji So santai, apakah hidupnya juga ingin dikontrol olehnya? Ahn Ji menatap Ratu Ji So dengan benci, dalam batinnya dia berjanji akan menemukan cara supaya bisa merenggut sesuatu darinya.

Yeo Wool terus mengganggu Sun Woo yang sedang belajar. Dia menyuruhnya supaya tidak buang-buang tenaga karena dia akan menjadi orang pertama yang akan keluar dari asrama Hwarang. Selain dia (Yeo Wool melirik Ban Ryu), Sun Woo juga akan sulit bertahan disini.

Sun Woo lama-lama kesel juga, jangan ikut campur lagipula dia juga tidak tertarik dengan Yeo Wool. Yeo Wool langsung memegangi dadanya yang terasa nyeri akibat ucapan menusuk Sun Woo.


Soo Ho mengingat tugas mereka tentang Raja dan Air. Tapi ngomong-ngomong, sebenarnya dimana Raja berada? Ban Ryu menanggapi sinis, mereka tidak membutuhkan Raja tanpa wajah yang lemah. Dia tidak bisa disebut sebagai seorang Raja.

“Tidakkah orang-orang memberitahumu bahwa kau seperti pohon? Kau memang seperti pohon cemara yang selalu kasar.”ejek Soo Ho.

Ji Dwi termenung mendengar kata lemah yang diucapkan oleh Ban Ryu. Ia kembali teringat dengan gambar anak burung yang dibuatkan A Ro.
Sedangkan Sun Woo juga diam, ia kembali teringat akan ucapan Mak Moon sebelum kematiannya. Dia mengaku melihat wajah Raja dan meyakinkan jika ia tidak berbohong.


Hari ujian tiba, semua anak ribut mempersiapkan contekan mereka dan menyembunyikannya diberbagai tempat. Yeo Wool cuma bisa bergumam tidak menyukai cara mereka. Soo Ho tiba-tiba menyentuhnya dan menempelkan contekan dipunggungnya.

“Kenapa kau tidak menghentikan dia?” tanya Yeo Wool padan Han Sung.

Meskipun kelihatannya pintar, Han Sung juga sudah menyiapkan punggung Soo Ho sebagai tempat menempelkan contekan. Dia pun tersenyum polos tanpa mengatakan apapun. Yeo Wool memperhatikan tampang sempurna Soo Ho tapi sangat disayangkan.

“Aku tidak sesempurna itu.” Ucap Soo Ho membenahi rambut panjangnya.

“Apa yang terjadi pada Dog-bird jika dia tidak lulus?” tanya Han Sung.

Mereka bertiga memperhatikan Sun Woo yang sedang belajar sungguh-sungguh. Mungkin kalau gagal, dia akan kehilangan satu kesempatan dari tiga kesempatannya.


Ui Hwa sudah berada di aula dan memberikan ceramah pada anak didiknya sebelum menjalankan ujian. Kalau mereka ingin memanjat sesuatu maka mereka harus melindungi apa yang berharga bagi diri mereka. Kalau ingin bertahan, ia berharap mereka bisa lulus dari ujian ini.

Ujian pun dimulai, anak-anak langsung bergegas membuka contekan mereka. Ui Hwa tersenyum menyadarinya, dia menyuruh mereka untuk tidak mencontek.

Sun Woo terlihat tenang menuliskan beberapa karakter, ia tampak memikirkan apa yang akan ia tuliskan dengan serius.

Ji Dwi tampaknya sudah menyelesaikan tugasnya. Ia tinggal berdiam melihat anak lain mengerjakan soal mereka.

A Ro mengkhawatirkan Sun Woo dan membuat lubang di pagar supaya bisa mengintip. Dia sangat berharap supaya Sun Woo bisa lulus dari ujian ini. Namun baru beberapa saat mengintip, seseorang sudah datang menegurnya. A Ro pun buru-buru kabur secepat kilat.

Ujian telah usai, Ui Hwa memisahkan antara jawaban yang mencontek dan jawaban yang bukan hasil contekan. Dari beberapa lembar kertas, baru Ban Ryu yang jawabannya lolos. Ia kemudian menunjukkan dua lembar jawaban yang hanya berisi tiga karakter saja dan satunya lagi cuma lembar kosong. Ia meminta siapa yang bertanggung jawab atas jawaban itu untuk menunjukkan diri.

