SINOPSIS Solomon’s Perjury Episode 4 Bagian 1

SINOPSIS Solomon’s Perjury Episode 4 Bagian 1
Sumber gambar dan konten: jTBC

Yang lain menunggu Seo Yeon diluar ruang ganti Ji Hoon.


Ji Hoon mengaku kalau dia tidak mengenal So Woo. Jawaban Ji Hoon semakin membuat Seo Yeon heran, bukankah sangat aneh jika orang asing membantu. Memang apa untungnya untuk Ji Hoon? Kenapa dia harus terlibat dalam perkara ini?

Ji Hoon mengulang ucapan Seo Yeon dalam video yang mengajak teman-temannya mengungkapkan kasus Lee So Woo sendiri. Ketulusan Seo Yeon –lah yang telah membuatnya tersentuh.

Yoo Jin dan Soo Hee langsung menyambut Seo Yeon saat ia keluar dari ruangan. Ia meminta maaf karena melakukan tindakan ini, mereka hanya berniat memberikan kejutan. Tetap saja Seo Yeon agak jengkel, kenapa sampai memblokir akun –nya segala? Itu membuatnya sangat khawatir.

“Jadi apa yang kau lakukan? Apa dia ikut?” tanya Seung Hyun.

“Aku ikut.” Ujar Ji Hoon.

Yoo Jin kegirangan sampai memeluk Soo Hee.

Ji Hoon menghampiri Joon Young memperkenalkan dirinya. Joon Young menyalami tangan Ji Hoon dan balas memperkenalkan diri.


Ibu Joo Ri membuat video pengakuan bersama dengan Joo Ri. Ia mengungkapkan bahwa Joo Ri hanyalah seorang siswa yang membantu temannya yang sudah menyaksikan kejadian pembunuhan. Tapi seorang orangtua pembunuh malah menuntutnya. Polisi telah datang kerumah mereka dan menekan gadis berusia 19 tahun. Teman sekelompoknya juga menyerangnya. Mereka juga menyeret putrinya untuk terlibat dalam perkara terbuka, putrinya kembali syok dan tidak bisa bicara.

Joo Ri meneteskan air mata.

“Di sisi lain, murid bernama Choi, yang membunuh teman sekelasnya tidak tersentuh sama sekali.” Tambah Ibu.

Joo Ri menegakkan kepalanya saat mendengar ibu. Ia membuat gerakan ambigu dengan kepalanya (seperti menggeleng) tapi sangat lemah.

Seo Yeon cs membawa tumpukan surat persetujuan yang sudah ditanda tangani, totalnya 525. Yoo Jin meletakkan surat persetujuan dari kepala sekolah atas klub yang akan bertugas untuk mengungkapkan kasus ini. Wakil Kepsek tampak kelabakan, dia tidak menduga jika mereka berhasil mengumpulkan syarat yang ia minta.


Guru BK memberitahukan kepada guru lain jika anak-anak menuntut dibentuknya sebuah klub perkara terbuka. Ia meminta kesukarelaan guru yang mau menjadi penanggung jawab klub. Tidak ada satu pun guru yang rela meluangkan waktunya, sebentar lagi libur dan ujian sudah ada didepan mata. Guru BK senang, ia akan melaporkan pada Wakil Kepsek.

“Aku akan melakukannya.” Ucap Bu Kim. Dia mau menjadi penanggung jawab klub sidang terbuka.

Bu Kim bersama dengan Seo Yeon cs, mereka begitu senang salah satunya Seung Hyun yang berceloteh terus tanpa henti. Bu Kim meminta mereka untuk tidak puas dulu, klub memang diresmikan tapi perjuangan mereka baru dimulai. Lebih baik mereka bersiap.

“Tapi, perjuangan itu juga kami yang menginginkannya.” Ujar Seo Yeon. Bu Kim tersenyum menghargai keberaniannya.


Bu Kim mengantarkan mereka ke gudang yang penuh jaring laba-laba dan debu. Mereka ketakutan melihat ruangan itu horor. Seo Yeon dengan bersemangat mengajak mereka membersihkan seisi ruangan kemudian makan bersama untuk merayakan peresmian klub.

Ucapan Seo Yeon membuat mereka semangat. Membuang debu, membenarkan saluran listrik, mengepel sampai akhirnya ruangan layak untuk digunakan. Pekerjaan pertama terselesaikan.

Ji Hoon berjalan dengan terburu-buru menuju rumah So Woo. Sesampainya disana, ia menemukan So Woo sedang marah, ia mengobrak-abrik kamarnya sendiri dan buku-buku bertebaran dilantai. Ji Hoon menghampirinya dengan khawatir, apa yang telah terjadi?