Ji Dwi dan Sun Woo bangkit dari duduknya. Ui Hwa bertanya, apakah mereka berdua berencana untuk gagal ujian? Atau mungkin ini ide cemerlang?

Ji Dwi menyedekapkan tangannya percaya diri, menurutnya Lao Tzu tidak akan menjawab pertanyaan ini dengan sebuah tulisan karena dia menentang adanya pemaksaan.

“Apa kau sependapat?” tanya Ui Hwa pada Sun Woo.

Tidak. Sun Woo hanya tidak bisa menuliskan apa yang ingin ia katakan dengan tepat. Maka ia ingin menyampaikannya lewat ucapan.

Ji Dwi maju duluan untuk menjelaskan makna lembar kosongnya. Hukum Silla didasarkan pada tingkatan kebangsawanan. Jalur air. Hukum adalah jalur air (ini permainan kata). Jadi aliran alaminya ditentukan oleh alam. Tapi jalur air tidak tersebar merata. Sebagian tanah mengering saat yang lainnya dilimpahi air, itu tergantung aliran air ditempat mereka. Ada harmoni dan kekuatan kosong yang tidak bisa terusik. Disanalah terdapat hukum raja dan jalur raja.

Omong kosong! Sela Sun Woo. Kebangsawanan menggunakan rendah hati sebagai akarnya dan ketinggian untuk mengukur kerendahan dasarnya. Itu tidak lebih dari sebuah omong kosong. Ui Hwa mengernyit, apa dia menganggap ajaran Tao Tae Ching adalah omong kosong?

Sun Woo melanjutkan penjelasannya, air mengalir dari jalur tinggi ke rendah. Lalu dari manakah tempat air rendah mencari tempat mengalir? Bukan hanya jalur mengalirnya saja tapi seharusnya lahan yang kering pun diberi air untuk membasahinya. Sun Woo tidak menemukan jawaban dalam buku Tao Tae Ching. Tidak ada jalur yang dimulai dengan jalur tapi seseorang harus berjalan lebih dulu diatasnya agar itu menjadi sebuah jalur. Kita harus menghantam dan menghancurkan tanah yang keras, serta membuat lubang agar air bisa mengalir melewatinya. Jika hukum mengabaikan tanah yang kering dan ada yang namanya jalur Raja maka Raja tidak seharusnya menjadi Raja.

Ui Hwa tersenyum mendengarkan jawaban Sun Woo, mungkin dia cukup puas akan jawabannya.

A Ro masih terus memikirkan nasib Sun Woo, ia memetik daun sambil terus bergumam lulus atau tidak. Joo Ki menghentikannya melampiaskan kekhawatiran dengan memetiki daun kecambah yang tidak bersalah, lagipula Sun Woo juga baru mulai belajar membaca dan menulis kemarin.

Ui Hwa memberikan cap pada jawaban yang lulus atau tidak. Soo Ho, Yeo Wool, Dan Sung tidak lulus ujian sedangkan Ban Ryu lulus. Ui Hwa juga mengecap lulus pada jawaban Ji Dwi, dia sebenarnya tidak begitu menyukai jawabannya hanya saja dia menjawab berdasarkan Tao Tae Ching.

Sedangkan Sun Woo gagal, bukan karena tidak suka tapi karena Sun Woo tidak menggunakan Tao Tae Ching sebagi dasar jawabannya, bahkan dia juga mengatainya omong kosong.


Ui Hwa menghampiri Sun Woo setelah aula kosong. Sun Woo hanya punya dua kesempatan lagi, tapi dia yakin kalau hasilnya akan tetap sama. Ia menyarankan supaya Sun Woo tidak membuang energinya.

Tak berselang lama, Ui Hwa sudah memancing di kolam sambil mengingat ucapan Sun Woo di aula. Ji Dwi tiba-tiba muncul dan meminta penjelasan kenapa Ui Hwa tidak meloloskan Sun Woo? Bukankah dia membenci arogansi kaum atas dan mengutamakan rakyat.

Ui Hwa tertawa menyambut kedatangan keponakan palsunya. Dia bertanya bukankah sebelumnya Ji Dwi ingin menurunkan Ibu Suri Ji So, lalu bagaimana dia akan melakukannya? Dan apa yang bisa dilihat dari raja yang berada dibawah?


“Mungkin dia bisa melakukannya.” Jawab Ji Dwi.

“Kau sepertinya terlalu banyak berharap.”

“Bukankah anda begitu? Bukankah itu sebabnya kau menentang Wali Kuasa Ibu Suri?”

Ui Hwa sama sekali tidak berharap pada anak kecil yang selalu bersembunyi dan tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Apa yang bisa ia lakukan ketika kembali? Raja muda tidak berguna tidak akan bertahan ditengah pejabat licik. Ibu Suri tidak punya alasan untuk berkuasa kembali dan Raja yang belum siap akan menjadi bencana bagi Silla. Itulah alasannya membentuk Hwarang untuk melindungi masa depan Silla.

A Ro menemukan lembar jawaban yang akan dibakar. Dia terkejut mendapati jawaban kakaknya tidak lulus dan lembar kertas kosong milik Ji Dwi malah di cap lulus. Dia yakin kalau  ini adalah tindakan nepotisme.

Ia menghadang Ui Hwa yang berlarian ingin ke toilet. A Ro menghadangnya tanpa membiarkannya lewat. Bagaimana bisa dia melindungi keponakannya dan menyalahgunakan wewenang? Dan kenapa jawaban bijak seseorang yang baru belajar menulis malah tidak lulus?

Masa bodo, Ui Hwa ingin cepat-cepat pergi dan buang air. A Ro tidak mau membiarkannya, dia berniat mengatakan pada para pejabat jika dia sudah memata-matai anak pejabat di ibukota untuk dijadikan Hwarang. Mereka akan mengatakan kalau ini adalah penyelidikan ilegal dan mereka akan berusaha meniadakan Hwarang.


Ui Hwa berubah tenang dan wajah tersiksanya berubah lega. Ia bertanya, apa yang diinginkan oleh A Ro?

“Jangan lakukan itu lagi. Anda mengerti.” Ucap A Ro kemudian pergi. Ui Hwa cuma bisa tersenyum dan memutuskan untuk kembali ke ruangannya. Saat berjalan, jejak sepatu Ui Hwa terlihat basah. Dia sudah ngompol dicelana rupanya. LOL
A Ro mengembalikan 20 keping emas pada Ji Dwi. Dia menghapus tanda bulan sabit ditangannya dan berharap supaya mereka tidak bertemu lagi. Tapi sebelum pergi, A Ro heran kenapa Ji Dwi harus susah-susah minta diajari menulis padahal dia sudah punya koneksi yang bisa meluluskannya? A Ro menyesal tidak mengajari kakaknya karena Ji Dwi menganggu acaranya belajar dengan Sun Woo.


“Maksudmu, kau memikirkan aku dan tidak bisa memperhatikan kakakmu? Ini hal paling menyenangkan yang pernah kudengar.”

A Ro menatap Ji Dwi, sebenarnya dia merasa kasihan dengan Ji Dwi yang tampak kesepian. Ia kasihan karena dirinya juga merasakan hal yang sama. Ji Dwi menatap A Ro dengan tatapan serius, ia bertanya apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia lakukan agar bisa kembali bertemu A Ro? Saat menatapnya, Ji Dwi merasa tak berdaya dan itu membuatnya gila.

“Berhenti bercanda...”

“Aku menyesal soal siapa diriku dan apa yang harus kulakukan. Aku hanya memikirkanmu.”

Tanpa keduanya sadari, Sun Woo memperhatikan mereka dari kejauhan.

Park Young Shin dan Tuan Ho sudah berdiri didepan asrama Hwarang. Penjaga Asrama datang kemudian memberikan surat yang diberikan oleh Ui Hwa. Sepertinya mereka berdua berusaha untuk mengajaknya bertemu tapi Ui Hwa menolak dengan menulis “Mari kita minum-minum tiga puluh tahun kemudian.”

Park Young Shil tertawa saja menanggapinya. Tidak apa-apa, toh masih ada tempat yang harus ia kunjungi.

Tempat yang dimaksud Park Young Shil adalah kediaman Ahn Ji Gong. Saat diperiksa, Tuan Park membahas anak Ahn Ji Gong yang sudah berhasil diketemukan. Ia mengucapkan selamat karena putranya menjadi anggota Hwarang bahkan Ratu sendiri yang memilihnya.