So Woo tidak menjawab, ia hanya memberikan tatapan tajam pada Ji Hoon.

Ji Hoon terbangun dari mimpinya dengan nafas tidak beraturan. Ia mengecek ponsel dan melihat pesan Seo Yeon, akan ada rapat pertama pukul 1 siang besok.


Tidak lama berselang, Ji Hoon mengetuk pintu ruang kerja ayahnya dan masuk kesana. Tuan Han tersenyum melihatnya, dulu waktu kecil Ji Hoon akan datang kesana saat mimpi buruk. Sekarang putranya sudah besar, apa dia mengalami mimpi buruk? Apa ada yang terjadi?

“Tidak.”

“Lalu apa yang sedang kau pikirkan?”

Ji Hoon bilang kalau dia akan bergabung dengan klub olah perkara terbuka. Ia ingin mengatakannya pada Ayah sebelum ada yang memberitahunya. Tuan Han berbicara dengan lembut mengatakan bahwa So Woo meninggal bunuh diri. Dia sudah tidak ada lagi di dunia ini dan Ji Hoon harus menerima kenyataan.

“Bukan seperti itu. Aku tidak suka mereka terus membicarakan dia.” Ucap Ji Hoon. Sebelum pergi, Tuan Han bertanya apakah So Woo mengatakan sesuatu padanya. Ji Hoon terdiam.

“Bukan apa-apa. Tidurlah.” Ucap Tuan Han kemudian.

Keesokan harinya, Tuan Han menemui Wakil Kepsek. Wakil Kepsek meminta maaf karena tidak bisa menggagalkan keinginan siswa. Mereka diancam menggunakan video guru menampar murid dan setumpuk surat persetujuan. Setelah berkali-kali dipikirkan, Wakil Kepsek rasa tidak ada alasan kuat untuk menutup klub mereka.

Tuan Han meletakkan buku peraturan sekolah. Pasti ada satu jalan, kalau memang tidak ada jalan maka mereka bisa membuat jalan baru. Tambahkan peraturan baru dan hentikan klub –nya. Kasus So Woo tidak boleh digali terlalu dalam atau masalah akan semakin rumit.

Anak-anak mulai kewalahan melihat tugas yang harus mereka lakukan. Seung Hyun yakin kalau Soo Yeon punya kekuatan ajaib sehingga bisa hadir dalam setiap kelas dengan mempermainkan waktu.

Ji Hoon datang. Seo Yeon memberitahukan bahwa deadline sampai bulan maret. Ia telah membagi jadwalnya. Ji Hoon melihat jadwal yang disusun Seo Yeon “Terlalu lama. Majukan saja hari pertama olah perkaranya.”

Seo Yeon menyarankan supaya mereka tidak terburu-buru hanya karena dikejar deadline. Tapi Ji Hoon mempertegas bahwa sekolah tidak menyetujui apa yang mereka lakukan, sejak awal sampai sekarang (jadi mereka harus menyelesaikannya sebelum sekolah berhasil membubarkan mereka).

Yoo Jin tidak sependapat kalau harus memajukan tanggalnya, apalagi mereka belum siap dan mungkin mempermalukan diri sendiri. Soo Hee sependapat, banyak yang sedang mencari kesalahan fatal diantara mereka.

Tapi bagi Ji Hoon, itu lebih baik daripada mereka tidak punya kesempatan sama sekali. Sekolah sebelumnya tidak merespon sama sekali tapi kemarin mereka berubah pikiran dan memberikan tenggang waktu. Ia yakin mereka melakukan rapat internal. Mungkin hari ini mereka tidak memberikan tekanan tapi mereka tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Waktu persiapan olah perkara adalah waktu bagi mereka untuk mencari alasan membatalkannya. Jadi mereka tidak boleh memberikan banyak waktu bagi sekolah. Lebih baik bergegas melakukan olah perkara pertama dan melakukannya dengan se-realistis mungkin.

Mereka hanya perlu membuang beberapa hal yang cuma formalitas saja, seperti prosedur dan peraturan sidang. Yang perlu mereka tekankan adalah tiga hal: pertama, ada tidaknya alibi yang dimiliki Woo Hyuk saat malam insiden. Kedua, apakah Woo Hyuk memiliki motif untuk membunuh So Woo. Ketiga, menemukan kebenaran dari surat tuduhan.

Seo Yeon tidak memberikan keberatan sama sekali, ia menggeser note yang telah dirancangnya dan memajukan beberapa hal. Yang terpenting sekarang mereka harus membuat Woo Hyuk hadir dalam sidang. Yoo Jin menyarankan supaya membawa Lee Sung Min dan Kim Do Hyun karena mereka berdua juga tercatat dalam surat.