Ahn Ji Gong tidak merespon ucapan Tuan Park, dia hanya mengatakan hasil pemeriksanaan kesehatannya dan akan memberikan resep obat. Dia juga akan melakukan akupuntur padanya.


“Konon, kecemburuan wanita membuat salju jatuh pada musim panas. Waktu sudah lama berlalu tapi kebenciannya belum memudar. Kau pasti tahu betul, kita melihat pemandangan yang sama.” Ucap Tuan Park.

Ahn Ji Gong terdiam ditempatnya berdiri, ia mengerti akan maksud ucapan Tuan Park.

A Ro bertanya-tanya apakah Ji Dwi benar-benar menyukainya? Kalau dipikir-pikir, sebenarnya dia itu lumayan juga. Cukup kaya dan pasti sudah mempelajari banyak hal tentang tiongkok. Secara objektif sih tidak buruk lah. A Ro menggelengkan kepala, apa sih yang dipikirkannya hari ini?

“Ada apa dengan hari ini?” tanya Sun Woo muncul dibelakangnya.

“Ini bukan hari yang spesial.” Jawab A Ro sempat kaget.


Sun Woo menyuruhnya untuk pulang bersama dengan Pi Joo Ki lewat jalan besar. A Ro membahas masalah ujian Sun Woo dan katanya mereka semua gagal. A Ro menyuruhnya jangan kecewa karena Tuan Ui Hwa yang aneh memberikan tugas itu, bukan kakaknya. Jawaban kakaknya cukup baik kok.

Sun Woo mengusap kepala A Ro dengan canggung dan menyuruhnya pergi. Sebelum pergi, A Ro memberitahukan jika hari ini adalah peringatan kematian ibu mereka. meskipun begitu, ia meminta Sun Woo tidak usah memikirkannya.  A Ro sudah biasa melakukannya sendiri.

Han Sung bergabung dengan anak-anak kamar Sun Woo dan duduk disebelah Yeo Wool. Yeo Wool heran kenapa dia ikut dimeja mereka. Han Sung bilang kalau dia lebih nyaman bersama mereka lagipula mejanya jadi pas berisi enam orang.

Ban Ryu langsung menatap Sun Woo marah, dia kan sudah memperingatkan supaya tidak makan se -meja dengannya lagi. Yeo Wool membela Sun Woo, dia menyuruh Ban Ryu tidak usah terlalu sombong karena sudah lulus ujian. Menurutnya dan menurut anak-anak lain, jawaban Dog-bird lebih bagus ketimbang dia.

Sun Woo kelihatan tidak bersemangat dan bertanya apakah peringatan kematian adalah sesuatu yang penting. Soo Ho bertanya, kematian siapa?

“Dia bilang ibu kami.”

Han Sung menyarankan supaya Sun Woo pulang saja ke rumah lagipula mereka sudah tidak punya tugas apapun lagi.

Malam harinya, anak-anak sudah bersiap untuk tidur. Sun Woo masih terfikirkan dengan upacara kematian Ibu A Ro.

Soo Ho juga sepertinya tidak bisa tidur, dia kesal karena merasa asrama ini seperti penjara. Kenapa juga harus terkurung dan tidur bersama mereka padahal sudah menyelesaikan tugas? Yeo Wool turun dari ranjangnya dan menyarankan supaya mereka pergi saja meninggalkan asrama.

Ban Ryu langsung menghentikan mereka, jangan melakukan tindakan bodoh. Jangan buat mereka menderita hanya karena ulah keduanya. Soo Ho tidak memperdulikan ocehan Ban Ryu, dia tanya apakah Yeo Wool punya rencana? Dia yakin kalau Yeo Wool tidak akan bertindak sembrono.

Yeo Wool mengaku sudah membuka jalan untuk mereka. Sebelumnya, dia baru saja bertemu dengan Ui Hwa dan memberikan arak tiongkok yang sangat manjur. Ui Hwa sangat berterimakasih menerima hadiah yang ia berikan.

Tidak lama kemudian, Ui Hwa dan asistennya sudah tidak sadarkan diri.

Yeo Wool menyarankan mereka semua untuk pergi lagipula kalau tidak pergi dan salah satu dari mereka ketahuan, mereka akan tetap mendapatkan hukuman. Dia menyuruh Ban Ryu untuk mengadu saja tapi mengadulah saat mereka semua sudah pergi.

Yeo Wool, Soo Ho, Ji Dwi dan Sun Woo keluar meninggalkan kamarnya. Mereka berjalan mengendap-endap dan dikejutkan dengan kehadiran penjaga asrama yang belum mabuk sama sekali.


Tapi setelah diperhatikan, Penjaga Sekolah berjalan tegap tapi tidak memandang jalanan. Ia bahkan menubruk tiang dan langsung menyerang tiang tersebut. Lol. Mereka berempat tersenyum senang dan akhirnya berhasil lolos juga. Mereka berjanji bertemu jam 3 pagi kemudian masuk ke asrama bersama-sama.

Ban Ryu yang awalnya menentang keras pun akhirnya ikut ngabur juga.

Ji Dwi bersiul. Sontak Pa Oh muncul entah dari mana, ia khawatir dengan Ji Dwi yang keluar tengah malam tanpa penjagaan. Dia menyuruhnya supaya tidak bergaul dengan anak-anak tidak benar. Ji Dwi menyuruh Pa Oh untuk diam dan memintanya menunjukkan jalan menuju rumah.

Pengawal Ratu datang menyerahkan sekuntum bunga. Ratu Ji So memandangi bunga tersebut, bunga ini bukan bunga yang tumbuh disekitar istana. Ratu Ji So terdiam menyadari sesuatu.


Ia menemui Ji Dwi yang duduk di singgasana. Seperti biasa dia menegurnya, apa yang dia lakukan disana? Ji Dwi mengaku kalau dia hanya duduk sebentar saja.

“Kau pikir, kau punya kekuatan untuk mempertahankan kursi itu?”

“Tidak. Seperti yang ibu katakan kalau aku terlalu kecil dan lemah.”

Ratu senang mendengar Ji Dwi mengatakan hal itu, jadi sekarang dia harus meninggalkan Hwarang. Jika dia pergi dengan tenang maka ia akan mengurus segalanya. Ji Dwi menolak, semakin dia menunggu maka Ratu Ji So akan semakin kuat. Seperti anak yang belum bisa berjalan, anak itu harus berlatih untuk tumbuh kuat.

Ji Dwi ingat ucapan Sun Woo yang berkata jika Raja harus membuat jalan agar air mampu menerobos menuju lahan yang kering. Kalau dia tidak bisa melakukannya, maka tidak ada jalur Raja dan Raja tidak seharusnya menjadi Raja.

“Aku harus berlatih berjalan untuk mengambil jalur seorang Raja. Aku akan menjadi lebih kuat dalam Hwarang.” Ucap Ji Dwi pada Ratu Ji So.

A Ro dan Ahn Ji Gong melakukan upacara didepan rumahnya. Mereka berdua melakukan ritual kemudian memanjatkan doa. Sekarang mereka telah menemukan kakak sehingga A Ro berharap supaya Ayah tidak merasa bersalah lagi pada Ibu.

“Baiklah. Ayah tidak akan merasa bersalah.”

A Ro juga penasaran kenapa saat pertama datang ke rumah mereka, tubuh kakak penuh dengan luka? Dia pasti habis mengalami sesuatu yang besar, apa yang sebenarnya terjadi?

Belum sempat menjawab, Sun Woo datang ke rumah. A Ro tersenyum bahagia menyambut kedatangannya. Sun Woo pun melakukan upacara peringatan kematian seperti apa yang mereka lakukan.


Ban Ryu sampai didepan kediaman Tuan Park. Dia tersenyum miris pada dirinya sendiri, dari sekian banyak tempat tapi kenapa dia malah datang ke tempat ini. Tidak lama kemudian, Tuan Park dan Tuan Ho tiba di depan rumah. Ban Ryu cepat-cepat bersembunyi.

Tuan Ho turun dari kudanya dan berniat memanggil pelayan. Tuan Park melarangnya membuat keributan tengah malam dan menyuruh Tuan Ho untuk menggantikan tugas pelayan. Tuan Ho paham, ia langsung berjongkok dihadapan Tuan Park dan Tuan Park menggunakan punggungnya untuk pijakan turun dari kuda.

Wah.. Ban Ryu pun terlihat sangat sedih karena Ayahnya diperlakukan semena-mena.