Joon Young rasa mereka hanya perlu mendatangkan Woo Hyuk. Joon Young kurang pede mengungkapkan pendapatnya “Karena dia yang mendorongnya.” Ucapnya lirih.

Ji Hoon membenarkan. Akan semakin mudah jika hanya Woo Hyuk yang datang. Tapi menyebut nama Woo Hyuk saja sudah membuat mereka pesimis, dia kan seperti gangster.

Ji Hoon menawarkan diri, ia yang akan membawa Woo Hyuk ke persidangan. Seo Yeon juga siap untuk mendatangkan Joo Ri sebagai saksi kunci.

“Mulai? Kita bahkan belum menentukan hakimnya!” ujar Yoo Jin. Soo Hee menatap mereka dengan percaya diri, dia tahu orang yang tepat untuk masalah ini.

Soo Hee dan Seo Yeon menyeret Yoo Jin untuk membujuk Min Suk. Dengan terpaksa Yoo Jin pun masuk ke kelas menemui Min Suk. Seo Yeon masih sangsi, apakah ini akan berhasil? Soo Hee mengibaratkan mereka berdua seperti drama komedi romatis. Saling memanggil nama dan terus bertengkar. Apa yang mereka katakan bukanlah apa yang mereka rasakan.

“Tidak mungkin! Yoo-jin and Kim Min-seok?” Seo Yeon kedip-kedip merasa tidak masuk akal.


Tidak berselang lama, Min Suk keluar sambil memegangi pipinya dan buru-buru kabur. Soo Hee bertanya pada Yoo Jin, apa yang sudah Min Suk katakan?

Yoo Jin menggandeng lengan Soo Hee memperagakan apa yang sudah ia lakukan. Ia mengajaknya untuk melakukannya bersama (mengungkapkan kasus So Woo). Dengan mudah Min Suk menjawab, baiklah.

“Sisi berlawanan itu tarik menarik.” Ucap Soo Hee pada Seo Yeon. Hehehe.


Seung Hyun memperingatkan kedua rekannya untuk tetap berada di zona aman sampai jarak 500 meter dari Woo Hyuk. Bus datang, Joon Young dan Seung Hyun naik tapi Ji Hoon masih berdiri ditempatnya. Apa dia tidak naik?

Ji Hoon meminta maaf, dia mau pergi ke suatu tempat. Seung Hyun kesal karena mengira Ji Hoon meninggalkan mereka di medan perang. Joon Young hanya diam memperhatikan Ji Hoon pergi sendirian.

Woo Hyuk cs sedang membahas mengenai sidang yang akan dilakukan oleh Seo Yeon cs. Woo Hyuk menyuruh mereka untuk mengabaikannya saja. Apapun itu, abaikan saja. Dong Hyun dengan hati-hati berniat ingin membahas “malam itu..” tapi ucapannya terpotong karena Woo Hyun ingin pergi ke toilet.

Saat kepergian Woo Hyuk, Joon Young dan Seung Hyun sampai ke tempat bilyar menggunakan jaket yang menutupi setengah wajah mereka.

Dong Hyun heran kenapa Woo Hyuk masih suka j*d! Bilyar padahal dia orang kaya. Sung Min bertanya apakah Dong Hyun mencurigai dirinya dan Woo Hyuk? Dia bisa merasakannya apalagi saat Dong Hyun keluar terakhir saat detektif menemui mereka. Apa yang ia katakan pada detektif itu?

Dong Hyun mengelak namun Sung Min tidak mempercayainya dan menuntutnya untuk mengatakan yang sebenarnya. Dong Hyun akhirnya jujur kalau dia memang mencurigai mereka, mereka berdua pergi tanpa dirinya. Kematian Lee So Woo tepat terjadi saat mereka tidak bersamanya dan seseorang mengaku melihat mereka berdua (jelas saja Dong Hyun curiga).

Sung Min marah, dia lupa karena memang mabuk. Dong Hyun tidak percaya, memangnya dia bisa memastikan apa yang mereka lakukan? Sung Min benar-benar terpancing emosi dan menarik kerah bajunya.

Woo Hyuk kembali dan melihat mereka beradu, dia tidak suka melihat tangan kanan dan kirinya saling berkelahi.

-oOo-

2 Responses to "SINOPSIS Solomon’s Perjury Episode 4 Bagian 1"

  1. Makin seru. Ayo lanjut kak. Penasaran banget.
    Jangan lama2 donk.

    ReplyDelete
  2. Gak sabar nunggu setiap postingannya abis seru bgt SH...ayo yg semangat

    ReplyDelete

Jangan lupa komentar yaah^^ biar aku lebih semangat dalam membuat postingan. Meskipun jarang bales tapi semua komentar selalu aku baca kok.. *serius*

Gomawo^^

KOMENTAR