Soo Ho dan Yeo Wool keluar dari Okta tapi sepertinya Soo Ho tidak terlalu bahagia. Soo Ho berkata bahwa wanita di Okta masih setengah matang dan berasal dari kelas rendah. Ia pun langsung kepikiran Ratu Ji So yang mampu membuatnya terpesona dan tidak bisa berpaling.

Kontan dia menjadi jijik saat menyaksikan wanita-wanita gatel menggodanya.

Seo Yoon sedang memilih perhiasan di pasar. Tanpa sengaja ia melihat ada Soo Ho di kerumunan. Ia pun menggeleng menganggap kakaknya gila sudah meninggalkan asrama Hwarang tengah malam. Seo Yoon tersenyum licik, apa ini harinya? Hari untuk membalas kesedihannya selama ini?


Seo Yoon berjalan menghampiri Soo Ho yang membelakanginya. Ia meregangkan jarinya yang sudah gatal untuk balas dendam. Rasakan saja pembalasannya selama ini karena sudah dicekik setiap kali bertemu. Ia langsung memegang pant*t Soo Ho dengan penuh dendam.

Namun.. sayangnya.. saat berbalik ternyata dia bukanlah Soo Ho melainkan Ban Ryu. Ban Ryu mendelik kaget.

Kontan Seo Yoon menyilangkan tangan didepan dada sambil berteriak kaget “Kenapa kau melakukan itu padaku?”

Semua orang menatap mereka berdua. mereka bergunjing karena Tuan Ban Ryu telah melakukan tindakan tidak pantas pada Nona Seo Yoon. Ban Ryu melongo kebingungan, memangnya apa yang sudah ia lakukan?


Soo Ho melihat adiknya ditengah kerumunan bersama Ban Ryu dengan ketakutan. Mendengar kakaknya mendekat, Seo Yoon makin panik dan menampar Ban Ryu. Soo Ho menghampiri mereka dengan sangat amat marah. Ia menjagal Ban Ryu sambil menuduhnya sudah mengganggu adiknya dengan sengaja.

Seo Yoon mencoba menjelaskan tapi Soo Ho tidak mau tahu. Dia menyuruh Seo Yoon diam, biar dia yang menangani Ban Ryu hari ini. Dia akan membunuhnya.


Soo Ho menemukan sesuatu untuk memukulnya. Tapi belum sempat memukul Ban Ryu, Seo Yoon sudah duluan memukul kepala Soo Ho sampai pingsan. Seo Yoon lebih mengkhawatirkan Ban Ryu, dia mengelus wajahnya yang kena tampar dan meminta maaf.

Sun Woo jalan-jalan dengan A Ro, dia mengaku memanjat dari pagar untuk keluar asrama. A Ro khawatir, jangan katakan kalau dia menyerah setelah sekali gagal ujian. Sun Woo tidak menyerah, dia akan segera kembali sebelum ketahuan.

“Lalu kenapa Kakak repot-repot keluar?”

“Kau bilang ini hari kematian ibu.”


A Ro dengan sedih berkata bahwa sebenarnya hari ini adalah hari kelahiran ibu. Dia tidak tahu kapan ibunya meninggal jadi mereja menjadikan hari lahirnya sebagai hari kematiannya. A Ro mengaku senang karena punya kakak dan kakaknya berada disampingnya sekarang. Sebenarnya, ia merindukan wangi ibu. Setiap malam, Ibu selalu membelai rambutnya dan suara burung menjadi lagu pengantar tidur.

“Kenapa? Apa Ibu tidak pandai bernyanyi?”

A Ro menghentikan langkahnya dengan sedih “Ibu tidak bisa menyanyikan pengantar tidur untuk kita karena dia orang bisu yang tidak bisa bicara.”

Sun Woo terkejut, dia mematung ditempatnya berdiri menatap A Ro yang mematung dengan sedihnya.

-oOo-

7 Responses to "SINOPSIS Hwarang Episode 7 Bagian 2"

  1. asli ngakak liat ekspresi sohoo sma ban ryu😁😁 sooyeon bner2 yah😂😂😂

    ReplyDelete
  2. Ceritanya menghibur,dan di tunggu kelanjutan nya...

    ReplyDelete
  3. dramanya LOL banget 😃😃😃😃

    ReplyDelete
  4. Keren....tpi msih panasaran sama identitas nya sun wo

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR